Akibat Tersasar, Akhirnya Bekunjung ke Perpustakaan di Masjidil Haram

Assalamualaikum teman-teman semua. mohon maaf Setelah off satu minggu kemarin, dikarenakan saya harus masuk RS karena mag yang parah, alhamdulillah hari ini kembali saya bisa posting satu artikel mengenai cerita di masjidil haram kembali. Sambil ditemani rintik hujan dan mati lampu yang Panjang di desa Tempirai ini, saya dan Mba Nurin akhirnya memutuskan untuk kembali membahas cerita di masjidil haram. Tentunya cerita saya dan mba Nurin berbeda. Karena jujur selama di masjidil Haram, saya sepertinya agak kuper tentang perpustakaan Masjidil Haram, penyewaan skuter untuk thawaf dan sa’i, dan yang lainnya. Namun saya akan tetap berusaha berkisah sesuai yang saya alami. Dan di postingan kali ini, kita fokus tentang Perpustakaan Masjidil Haram. Gimana ya cerita Mba Nurin dengan perpustakaan ini? Yuk intip di sini.

Cerita Perpustakaan Masjidil Haram ala Mba Nurin 😀

Haji reguler indonesia vs kuota jepang

Jadi, di Masjidil haram ada perpustakaan juga ya?

Jujur, saya juga baru tahu saat di sana. Karena pikiran saya saat akan ke Mekkah adalah cukup beribadah di masjid, beristirahat di penginapan, dan sesekali menikmati kuliner Mekkah yang notabene semuanya halal… Nah yang terakhir ini bikin saya senang banget dan hamper kalap. Ketemu KFC halal. Ketemu pizza halal. Semua halal. Secara selama tinggal di Jepang banyak tukang pizza, KFC, dan yang lainnya harus waspada karena banyaknya yang nggak halal.

jadwal kunjungan perpustakaan masjidil haram

Info Layanan Perpustakaan. Sumber: http://www.muradmaulana.com

Kembali ke laptop… eh ke inti cerita. Nah karena kupernya saya dan suami, kami tidak pernah mencari tahu perpustakaan di masjidil haram ini. Padahal saya suka buku loh…bener ngga bohong :D. Tapi sepertinya saya khilaf. Padahal literasi membaca itu sangat penting dan bisa tambah wawasan, apalagi perpustakaan di luar selalu menyuguhkan berbagai koleksi. Bahkan perpustakaan Mekkah kata orangg-orang adalah tempat kelahiran nabi Muhammad saw. Perpustakaan Mekkah berbeda dengan perpustakaan Masjidil Haram ya…

Terus, saya tahu perpustakaan Masjidil Haram dari mana?

Jujur, karena tidak sengaja 😀

Di awal saya sudah bilang kalau saya sedang khilaf, pasti saya kalap dengan kuliner. Nah saat jeda dari salat dzuhur ke ashar, saya dan suami sama-sama kebelet pipis. Akhirnya kami memutuskan untuk ke toilet di dekat zamzam tower. Sekalian kuliner untuk makan siang. Di rombongan kami makan siang tidak disediakan di penginapan (hanya tersedia buah dan makanan ringan kalau siang hari). Dan saya pun penasaran dengan Bin Dawood yang sering diceritakan teman sekamar 😀

Akhirnya setelah dari toilet, saya pun mampir di bin Dawood untuk membeli camilan dari kurma yang nantinya akan saya jadikan oleh-oleh. Saya pun mampir di tukang Pizza untuk mengganjal perut siang itu. Tanpa sadar, tentengan saya sangat banyak. Suami sudah mengingatkan jangan belanja banyak, takutnya kami tidak diizinkan masuk masjid karena bawa banyak belanjaan. Suami pun sudah bawel kalua kami jangan lama-lama di area bin Dawood ini.

