Diposkan pada Education, Jepang, Memories

Pengalaman Menyetarakan Ijazah Luar Negeri

Pasca menyelesaikan studi di luar negeri, hal yang biasa dilakukan para mahasiswa ini adalah menyetarakan ijazah yang didapatnya. Begitupun dengan saya. Setelah selesai kuliah master di Jepang, dan pada tanggal 20 September 2018 ijazah sudah di tangan, saya pun mulai mencari info untuk penyetaraan ijazah luar negeri ini. Saya langsung todong adik saya untuk bertanya-tanya. Ternyata di tahun 2018 ini per tanggal 1 Maret, semua pengajuan berkasnya online dan ada fitur konversi nilai. Saya pun langsung menuju web penyetaraan ijazah yaitu http://ijazahln.ristekdikti.go.id/ijazahln/

Di sana sudah tertera jelas jadwal pelayanan untuk kirim berkas secara online, yaitu di jam kerja Senin-Jum’at jam 08.00 WIB s.d 14.00 WIB.

img-20181228-wa0002
Dalam Ruangan Bagian Penyetaraan Ijazah
Senin – Jum’at 08.00 – 14.00 Pendaftaran & Unggah Berkas (Submit)
Senin – Jum’at 08.30 – 12.00 Verifikasi & Penilaian Berkas
12.00 – 13.00 Istirahat
13.00 – 14.00 Verifikasi & Penilaian Berkas
Senin – Jum’at 08.30 – 12.00 Pengambilan SK
12.00 – 13.00 Istirahat
13.00 – 14.00 Pengambilan SK

Saat adik saya menyetarakan ijazah, ternyata tidak perlu berpacu dengan waktu dan kuota. Namun saat saya menyetarakan di September 2018 lalu, ada kuota harian berapa berkas yang bisa diproses. yaitu sebanyak 50 buah, dan setelah kuota terpenuhi otomatis kita tidak bisa mengirim dokumen kita.

Saya pun sampai berulang kali harus mencoba, pasalnya baru beberapa menit lewat dari jam 8 pagi, kuota selalu penuh. Oleh karena itu, saran saya adalah buatlah akun terlebih dahulu. Kemudian lengkapi semua dokumen yang diminta. Siapkan dokumen berupa foto semua halaman paspor, ijazah berbahasa Inggris, Transkrip nilai berbahasa Inggris, dokumen pendukung seperti katalog perkuliahan: silabus, tentang jurusan kita, penilaian di tempat studi kita, dan gelar di sana. Dokumen pendukung inilah yang akan dinilai oleh tim penilai, apakah kuliah kita di luar negeri itu bisa disetarakan dengan kurikulum di dalam negeri atau tidak. PASTIKAN semua dokumen sudah benar. Saya harus beberapa kali mencoba. Sekitar jam 07.55 saya sudah log in, dan memastikan semua dokumen terunggah. Sehingga saat jam 08.00 wib tinggal diklik tombol kirim nya. Saat itu posisi saya masih di Jepang, yaitu di apato adik di Kyushu. Waktu Jepang sudah menunjukkan pukul 10 tepat, artinya di Jakarta pukul 8. Saya pun mengklik tombol kirim, namun ternyata gangguan. Setelah direfresh, kuota hari itu sudah terpenuhi. Sedihnya T_T

Sepertinya orang-orang saat itu mengejar seleksi CPNS yang akan diadakan Oktober tahun 2018 ini. Suatu hari saya berhasil mengirim. Alhamdulillah perjuangan banget. Namun ternyata waktu prosesnya lumayan lama. Padahal saat itu saya ingin melamar CPNS di Kemenristekdikti untuk menjadi dosen di UNSRI. Mengapa UNSRI? Karena fokus saya sekarang adalah mengajar di daerah yang sama dengan tempat tugas suami T_T yaitu di Sumatera Selatan (Semoga bisa segera kembali ke tanah Sunda). Akhirnya pupus harapan saya. H-3 belum ada kejelasan he, sampai saya mengirim pesan pada Pak Agus yang bekerja di dikti yang fokusnya di SM-3T. Namun kata beliau ijazah saya sepertinya masih lama karena ada dokumen yang kurang. What? Kira-kira apa yang kurang, perasaan saya sudah lengkap semua. Dan ternyata untuk melengkapi berkas itu kita harus masuk akun lagi, unggah dokumen lagi, dan bersaing dengan kuota 50 per hari lagi untuk bisa kirim ulang dokumen. T_T

