Diposkan pada Haji, Jepang, Memories, Palembang, Travelling

Berumrah dan Haji dari Jepang, Selalu Terkenang

Bismillah… bagaimana kabar teman-teman semua? Alhamdulillah, tidak terasa sudah masuk episode 5. Dan kembali di pekan ini, kami agak telat lagi untuk posting artikel setiap Sabtu sore. Untuk artikel di episode #CollaborativeBlogging kali ini, kami akan saling berbagi kisah umrah dengan rombongan masing-masing. Ini dia kisah umrah saya Bersama HIS Jepang.

41307135_718409418511605_2019796288924549120_n
Salah satu liputan media Arab Saudi tentang Rombongan Haji dari Jepang

Saat itu kami tiba di Jeddah sekitar waktu isya pada tanggal 12 Agustus 2018. Selepas melewati imigrasi, menunggu bagasi, dan berbagai pendataan oleh pihak Jeddah, kami segera masuk ke dalam bus. Perjalanan Jeddah-Mekkah membutuhkan waktu yang cukup lama, sekitar 4-5 jam. Sambil bisa beristirahat di dalam bus, sesekali pemandu rombongan memberikan arahan. Saat tiba di Jeddah hingga sepanjang perjalanan, kami dibuat terkagum dan penuh syukur. Banyak makanan dan minuman yang dibagikan. Mereka mengatakan halal, halal. Sedekah. Luar biasa penyambutan orang-orang sana untuk yang berhaji dan umrah. Mereka mengatakan menyambut tamu Allah.

Saya pun sempat tertidur karena memang perjalanan yang cukup melelahkan. Dari Jepang ke Colombo, dan dari Colombo ke Jeddah. Sesaat sebelum memasuki kota Mekkah, saya pun terbangun. Karena lagi-lagi ada pendataan. Sambal mendata, orang arab tersebut membagikan sejadah dan air zam-zam. Masya Allah.

Simak kisah Mba Nurin, di sini yuk!

Haji reguler indonesia vs kuota jepang

Bus kami pun akhirnya merapat di depan sebuah penginapan bernama Dar Al-Malky, di belakang pusat perbelanjaan Jaafariya yang konon merupakan pasar primadona orang Indonesia. Bagasi kamipun semua diturunkan. Kemudian Mr. Tamer dari pihak HIS dan Mr. Ali menyambut kami. Mereka pun mengumumkan nomor kamar masing-masing. Di sini kami mulai tidur sekamar berempat. Suami istri pun terpisah, namun kamarnya berdekatan. Saya sekamar dengan Mba Tyas dari Sendai, Mba Dwi dari Kanazawa dan Ibu Deviona dari Kyoto di kamar 103. Sementara para suami kami sekamar juga di kamar 104.

Kami diminta untuk masuk ke kamar terlebih dahulu, dan menyantap hidangan makan malam yang sudah disediakan. Katanya sih ayam albaik yang terkenal, semacam fried chicken. Setelah menyantap makanan tersebut, kami pun diminta berkumpul sekitar jam 1 dini hari untuk bersiap melaksanakan umrah. Muthawwif kami yaitu Abdurrahman san, orang Arab yang sangat fasih berbicara Jepang dibandingkan bahasa Inggris memimpin rombongan dan memberi pengarahan bersama Ust. Fatah. Dari beliau jugalah, akhirnya suami dan saya jatuh hati dengan Ismail Gate. Karena beliau mengarahkan kami untuk umrah dan melakukan thawaf melalui gate ini. Yang belum sempat baca, kisah pintu Ismail gate bisa disimak di sini. Kami pun membaca doa masuk masjid yaitu اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.

Mungkin ada yang bertanya, haji kok umrah dulu? Ya, kami melakukan haji tamattu’ yang artinya umrah dulu baru haji. Hampir sebagian besar yang datang dari luar Arab akan melaksanakan haji tamattu’ ini, sehingga nantinya kami harus membayar dam. Kalau begitu kapan kami berihram (niat umrahnya)? Ya, kami berihram di atas pesawat. Karena rombongan HIS ini langsung menuju Mekkah, sehingga ihram dilakukan di atas pesawat saat melintasi miqat makani. Kami datang dari Srilanka, sehingga miqat makani kami adalah qarnul manazil (sekarang bernama As-sail). Lebih lengkapnya untuk ihram ini pernah saya tulis di sini. 