“Neng, thawaf mah di sekitar ka’bah bukan di sini.” Aa sering mengingatkankaku 😀

Akhirnya tetap dengan keyakinan bisa salat di masjid, saya dan suami mencoba masuk lewat King Fahd Gate. Askar yang menjaga pintu sangat jeli melihat tentengan setiap orang. Tiba giliran kami, dan kami lolos. Sudah senang, ternyata askar satu lagi melihat kami dan kami pun dilarang masuk. Aa bilang saya salat di pekarangan masjid saja, atau pulang ke penginapan. Saya pun menolak keras, rugi dong ngga salat di masjid. Akhirnya kami mencoba lewat gate satu lagi, namun masih di area King Fahd Gate. Aa yang membawa tentengan, dan alhamdulillah kami lolos. Cleaning service yang melihat kami mengarahkan kami untuk tidak masuk ke dalam King Fahd area, namun diarahkan menaiki tangga. Tangga yang kami naiki seperti tidak berujung. Namun saya melihat ada tulisan Library of Masjidil Haram. Oh sepertinya tangga ini mengarahkan kami ke area perpustakaan. Dan benar saja, kami tiba di lantai yang banyak koleksi buku dan kitab. Sayangnya hanya sebentar, Cuma melihat sekilas. Karena sudah hampir ashar, dari area tersebut entah bagaimana ternyata ada jalan tembus ke area salat. Saya dan suami pun berpisah sementara, untuk melaksakanan ashar terlebih dahulu.

Akhirnya saya mencari info tentang perpustakaan di Masjidil Haram ini. Perpustakaan dengan interior yang tidak berbeda jauh dengan perpustakaan pada umumnya. Ada rak kayu, kursi, meja baca yang terbuka dan tertutup, e-book, dll.

Di ruang perpustakaan tersebut banyak kaligrafi dan hiasan lampu. Ada koleksi aluran braille juga yang bisa kita temukan di sini. Koleksi bukunya banyak yang berbahasa Arab, namun ternyata ada juga yang berbahasa Indonesia. Memang saya kaget juga, apalagi pedagang dan beberapa petugas bisa fasih berbahasa Indonesia.

IMG_9079

Di depan bagian masjidil haram, seberang RS Darurat Masjidil Haram. Dok: Aa Rizal

Perpustakaan ini kalua tidak salah buka mulai pukul 07.30 sampai 00.30 dini hari, untuk perempuan ada jam khusus kunjungan yaitu hanya Kamis dan Sabtu jam 16.00 sampai 20.00.

Ternyata karena tersasarnya kami, bisa melihat sekilas perpustakaan masjidil haram ini. Etak perpustakaan ini ternyata memang ada di area King Fahd gate no. 79. Dari sana belok kanan, ada tanda menuju perpustakaan. Letak gate ini tepat di seberang zamzam tower 😀

Sayang, saya tidak terlalu banyak menikmati fasilitas perpustakaan ini. Bagi teman-teman yang berkesempatan umrah atau haji nanti, ketika ada waktu luang usahakan mampir ya ke perpustakaan. Selain suasananya tenang, ada air zamzam di dekat nya, kita pun bisa menambah wawasan.

p.s Mohon maaf untuk postingan kali ini tidak ada foto dokumentasi pribadi di perpustakaannya.

Berumrah dan Haji dari Jepang, Selalu Terkenang

Bismillah… bagaimana kabar teman-teman semua? Alhamdulillah, tidak terasa sudah masuk episode 5. Dan kembali di pekan ini, kami agak telat lagi untuk posting artikel setiap Sabtu sore. Untuk artikel di episode #CollaborativeBlogging kali ini, kami akan saling berbagi kisah umrah dengan rombongan masing-masing. Ini dia kisah umrah saya Bersama HIS Jepang.

41307135_718409418511605_2019796288924549120_n

Salah satu liputan media Arab Saudi tentang Rombongan Haji dari Jepang

Saat itu kami tiba di Jeddah sekitar waktu isya pada tanggal 12 Agustus 2018. Selepas melewati imigrasi, menunggu bagasi, dan berbagai pendataan oleh pihak Jeddah, kami segera masuk ke dalam bus. Perjalanan Jeddah-Mekkah membutuhkan waktu yang cukup lama, sekitar 4-5 jam. Sambil bisa beristirahat di dalam bus, sesekali pemandu rombongan memberikan arahan. Saat tiba di Jeddah hingga sepanjang perjalanan, kami dibuat terkagum dan penuh syukur. Banyak makanan dan minuman yang dibagikan. Mereka mengatakan halal, halal. Sedekah. Luar biasa penyambutan orang-orang sana untuk yang berhaji dan umrah. Mereka mengatakan menyambut tamu Allah.