Ini beberapa dokumen pendukung penyetaraan ijazah saya:

hiroshima university syllabus

degrees _ hiroshima university

Saya pun mencoba mengirim email ke pihak dikti bag. penyetaraan ijazah. Barulah ada balasan dan mereka mengatakan ijazah saya belum bisa diproses, karena kurang dokumen yaitu: tidak ada ijazah dan transkrip berbahasa Inggris dan kurangnya foto halaman paspor. Padahal saya sudah mengunggah dokumen-dokumen tersebut ckck… Akhirnya saya balas email tersebut dan mengirim dokumen via email. Namun ternyata saya tetap harus mengunggah kembali lewat akun. Lama tidak ada kabar lagi, saya pun menulis kegundahan saya di Lapor.id, barulah ada pesan di email yang menyatakan laggi-lagi dokumen saya kurang yaitu haaman paspor. Astaghfirullah, kalau ini saya ngaku saya yang khilaf. Paspor saya kan ganti, berarti paspor lama harus ikut diunggah juga. Akhirnya saya coba mengirim dokumen paspor lama saya, namun web gangguan. Saya pun langsung meminta adik untuk mencoba server di Jepang, oh iya posisi saya saat itu sudah di Indonesia. Akhirnya adik berhasil mengunggah semua dokumen saya dan sebelum jam 8 waktu Indonesia, dia sudah bersiap siaga dan finally berhasil ya Allah.

Setiap hari saya cek status penyetaraan ijazah saya. Belum ada kabar. Dan di tanggal 7 November 2018 barulah ada pesan ijazah saya sedang diverifikasi dan dinilai tim. Selang dua hari, ijazah saya selesai dicetak. Namun terlambat untuk ikut CPNS dosen tahun ini. Semoga ada rezeki di lain waktu 😀

Posisi saya saat itu masih di Tempirai, Sumatera Selatan. Sehingga belum bisa mengambil berkas. Rencana saya akan mengambilnya di Desember, sekalian libur sekolah dan bisa mudik 😀 Saya pun mendapat kabar dari teman yaitu Mba Restuti Maulida ternyata untuk konversi nilai ada syarat tambahan. Tidak langsung jadi bersamaan dengan SK… (Apalagi ini ya Allah). Dari beliau saya dapat syarat untuk konversi nilai yaitu:

Syarat Pengajuan Konversi Nilai:

  1. Surat Permohonan yang ditujukan ke dir belmawa bahwa kita memohon untuk mengkonversi nilai. (Format surat bebas).
  2. Fotokopi SK penyetaraan ijazah
  3. Fotokopi ijazah
  4. Fotokopi transkrip nilai
  5. Dokumen pendukung: katalog, silabus, nilai perkuliahan.

Saya pun menyiapkan syarat-syarat tersebut sebelum hari pengambilan SK Ijazah. Di tanggal 28 Desember 2018, saya pun menuju gedung D Kemenristekdikti di daerah Senayan. Sekalian pengambilan, saya pun meminta mengirim berkas untuk legalisir dan konversi nilai. Untuk legalisir SK ijazah dibatasi hanya 5 lembar per pengajuan. Legalisir ini bisa kita minta dikirim lewat pos. Namun untuk konversi nilai harus diambil langsung atau kita bisa mewakilkan dengan menulis surat perwakilan kepada teman/ saudara yang mengambil dokumen nantinya.

Sedikit cerita saya dari Sukabumi ke Dikti awalnya naik kereta dari Cibadak ke Bogor Rp 35000. Kemudian dari Bogor naik Commuter line KRL ke Sudirman Rp 5500 dan dilanjut dengan gojek ke dikti Rp 13000. Murah dan mudah. Staff di bagian penyetaraan ijazah pun sangat sopan, kooperatif, dan ramah. Terimakasih ya Mba.

img-20181228-wa0000
Di daam KRL Bogor-Sudirman

Namun agak kesal saat akan fotokopi SK Ijazah. Kita bisa mengopi dokumen di bagian kooperasi dikti, yaitu didekat gedung merah belakang gedung D. Mang fotokopinya gak ramah bangettt. Pas saya bilang mau fotokopi katanya ga bisa. Mesinnya lagi dipakai fotokopi dokumen 1000 lembar. Cik atuh saya cuma mau fotokopi 6 lembar loh. Akhirnya dia bilang bisa dia bantu tapi pake mesin satu lagi, yang harga fotokopinya Rp 1000 per lembar. Ya sudahlah saya setuju. Sepet juga lama-lama sama si mang ini.

