Diposkan pada Haji, Jepang, Memories, Travelling, Uncategorized

Mengurus Vaksin Meningitis dan Influenza untuk Berhaji dari Jepang: Ribet Gak?

Bismillahirrahmanirrahim…

Di Sabtu semangat menggebu kali ini, masih dalam #CollaborativeBlogging tentang cerita haji dari Jepang dan Indonesia, kami akan berbagi cerita tentang pengurusan vaksin. Pasti kita tidak asing dengan keharusan vaksin meningitis sebagai syarat haji. Nah, dari Jepang ada satu lagi keharusan bervaksin yaitu vaksin influenza. Cerita ini pernah saya tulis juga di artikel sebelumnya, bagi yang belum sempat baca bisa cek di sini :). 

Haji reguler indonesia vs kuota jepang

Di Indonesia mungkin mudah untuk menemukan vaksin bersertifikat halal. Namun di Jepang untuk menemukan vaksin meningitis saja sudah kesulitan. Karena memang jarang orang Jepang yang berhaji, dan vaksin meningitis wajib untuk para jamaah haji. Sedangkan vaksin influenza sebetulnya mudah didapat, jika musim dingin dimulai (sekitar November akhir). Yang waw nya kami mencari vaksin influenza ini di musim panas. Sudah bisa dibayangkan bagaimana jadinya kan? Ditambah lagi kami berdomisili di desa Saijo, Hiroshima. Sangat sulit menemukan kedua vaksin ini, beda halnya jika kami tinggal di Tokyo.

Jika di postingan lalu saya langsung cerita dapat list RS untuk vaksin, sebenarnya kisahnya sangat panjang untuk tahu di mana kami bisa mendapatkan vaksin. Nah di sini saya akan cerita penuh liku-likunya bervaksin di Saijo (Oops…maaf sedikit lebeh).

Pergi ke Motonaga Byo-in

Kami berinisiatif (nekad sih sebenarnya) untuk datang terlebih dahulu ke RS terdekat di Saijo, dan tergolong besar. Motonaga byo-in terletak di arah jalan ke Saijo Eki. Kami tinggal jalan dari apato ke sana. Sebelumnya saya tanya suhu-suhu saijo yang pernah berangkat haji, hampir semuanha bilang bervaksin di Hiroshima Kota dan lupa nama RS nya… (hiks,  nasib anak solehah)

Asli kalau di Indonesia mau bolak balik ke byo-in alias RS untuk tanya-tanya sih ga masalah. Kalau di Jepang, berhubung saya dan suami bermodal bahasa Jepang pas-pasan, rasanya benar-benar pingin makan konyaku penerjemah doraemon supaya bisa langsung diterjemahin itu bahasa 😀

Saya dan suami sempat kebingungan mencari pintu masuk RS ini. Karena memang model bangunannya agak lain. Mengikuti intuisi, akhirnya kami berjalan ke arah tempat parkir yang ternyata memang pintu masuk ada di sekitar situ. Langsung cap cus ke tempar resepsionis, dan akhirnya kamk keluarkan alat penerjemah DORAEMON. Agak kacau sepertinya terjemahannya, karena suster cantik agak mengerutkan kening. Alhamdulillah nya orang Jepang itu ramah-ramah. Malah mereka yang suka minta maaf kalau kami ngobrol tidak nyambung. Akhirnya suster cantik tahu kalau kami sedang mencari dua vaksin. Dia pun membuka buku informasi (Mereka tuh apik banget dalam soal inventaris data) dan menuliskan alamat RS di Hiroshima kota yang menyediakan vaksin ini. Kembali dia minta maaf, karena sedikit sulit untuk menulis nama RS dalam huruf romaji (huruf latin biasa ala kita). Setelah berterimakasih saya pun pamit. Ok, sekarang ada nomor telepon RS lain, tapi kembali saya bingung. Mau ke teman lab, berarti harus ke kamlus dulu. Akhirnya saya minta adik (Deami) yang bahasa Jepangnya sudah bagus untuk menelpon. Dan ternyata di RS tersebut sedang tidak ada jadwal vaksin, harus dipesan terlebih dahulu. Adikpun membuat janji tanpa sepengetahuanku dan salah tangkap vaksinnya untuk Afnan kun (Ya Allah inilah makanha harus pinter bahasa ga, supaya nelpon sendiri :D). Baru tahu ini pas udah sampai apato.

