Diposkan pada Travelling, Uncategorized

Afirmasi Pergi Haji dari Jepang di Tahun 2018

Siapa yang tidak ingin pergi haji ke baitullah? Siapapun muslim pasti bersemangat dan ingin berkunjung ke rumah Allah tersebut. Dari sejak kecil hingga sekarang, selalu Mekkah dan Madinah adalah tempat pertama yang ingin saya kunjungi, jika harus pergi ke luar negeri. Namun ternyata Allah berkehendak lain. Allah menuliskan Jepang menjadi negara pertama yang saya kunjungi dalam mentadabburi dan mentafakkuri ayat kauniyah Nya di dunia ini.

Lalu mengapa saya ingin pergi ke Mekkah dan berhaji?

1. Berhaji adalah panggilan Allah

Haji adalah rukun islam yang kelima. Ibadah yang merupakan panggilan Allah. Jika rukun islam lainnya sangat erat dengan ibadah mahdoh (ibadah murni) yang langsung berhubungan dengan Allah, dan rata-rata butuh pengorbanan di bab niat saja. Contoh salat itu mudah. Tidak butuh uang dan materi yang besar, hanya membutuhkan niat kuat kita karena iman kepada Allah untuk senantiasa menjalankannya. Namun ibadah haji dapat dikatakan ibadah yang bersifat sosial dan kompleks. Nilai pahalanya hanya Allah yang tahu, dimana seorang yang sudah menjadi haji tidak tahu apakah dia layak atau tidak dipanggil haji yang mabrur. Ibadah haji pun bersifat panggilan. Seseorang yang kaya belum tentu terpanggil hatinya untuk mendaftar dan berangkat haji. Sebaliknya, seseorang yang serba kekurangan dari segi materi namun memiliki keinginan kuat untuk berhaji, malah dimudahkan berangkat. Selain itu, dibutuhkan fisik yang kuat untuk menjalankannya. Karena rangkaian ibadah haji memang banyak melibatkan kesiapan fisik, seperti berlari-lari kecil (sa’i) diantara Safa dan Marwah. Intinya butuh niat yang sangat kuat untuk melaksanakan ibadah ini. Niat yang kuat sudah pasti diiktiarkan, dan salah satu ikhtiarnya adalah sudah adanya tabungan untuk pergi ke sana.

Mekkah
Sumber: http://abulyatama.ac.id/?p=5928

يهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَّقَامُ إِبْرَاهِيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ – 3:97

Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam. (Al- Imran : 97 )

2. Kerinduan akan rumah Allah dan mengunjungi tempat bersejarah zaman nabi

Sejak kecil, mulai dari Madrasah Diniyah hingga Aliyah, mata pelajaran Sejarah Kebudayaan islam (SKI) menjadi hal yang sangat menarik untuk saya. Kisah perang Rasul dengan tentara Quraisy, perjuangan Siti Hajar dan Ismail untuk mencari sumber air, semua dikisahkan oleh para asatidz saya dengan ‘ruh’ yang memacu semangat saya untuk pergi ke sana. Tidak dapat dibayangkan rasa bahagia dan haru seandainya bisa datang dan beribadah di tanah kelahiran para Nabi, di mana umat islam seluruh dunia berkumpul untuk beribadah. (Ya Allah semoga keinginan hamba ini dikabulkanMu Ya Rabb)

3. Rangkaian ibadah haji menggambarkan bagaimana manusia itu tidak ada apa-apanya

Mulai dari ihram, kita menggunakan pakaian ihram serba putih, yang tidak dijahit (bagi laki-laki). Kain putih identik dengan kain kafan, pakaian kebesaran muslim yang meninggal. Ya, dengan menggunakan pakaian ihram ini kita diingatkan tentang kematian. Putih yang serba bersih, mengisyaratkan kita agar senantiasa membersihkan niat. Begitupu dengan wukuf di arafah. Padang gersang terbentang luas, semua muslim berkumpul. Menggambarkan miniatur kiamat kelak, dimana manusia akan dikumpulkan di padang arafah untuk menunggu kepastian hisab dari Allah.

Namun ternyata berhaji sekarang dari Indonesia semakin sulit. Hal ini dikarenakan kuota per provinsi yang terbatas, dan banyaknya muslim di Indonesia yang mendaftar ibadah haji. Jika memikirkan hal tersebut sering berpikir, bisa tidak ya saya pergi haji? Di keluarga, baru ibu dan teteh yang sudah ikhtiar mempunyai tabungan haji. Namun memang, daftar haji tahun ini tidak bisa langsung berangkat tahun itu pula di Indonesia.

Sekarang saya makin bertekad untuk bisa berhaji di tahun 2018, mengunjungi Mekkah di tahun 2018 ini. Mengapa? Selain karena tabungan dari beasiswa yang masih lumayan cukup, usia yang masih tergolong muda dan kuat untuk beribadah fisik ini, ternyata pergi haji dari Jepang memiliki prosedur yang cukup mudah. Tahun ini mendaftar, in sya Allah tahun ini pun berangkat. Karena jumlah muslim yang masih sedikit. Syarat yang paling utama adalah punya KTP Jepang, yang disebut residence card (alien card). Karena saya tinggal di sini untuk belajar, yaitu masa tinggal lebih dari tiga bulan, saya pun memiliki KTP Jepang ini. Dan masa berlaku KTP saya ini hingga akhir tahun ini. Semakin kuatlah rasanya saya ingin pergi haji dari Jepang.

KTP BR
Residence Card Jepang

Saya pun mencari informasi mengenai keberangkatan haji dari sini. Melalui website http://www.kmii-jepang.net/haji/faq-haji/ ternyata ada dua travel yang mengurus keberangkatan haji dari sini. Air 1 travel, travel nya orang Mesir dan Mian Travel yang merupakan travel orang pakistan. Lamanya perjalanan haji adalah sekitar 20 hari. Untuk tahun 2017 lalu, biaya haji dari Jepang sekitar 600,000 JPY atau sekitar 60 jutaan kalau dirupiahkan. Untuk tahun ini belum ada informasi terbaru. Mudah-mudahan keinginan kuat saya dikabulkan oleh Allah, untuk mengunjungi baitullah di tahun ini. Tidak ada salahnya kan untuk berazzam terlebih dahulu? Diapa tahu malaikat mengaminkan dan mencatatNya, sehingga Allah mengabulkannya. Dan saya berharap bisa berhaji bersama keluarga. Bersama Aa, Mama, teteh, deami, dan saudara-saudara lainnya. Aamiin 😀

Hiroshima, 22 Januari 2018

Semoga dicatat oleh malaikat dan dikabulkanNya 😀

#SatuHariSatuKaryaIIDN

 

Iklan

Penulis:

Hello, Assalamualaikum. My name is Novianti Islahiah. Full time mom, full time student. I am graduate student in Hiroshima University at educational development, under Shimizu sensei supervision (Science education lab). I continue my master study here with scholarship from my government, Indonesia Endowment Fund for Education (LPDP). My undergraduate university is Indonesia University of Education as known as UPI, Bandung. My the best experience in teaching when I was in East Aceh along 1 year, to become SM-3T teacher in remote area. Now, I am a married woman with Mr. Rizal, and we have one son, Muhammad Afnan Hashif. His age is 17 months. Be happy always :)

6 tanggapan untuk “Afirmasi Pergi Haji dari Jepang di Tahun 2018

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s