Biaya legalisir semua gratiss…dan dikirim ke alamat kita juga gratis. Sekitar 2 minggu legalisir selesai dan sudah sampai di rumah. Tinggal menunggu kabar konversi nilai. Semoga pihak DIKTI bisa semakin baik lagi dalam melayani warga. Sekadar usul di web TOLONG ditambahkan info syarat konversi nilai. Menurut hemat saya, karena konversi nilai juga melalui proses penilaian, mengapa tidak sekalian dilakukan saat tim menilai kelayakan ijazah dan dokumen pendukung kita. Terimakasih.

 

Diposkan pada Haji, Jepang, Memories, Travelling

Mengenang Perjuangan Rasul: Berkunjung ke Gua Hira, Jabal Nur, dan Jabal Rahmah

Bismillahirrahmanirrahim…

Tidak terasa sudah Sabtu lagi. Pekan ini saya dan Mba Nurin sepakat untuk berbagi kisah kami mengunjungi beberapa tempat bersejarah di Makkah. Di sela masa tunggu haji pasca umrah, rombongan kami yaitu HIS Jepang, melakukan sightseeing di Makkah. Tempat-tempat bersejarah ini biasanya saya dengar saat belajar Tarikh islam dan Sejarah Kebudayaan Islam saat Ibtidaiyah sampai Aliyah. Namun saat berhaji kemarin, alhamdulillah kami diberi kesempatan untuk berkunjung ke beberapa tempat bersejarah yang merupakan tempat perjuangan Rasul.

FB_IMG_1546073553325

Saat itu panas terik di waktu dzuhur tidak menyurutkan semangat rombongan HIS Japan grup Kolombo. Grup HIS yang transit di Kolombo ini kebagian jadwal ba’da dzuhur untuk mengunjungi tempat-tempat perjuangan nabi.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Jabal Nur. Di sini Mr. Tamer selaku pimpinan rombongan dari pihak HIS menjelaskan sejarah dari tempat ini dalam bahasa Jepang dan Inggris. Kemudian Ust. Fatah pun memberikan penerangan dengan detail tentang tempat-tempat ini dalam bahasa Indonesia dan Arab.

Jabal Nur dan Gua Hira

FB_IMG_1546073572444

Jabal Nur yang berarti bukit bercahaya dan gua hira adalah tempat bersejarah yang menjadi saksi turunnya wahyu pertama Nabi Muhammad saw. Saat mendengar penjelasan tempat ini saya kembali teringat tentang Rasul yang menerima perintah untuk membaca (iqra). Nabi Muhammad kedinginan, bergemetar seluruh tubuhnya. Ketika pulang ke rumah, istrinya yaitu Khadijah lah yang berperan menenangkan suaminya saat itu. Nabi meminta istrinya itu untuk menyelimutinya…zamiluuni…zamiluuni. Peristiwa ini merupakan penanda dimulainya periode kenabiannya.

Kami diperlihatkan posisi gua hira. Sayang kami tidak sempat untuk melihat ke dalamnya, karena keterbatasan waktu. Gua Hira ini terletak di puncak Jabal Nur. Tepatnya terletak di Kota Hijaz, Saudi Arabia. Kami mengendarai bus untuk menempuh jarak 6Km menuju tempat ini. Subhanallah saat pertama turun dari bus, melihat bukit yang berbatu, kering, anas, dan terjal saya teringat dengan perjuangan Rasul saat itu.

Gua Hira ini keadaan di dalamnya sangat sempit. Hanya masuk satu orang saja. Dari pelajaran yang saya terima, Nabi Muhamamad biasa beruzlah/ bertahannuts (berdiam menyendiri untuk berdzikir kepada Allah) di dalam gua ini.