Kembali lagi detik-detik kami akan thawaf. Muthawwif membimbing kami sampai tiba di Ismail gate. Sampai saat itu kami masih dalam rombongan, dan selalu berdampingan dengan mahramnya. Ini bedanya dengan rombongan Indonesia yang biasanya kebanyakan pergi kemana-mana ibu-ibu dengan ibu-ibu, bapak-bapak dengan bapak-bapak. Namun di rombongan Jepang ini hampir setiap kegiatan kami selalu dengan suami.

Serasa mimpi. Biasanya kami salat hanya menghadap kiblat, sekarang ka’bah terlihat jelas di depan mata. Rasanya air mata saat itu tak kuasa tertahan. Kami pun diingatkan untuk membaca doa saat meihat ka’bah yaitu اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ فحَيِّنَا رَبَّـنَا بِالسَّلاَمِ.

Saat thawaf di putaran ke-6, adzan subuh pertama berkumandang. Di sana adzan subuh sebanyak dua kali, dan jeda adzan ke iqamah agak lama. mas’ul (ketua) kelompok kami menyarankan untuk menyelesaikan dulu putaran terakhir kami. Setelah kami selesai, kami pun mencari tempat untuk melaksanakan salat sunat di belakang maqam Ibrahim. Suasana saat itu penuh sesak, dan saya bersama suami terpisah dari rombongan. Ada sedikit kegaduhan saat itu, karena beberapa orang yang telah melaksanakan salat sunat tidak segera beranjak. Namun tetap duduk menunggu salat subuh, sementara orang yang akan salat sunat semakin bertambah pasca selesai thawaf. Askar pun kembali menertibkan. Ya Hajj…Ya Hajj. 

Setelah salat sunah di belakang maqam Ibrahim, kami pun menghampiri galon-galon berisi zamzam. Disunahkan memang menikmati air zamzam setelah thawaf, dengan sepuasnya dan tentunya sambil duduk dan berdoa terlebih dahulu. Setelah itu kami pun menunggu waktu salat subuh. Sesaat sebelum subuh, akhirnya kami bertemu dengan rombongan lain yang ternyata teman sekamar saya yaitu Bu Devi dan suaminya.

Setelah salat subuh, muthawwif kami pun menghampiri apakah akan sa’i bersama atau hanya dengan mahram, dan apakah perlu beliau menunggu hingga selesai. Memang beliau lebih intens membimbing yang muallaf Jepang. Kami pun mengatakan in sya Allah bisa pulang sendiri ke penginapan, karena sebelumnya sudah dikenalkan gedung-gedung penting yang menjadi tanda jalan dari penginapan ke masjidil haram.

Saya dan suami pun sa’i di lantai 2. Membayangkan sa’i saat zaman Siti Hajar, tentunya sangat berbeda dengan yang saya rasakan saat ini. Sa’i sekarang begitu nyaman, bukan lagi padang pasir yang panas. Dilengkapi AC dan dinding lantai yang dingin. Saat itu saya semakin kagum dengan perjuangan Ibunda Nabi Ismail as tersebut.

Penulis:

Hello, Assalamualaikum. My name is Novianti Islahiah. Full time mom, full time student. I am graduate student in Hiroshima University at educational development, under Shimizu sensei supervision (Science education lab). I continue my master study here with scholarship from my government, Indonesia Endowment Fund for Education (LPDP). My undergraduate university is Indonesia University of Education as known as UPI, Bandung. My the best experience in teaching when I was in East Aceh along 1 year, to become SM-3T teacher in remote area. Now, I am a married woman with Mr. Rizal, and we have one son, Muhammad Afnan Hashif. His age is 17 months. Be happy always :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s