Menghubungi Mas Haris Muwardi

Akhirnya kami pulang ke apato. Saya masih penasaran untuk vaksin ini. Apalagi adik bilang yang di Hiroshima kota baru bisa 2 minggu lagi (saat itu belum tahu pesan vaksin untuk Afnan, pantas deami tanya usia dan tanggal lahir Afnan. Karena biasanya yang Deami tahu, Afnan lah yang divaksin. Dia lupa ini vaksin syarat untuk haji). Saya menghubungi Mas Haris yang sebelumnya pernah menghubungi saya untuk tanya-tanya masalah KTP Jepang untuk haji. Dari beliau saya dapat daftar RS di berbagai kota di semua perfektur Jepang dari Mian travel. Yang saya sesalkan adalah mengapa saat itu saya tidak tanya berapa harga paket vaksin di tempatnya? (di Kenwakai Otemachi, Kokura Kitakyushu). Tapi setidaknya, saya senang karena sudah punya daftar RS. Saya pun langsung mengecek setiap web RS yang di Hiroshima kota. Karena ingin irit, saya mencari RS yang paling dekat Stasiun Kereta di Hiroshima. Akhirnya saya tandai Eki-Biru Clinic – 駅ビルクリニック dan menulis nomornya untuk dibuatkan janji oleh pihak Sunsquare.

Minta Tolong Communication Center di Sunsquare (SSQ)

Sunsquare adalah apato pemerintah bersubsidi. Lokasinya nyaman bertingkat-tingkat, dan dilengkapi perpustakaan, tempat baca, tempat main anak, area aula, dan tempat komuninasi alias pusat bantuan untuk orang asing. Meskipun kita tidak tinggal di SSQ, kita tetap bisa meminta tolong pada staff SSQ untuk berkonsultasi atau menelponkan lembaga (Saya dulu pernah meminta tolong mencari hoikuen/ sekolah Afnan sementara sebelum dapat yang negeri dan menelpon kedutaan Korea di Jepang). Mereka akan dengan sigap membantu, dan layanan ini gratis. Lagi-lagi kagum sama mereka, kadang suka sedih di negeri sendiri habis minta tolong, balasannya pasti minta uang 😦

Ibu cantik ini menelpon eki biiru clinic, dan membuat janji di hari Jumat jam 3 sore. Namun hanya untuk meningitis. Kabarnya vaksin influenza di semua RS di Hiroshima baru ada sekitar Oktober. Gpp lah, yang penting minimal meningitis dan sertifikat kesehatan sudah akan kami dapat hari Senin, di klinik tadi.

Menelpon Kato Clinic

Masih belum puas, selepas dari SSQ suami menyarankan untuk mencoba datang ke klinik anak. Karena memang biasanya vaksin influenza mudah didapat di klinik anak. Hanya saja kalau datang langsung ke Kato clinic agak lumayan. Akhirnya saya coba telpon sebisanya (malu kalau minta tolong pihak SSQ lagi, takut dibilang bandel gak mau denger kalau influenza vaksin lagi kosong di semua RS).