Saya pun sempat tertidur karena memang perjalanan yang cukup melelahkan. Dari Jepang ke Colombo, dan dari Colombo ke Jeddah. Sesaat sebelum memasuki kota Mekkah, saya pun terbangun. Karena lagi-lagi ada pendataan. Sambal mendata, orang arab tersebut membagikan sejadah dan air zam-zam. Masya Allah.

Simak kisah Mba Nurin, di sini yuk!

Haji reguler indonesia vs kuota jepang

Bus kami pun akhirnya merapat di depan sebuah penginapan bernama Dar Al-Malky, di belakang pusat perbelanjaan Jaafariya yang konon merupakan pasar primadona orang Indonesia. Bagasi kamipun semua diturunkan. Kemudian Mr. Tamer dari pihak HIS dan Mr. Ali menyambut kami. Mereka pun mengumumkan nomor kamar masing-masing. Di sini kami mulai tidur sekamar berempat. Suami istri pun terpisah, namun kamarnya berdekatan. Saya sekamar dengan Mba Tyas dari Sendai, Mba Dwi dari Kanazawa dan Ibu Deviona dari Kyoto di kamar 103. Sementara para suami kami sekamar juga di kamar 104.

Kami diminta untuk masuk ke kamar terlebih dahulu, dan menyantap hidangan makan malam yang sudah disediakan. Katanya sih ayam albaik yang terkenal, semacam fried chicken. Setelah menyantap makanan tersebut, kami pun diminta berkumpul sekitar jam 1 dini hari untuk bersiap melaksanakan umrah. Muthawwif kami yaitu Abdurrahman san, orang Arab yang sangat fasih berbicara Jepang dibandingkan bahasa Inggris memimpin rombongan dan memberi pengarahan bersama Ust. Fatah. Dari beliau jugalah, akhirnya suami dan saya jatuh hati dengan Ismail Gate. Karena beliau mengarahkan kami untuk umrah dan melakukan thawaf melalui gate ini. Yang belum sempat baca, kisah pintu Ismail gate bisa disimak di sini. Kami pun membaca doa masuk masjid yaitu اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.

Mungkin ada yang bertanya, haji kok umrah dulu? Ya, kami melakukan haji tamattu’ yang artinya umrah dulu baru haji. Hampir sebagian besar yang datang dari luar Arab akan melaksanakan haji tamattu’ ini, sehingga nantinya kami harus membayar dam. Kalau begitu kapan kami berihram (niat umrahnya)? Ya, kami berihram di atas pesawat. Karena rombongan HIS ini langsung menuju Mekkah, sehingga ihram dilakukan di atas pesawat saat melintasi miqat makani. Kami datang dari Srilanka, sehingga miqat makani kami adalah qarnul manazil (sekarang bernama As-sail). Lebih lengkapnya untuk ihram ini pernah saya tulis di sini. 

Kembali lagi detik-detik kami akan thawaf. Muthawwif membimbing kami sampai tiba di Ismail gate. Sampai saat itu kami masih dalam rombongan, dan selalu berdampingan dengan mahramnya. Ini bedanya dengan rombongan Indonesia yang biasanya kebanyakan pergi kemana-mana ibu-ibu dengan ibu-ibu, bapak-bapak dengan bapak-bapak. Namun di rombongan Jepang ini hampir setiap kegiatan kami selalu dengan suami.

Serasa mimpi. Biasanya kami salat hanya menghadap kiblat, sekarang ka’bah terlihat jelas di depan mata. Rasanya air mata saat itu tak kuasa tertahan. Kami pun diingatkan untuk membaca doa saat meihat ka’bah yaitu اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ فحَيِّنَا رَبَّـنَا بِالسَّلاَمِ.