Jika kita berdiri di puncak gua, maka dengan mudah kita akan melihat baitullah. Nah di dekat Jabal Nur ini katanya Jabal Jibril. Yaitu tempat dimana malaikat Jibril biasa memerhatikan Nabi Muhammad saat berdzikir di gua hira.

Memandangi terjalnya bukit terbayang bagaimana perjuangan Rasul untuk mendakinya manakala beliau ingin menyendiri di sana. Beberapa jamaah ada yang memanjat ke atas. Sekitar 1 jam waktu perjalanan yang harus ditempuh, dan sekarang sudah dipeemidah dengan dibamgunnya anak tangga untuk mencapai tempat ini.

Kalau Mba Nurin, gimana kisahnya saat berkunjung ke tempat ini ya? Kita simak di sini ceritanya.

Cerita Mba Nurin Ainistikmalia

Haji reguler indonesia vs kuota jepang

Kemudian tempat berikutnya yang kami kunjungi adalah Jabal Rahmah.

Jabal Rahmah

FB_IMG_1546073594045

Berbeda dengan tempat sebelumnya, Jabal Rahmah ini mengisahkan Nabi Adam as. Dan Hawa saat dipertemukan kembali di dunia pasca keluar dari surga. Untuk itulah nama Jabal Rahmah yang berarti bukit kasih sayang. Bayangkan Nabi Adam as. Dan Hawa bukan LDR an selama beberapa bulan. Di beberapa riwayat dikatakan mereka terpisah selama berpuluh bahkan beratus-ratus tahun. Masya Allah, tidak terbayang bagaimana rasanya. Saya aja yang harus LDR dua tahun kurang, Jepang-Indonesia berasa gimana gitu ya Rabb :D.

Saat berkeliling untuk Jabal Rahmah ini kami hanya diceritakan di dalam bus dan berhenti sebentar untuk melihatnya. Kami tidak sempat turun atau mendakinya. Oh iya lokasi Jabal Rahmah ini di sekitaran padang Arafah. Jadi kami melihatnya sekaligus diperlihatkan padang Arafah untuk wukuf nantinya :).

Karena waktunya hampir Ashar, rombongan kami pun segera kembali ke sekitar Masjidil Haram untuk segera bergegas kembali beribadah di Masjid.

Itulah dua tempat bersejarah yang kami kunjungi di Mekkah. Untuk bukit lainnya seperti Jabal Tsur, Jabal Kurban, dan Jabal Qubais kami tidak sempat ke sana. Semoga bermanfaat :).

 

 

Diposkan pada Haji, Jepang, Memories, Travelling

Refleksi Haji: Meneladani Pengorbanan Seorang Ibu

Bismillah,

 “Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.”(Al Baqarah : 158)

IMG-20181223-WA0004

Tidak terbayangkan bagaimana panas teriknya mentari saat itu. Gersangnya padang pasir, dan banyaknya debu bertebaran. Keteguhan hatinya berdasarkan keyakinan atas perintah Rabb nya untuk berdiam tinggal di padang tandus. Langkah kaki wanita kuat tersebut tidak terlihat lelah sama sekali. Di dalam pikirannya saat itu hanyalah menemukan sebuah oase di padang nan gersang ini untuk melepaskan dahaga bayi kecilnya, Ismail. Air susunya sudah mulai mengering, tanpa ada asupan makanan sama sekali. Berlari kecil di antara dua bukit dengan kesabarannya itu pun ternyata membuahkan hasil. Ismail kecil berhenti menangis. Di sekitar kaki mungilnya memancar sumber air yang lambat laun mengumpul…zamzam (berkumpullah). Wanita sabar ini berkata berulang-ulang, dan mata air yang berkumpul ini pun kita kenal hingga hari ini. Mata air zamzam, yang airnya melimpah dan tidak pernah habis setiap harinya. Bahkan dalam riwayat yang disampaikan At Thabarani dalam kitab Al Mu’jamaul Kabir dan Ibnu Abbas ra, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda tentang air Zamzam yang artinya:IMG_9025

“Sebaik-baiknya air di permukaan bumi ialah air Zamzam, padanya terdapat makanan yang menyegarkan dan padanya terdapat penawar bagi penyakit.”