Dan kegejan pun dimulai. Sebisanya dengan bahasa Jepang terbatas, saya ditanya nomor kartu Afnan. Lalu saya tanyakan vaksin influenza. Mereka kaget, karena berpikir Afnan kena influenza di musim panas (Di sini influenza memang serius, kalau kena harus istirahat total dan dikarantina hehe). Akhirnya saya jelaskan saya butuh vaksin influenza untuk saya. Dan bisa ditebak ternyata tidak ada. Yang penting sudah tidak penasaran…

Mampir di Takashiyama Byo-in

Selang satu rumah dari apato memang ada RS yang agak kecil. Saya lupa namanya, tapi saya ingat nama Sensei/ dokternya yaitu Takashiyama Sensei. Saya sempat mampir dulu bersama Afnan untuk cek kesehatan rutin sekolah Hoikuen Afnan. Nah suami bilang untuk mampir di sini, siapa tahu di RS kecil malah ada. Kembali mba google membantu, dan resepsionis langsung paham. Agak lama kami menunggu, ternyata super…mereka sampai menelpon RS yang sudah dipesankan pihak SSQ sebelumnya dan RS lainnya. Totalitas banget memang mereka nolongnya ya Allah. Dan paling suka, mereka pasti suka senyum dan malah minta maaf. Padahal kami yang sudah merepotkan mereka (aduh, perlu dicontoh ini). Dan hasilnya sama juga, vaksin influenza kosong.

Menelpon RS Kenwakai Otemachi, Kokura

Deami akhirnya tahu vaksin ini untuk berhaji. Dia pun membatalkan janji dengan RS tersebut. Sekarang deamj saya mintai tolong lagi untuk menelpon RS di dekatnya, yaitu Kenwakai Otemachi untuk membuat janji vaksin influenza. Ternyata di sana ada dan lengkap. Karena ada bagian khusus vaksin, dan dokternya sudah terbiasa serta tahu tentang syarat vaksin untuk haji ini. Malah dia sampai menunjukkan sertifikat halal vaksin nya. ini RS tempat mas Haris divaksin. Nyesel gak bervaksin semua di sini. Karena 1 paket semakin murah. Kami membuat janji di hari Senin jam 11.

Dan Toyota Sensei yang berada di RS ini bahasa inggrisnya sangat bagus, mantap. Ini web nya https://otemachi.kenwakai.gr.jp/ 

Sumber foto: https://otemachi.kenwakai.gr.jp/aboutus/philosophy/

image

Pergi Bervaksin di Eki Biiru Clinic

Akhirnya sesuai janji, saya pergi ke klinik ini di hari Jumat sore. Baru setelahnya saya akan menginap di Deami beberapa hari sambil jalan-jalan di Kokura untuk vaksin influenza.

Saat itu saya sekalian periksa tes darah untuk mendapatkan sertifikat kesehatan. Total biaya kami berdua di klinik sekitar 50000 JPY (kaget juga T_T). malah apa lebih ya? 

Dan saat saya tanya berapa mas Haris bervaksin 1 paket? Jreng..hanya JPY 29000. Ckck…tapi ini jadi cerita sendiri bagi saya. Pasti ada hikmahnya. Lalu mengapa saya tidak ke Tokyo? Saat itu lagi padatnya jadwal dan bimbingan seminar. Saya mencari yang dekat terlebih dahulu dan tidak perlu menginap. Di Kyushu masih bisa ikut menumpang di tempat adik, dan ongkos ke sana pun dengan kereta lokal sekitar JPY 4000. Masih agak murah 😀

Inilah lika-liku cerita saya bervaksin haji dari Jepang. Sekarang kita simak cerita bervaksin mba Nurin di Indonesia yuk! 🙂

Yang penasaran, langsung ke TKP mb Nurin di sini ya http://www.istikmalia.com/2018/10/vaksin-meningitis-dan-persiapan-haji-reguler-indonesia.html?m=1

 

Iklan

Penulis:

Hello, Assalamualaikum. My name is Novianti Islahiah. Full time mom, full time student. I am graduate student in Hiroshima University at educational development, under Shimizu sensei supervision (Science education lab). I continue my master study here with scholarship from my government, Indonesia Endowment Fund for Education (LPDP). My undergraduate university is Indonesia University of Education as known as UPI, Bandung. My the best experience in teaching when I was in East Aceh along 1 year, to become SM-3T teacher in remote area. Now, I am a married woman with Mr. Rizal, and we have one son, Muhammad Afnan Hashif. His age is 17 months. Be happy always :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s