Saat thawaf di putaran ke-6, adzan subuh pertama berkumandang. Di sana adzan subuh sebanyak dua kali, dan jeda adzan ke iqamah agak lama. mas’ul (ketua) kelompok kami menyarankan untuk menyelesaikan dulu putaran terakhir kami. Setelah kami selesai, kami pun mencari tempat untuk melaksanakan salat sunat di belakang maqam Ibrahim. Suasana saat itu penuh sesak, dan saya bersama suami terpisah dari rombongan. Ada sedikit kegaduhan saat itu, karena beberapa orang yang telah melaksanakan salat sunat tidak segera beranjak. Namun tetap duduk menunggu salat subuh, sementara orang yang akan salat sunat semakin bertambah pasca selesai thawaf. Askar pun kembali menertibkan. Ya Hajj…Ya Hajj. 

Setelah salat sunah di belakang maqam Ibrahim, kami pun menghampiri galon-galon berisi zamzam. Disunahkan memang menikmati air zamzam setelah thawaf, dengan sepuasnya dan tentunya sambil duduk dan berdoa terlebih dahulu. Setelah itu kami pun menunggu waktu salat subuh. Sesaat sebelum subuh, akhirnya kami bertemu dengan rombongan lain yang ternyata teman sekamar saya yaitu Bu Devi dan suaminya.

Setelah salat subuh, muthawwif kami pun menghampiri apakah akan sa’i bersama atau hanya dengan mahram, dan apakah perlu beliau menunggu hingga selesai. Memang beliau lebih intens membimbing yang muallaf Jepang. Kami pun mengatakan in sya Allah bisa pulang sendiri ke penginapan, karena sebelumnya sudah dikenalkan gedung-gedung penting yang menjadi tanda jalan dari penginapan ke masjidil haram.

Saya dan suami pun sa’i di lantai 2. Membayangkan sa’i saat zaman Siti Hajar, tentunya sangat berbeda dengan yang saya rasakan saat ini. Sa’i sekarang begitu nyaman, bukan lagi padang pasir yang panas. Dilengkapi AC dan dinding lantai yang dingin. Saat itu saya semakin kagum dengan perjuangan Ibunda Nabi Ismail as tersebut.

Satu Kisah di Masjidil Haram: Saat Menanti Ismail Gate

Pengalaman menjejakkan kaki di tanah haram adalah pengalaman yang luar biasa. Hati ini rasanya rindu untuk bisa kembali ke sana. Memenuhi rasa rindu yang teramat sangat, pekan ini saya dan Mba Nurin akan membagikan kisah saat di masjidil haram yang tidak akan pernah terlupa. Kembali dalam rangkaian #CollaborativeBlogging, inilah kisah saya di masjidil haram.

Haji reguler indonesia vs kuota jepang

Collaborative Blogging. Pict by: Mba Nurin Ainistikmalia

Yallah, Hajj… thariiq. Thariiq.

Suara askar yang menjaga dan mengamankan jamaah di masjidil haram selalu terdengar lantang saat akan mengatur barisan shaf salat. Terlambat sedikit pintu yang kami idamkan sudah ditutup. Suami dan saya memiliki pintu masuk favorit, yaitu di Ismail gate. Karena dari pintu masuk itu, tingggal turun dengan elevator satu lantai, kita bisa salat langsung menghadap ka’bah. Pasalnya pintu ini favorit semua orang. Jika mepet waktu salat sudah pasti jalan masuk ke pintu tersebut sudah ditutup. 😀

Suatu hari menjelang salat maghrib, mungkin ada sekitar 1 jam an, arah pintu masuk ke Ismail gate ini sudah dihadang para askar. Orang-orang berusaha membujuk askar, bahkan tidak jarang memuji askar supaya askar tersebut tersentuh dan membukakan palang ke arah pintu Ismail tadi. Namun yang Namanya askar tegasnya bukan main. Akhirnya saya dan suami mengarah ke lantai atas, ke bagian King Fahd Expansion Gate. Bagian masjid ini masih terus dikembangkan, dan sangat luas. Kami pun menunaikan salat maghrib di tempat ini, dengan harus merelakan tidak salat di depan ka’bah. Selepas salat maghrib suami langsung mengajak pergi. Saya pun segera beranjak, untuk bergegas menuju Ismail gate. Biasanya di jeda waktu salat ini banyak orang yang keluar dari masjid, untuk sekadar beli cemilan di sekitar masjid, berbelanja, ataupun ada yang pindah posisi salat. Nah kami berharap bisa masuk ke Ismail gate.