Perjuangan Ibunda Hajar tadi untuk anaknya diabadikan dalam salah satu rangkaian ibadah haji, yaitu sa’i. Di rangkaian sa’i ini kita bisa melihat bagaimana pengorbanan seorang ibu yang di dalam pikirannya hanyalah anaknya seorang. Tidak ada kata lelah, tidak ada rasa lemah saat dirinya berpikir untuk keselamatan anaknya. Bertepatan dengan tanggal 22 Desember ini, dalam #CollaborativeBlogging ini saya dan Mba Nurin akan berbagi kisah tentang hikmah dan ibrah selama berhaji, dan beberapa makna keteladanan pengorbanan seorang ibu dan refleksi untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Semoga bermanfaat 😀

Keteladanan Siti Hajar

Hajar adalah sosok wanita cantik nan jelita yang dinikahi Nabi Ibrahim as. Beliau adalah istri kedua dari Nabi Ibrahim. Awalnya Nabi Ibrahim menikah dengan siti Sarah, namun tak kunjung mendapat keturunan. Atas permintaan istri pertamanya, Nabi Ibrahim as pun menikah dengan Hajar. Dari pernikahn keduanya inilah, lahir seorang pemuda hebat nantinya yaitu Nabi Ismail as.

IMG-20181223-WA0002

Namun lambat laun rasa cemburu seorang wanita datang. Siti Sarah merasa cemburu dan meminta Nabi Ibrahim mengasingkan Hajar dan Ismail. Nabi Ibrahim pun mengajak Hajar dan Ismail ke Padang tandus di Tanah Haram. Beberapa kali Hajar memanggil Ibrahim, namun sekuat tenaga beliau tidak menoleh. Kemudian Hajar bertanya apakah ini perintah Allah? Ibrahim pun mengangguk. Hajar pun berkata jika ini perintah Allah, aku yakin Allah tidak akan meninggalkan kami.

Sebuah kepatuhan seorang wanita sebagai hamba Allah dan istri yang taat pada suaminya. Sosok ibunda Hajar ini memang patut kita teladani. Terlebih atas pengorbanannya terhadap anaknya.

Seorang ibu memang selalu berusaha yang terbaik untuk anaknya. Tanpa mengenal lelah dirinya, tanpa menghiraukan keadannya. Ibaratnya untuk makan, mereka rela berkata kenyanh ketika nasi hanya cukup untuk anaknya. Itulah yang saya rasakan saat menjadi seorang anak dari wanita hebat yang saya panggil mama. Terimakasih Mama dan #SelamatHariIbu.

Simak Cerita Mba Nurin Yuk, disini 😀

Cerita Mba Nurin di Hari Ibu

Haji reguler indonesia vs kuota jepang

Pengorbanan Ibunda Hajar ini akan selalu terkenang dan terasa semangatnya saat kita melaksanakan ibadah haji. Apalagi sa’i sekarang sudah sangat nyaman. Lantai dan ruang masjid yang dingin oleh Ac. Ruh pengorbanan seorang ibu kepada anaknya yang tidak akan pernah hilang terlupakan kisahnya.

Refleksi Pasca Haji

Selama melaksanakan sa’i, akan terasa bagaimana keteladanan seorang ibu pada anaknya. Lalu apa yang sebenarnya haris kita lakukan setelah haji? Apakah setelah selesai berhaji, selesai semuanya?

Setiap orang banyak yang mendambakan untuk melengkapi rukun islam ke-5 nya ini. Siapa yang tidak tergiur dengan pahala berupa Surga, pahala tertinggi yang didamba setiap muslim nantinya. Ya, bagi haji mabrur tidak ada balasan lain kecuali surga.

IMG-20181223-WA0001

Pasca haji inilah yang berat. Ketika kita kembali beraktifitas di tanah air, kembali bekerja. Sudah sepatutnya apa yang kita lakukan saat berhaji terus dilanjutkan. Seperti salat tepat waktu. Selama di Mekkah dan Madinah semangat diri untuk terus bisa salat tepat waktu berjama’ah di masjid sangat menggebu. Akan sangat malu rasanya diri ini jika sepulang haji malah lalai salat, malah terlambat untuk bersegera menunaikan kewajiban pada RabbNya.