Simak tulisan Mba Nurin di sini yuk!

Dari kejauhan kami melihat masih penuh sesak jamaah. Dan para askar masih bersikukuh tidak membuka pintu masuk ke arah Ismail gate. Hanya Nampak orang-orang keluar dari arah pintu tersebut. Wajar sih sebenarnya, askar ini keukeuh nggak mau bukakan pintu. Takut juga tabrakan arus. Kami pun menanti di pintu palang tadi. Di sinilah sebuah kejadian yang masih menjadi misteri bagi saya pun datang. Tiba-tiba ada seorang wanita yang menatap tajam ke arah saya. Saat itu posisi suami berada di depan. Saya pun berlalu dari wanita tadi. Namun ternyata wanita tadi balik menghampiri saya, dan bertanya.

IMG_9003

Merpati Megan di depan lokasi makam Siti Khadijah RA

“Mba, dari HIS Jepang ya?” Tanyanya.

“Ya.” Jawab saya singkat. Mungkin dia lihat rompi HIS biru ini yang sangat kentara tulisan HIS dan bendera Jepangnya.

“Mba kenal Danisa?” Tanyanya lebih lanjut.

“Nggak, Mba.” Jawab saya lagi.

Tiba-tiba wanita tadi menangis dan mengatakan dia sedang ketakutan sama bapak-bapak dari negara lain yang berjanggut. Lantas saya pun kaget, karena hampir setiap laki-laki di sini berjanggut. Wanita tadi bilang dia diikuti bapak berjanggut tersebut. Dia pun memaksa agar saya ikut dengannya. Saya pun sangat kaget, dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suami saya yang jalan agak di depan pun akhirnya sadar, kalau saya tidak ada di dekatnnya. Suami saya pun menghampiri dan bertanya ada masalah apa?

Saya kembali menjelaskan masalah wanita tadi padanya. Akhirnya suami saya bertanya kalau mba nya dari rombongan mana? Kenapa bisa terpisah, dan lain-lain. Karena saya dan suami terlihat seperti tidak mau ikut dia, akhirnya diatampak kebingungan dan bilang akan berlindung dari laki-laki berjanggut itu di dekat askar. Suami saya bilang itu ide yang lebih baik.

IMG_9025

Salah satu bagian masjidil haram untuk tempat Sa’i

Kami pun melihat dari kejauhan kalau-kalau bapak berjanggut tersebut berbuat macam-macam. Wanita tadi terlihat menangis kembali, namun di penglihatan kami bapak berjanggut ini seperti kami. Sama-sama sedang menanti dibukanya palang pintu oleh para askar.

Sejenak saya pun termenung ketika menemui kisah ini. Banyak yang mengatakan apa yang kita alami di tanah haram adalah gambaran perbuatan kita sehari-harinya? Oleh karena itu disarankan untuk perbanyak istighfar dan terus berdzikir pada Allah. Saya pun berusaha melupakan kejadian tersebut. Namun karena penasaran, saya pun bertanya pada teman-teman HIS lainnya. Barangkali memang ada yang Namanya Danisa di grup HIS premium dan Ettihad. Tapi tetap jawabannya, tidak ada.

Itulah salah satu kisah menarik yang saya ingat saat di masjidil Haram. Tentunya masih banyak kisah lain yang saya temui saat bertemu dengan orang-orang dari negara lain. Dan banyak sekali hikmah yang bisa saya petik dari perjalanan haji ini. Wallahu’alam.