Sebentar lagi pergantian tahun masehi ini dimulai. Hendaknya setiap kebaikan yang kita lakukan saat berhaji, terus terbawa semangatnya hingga kini dan nanti. Hendaknya di pergantian tahun tidak hanya resolusi duniawi yang kita buat. Namun resolusi dan target ukhrawi juga harus kita prioritaskan. Bukankah hakekat berhaji harus menjadi pribadi yang lebih baik lagi? Ya, bahkan suami selalu mengingatkan saat di Tanah haram. Jangan asyik berfoto dan berselfie ria. Berhaji adalah memenuhi panggilan Allah. Di sana kita beribadah, bukan berwisata. Semoga diri ini bisa terus berintrospeksi menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

IMG-20181223-WA0003

Sukabumi, 22 Desember 2018

 

Diposkan pada Haji, Jepang, Kuliner, Memories, Travelling

Menjadi Lidah Arab Selama di Mekkah, Kembali Meng-Indonesia di Madinah

Bismillah…

Sudah episode berapa sekarang?

Apa temanya untuk pekan depan?

Semoga teman-teman masih setia mendengarkan kisah kami di #CollaborativeBlogging ini ya 😀 Jreng… Tema pekan ini tentang kuliner.  Wah senangnya 😀 Yup, saya sangat senang karena di Mekkah dan Madinah tentunya semua makanan halal. Saya tidak perlu harus capai-capai baca komposisi bahan dengan membuka google translate an seperti saat di Jepang. Oke, saya dan Mba Nurin akan saling bercerita tentang bagaimana makan kami selama berhaji dan saat di Madinah, juga kerinduan kami dengan masakan tertentu. Ayo, kangen apa coba? 😀

Di HIS travel Japan Hajj and Umrah, paket harga haji sudah termasuk dua kali makan yaitu sarapan dan makan malam. Sementara makan siang disediakan camilan dan buah-buahan. Seperti apa kami makan?

Tempat makan kami berada di lantai tiga, lantai paling atas di penginapan Daar El Malky. Makanan disediakan secara prasmanan dengan menu Arab, Wiih…Secara kokinya juga orang Arab asli 😀

Sayangnya saya tidak mengabadikan menu-menu tersebut dalam kamera. 😦

Menu yang saya nikmati adalah beras basmati yang biasa dimasak ala orang Arab saat di Jepang (biasanya saat Ramadhan ada jadwal pernegara masak. Dan saya suka ketika jadwalnya orang Arab, karena menunya selalu daging dan nasi dari beras basmati ini). Lauknya? Yang saya ingat adalah telur direbus dengan taburan garam di luar kulitnya. Lalu ada kari kacang merah, ayam bakar, kuah kuning ala Arab, dan salad. Ini adalah menu tersering kami. Namun suatu hari pernah juga ada ikan patin yang dimasak cukup enak menurut saya, agak Indonesia sedikit. Meskipun saya suka masakan Arab, namun ternyata terlalu rutin mengonsumsinya membuat saya rindu masakan Indonesia. Alhamdulillahnya di menu siang hari, camilan yang disediakan adalah Indomie Cup :D. Yang saya ingat adalah rasa ayam dan kari. Di setiap menu makan kami dilengkapi dengan buah madu cup, roti, keju, dan buah zaitun. Arab banget kan?

cup-chicken-Flavour-1
Sumber: http://indomie.com.sa/en/products/indomie-cup/

Untuk mengakali makan siang, karena biasanya saya dan suami juga jarang pulang ke penginapan, kami biasa membawa bekal. Bekal darimana?

Di Mekkah saya melihat di mana-mana orang bersedekah. Ya, setiap hari selalu ada yang membagikan makanan. Menunya? Nasi basmati dan ayam, atau terkadang malah daging. Ada juga yang membagikan roti. Air? Ngga perlu khawatir, zamzam ada di setiap penjuru di masjid. Bahkan banyak orang-orang yang berbagi air minum di sepanjang jalan menuju masjidil Haram. Masya Allah 😀

Namun ternyata tetap saja kerinduan ini datang. Kerinduan ingin jajan alias berkuliner ria. Saya sebetulnya bukan tipe pemilih makanan, tapi terkadang kalau sudah bosan sama itu-itu juga apalagi nasi, saya inginnya mengemil makanan berat seperti bakso, mie ayam, batagor, seblak, dan kawan-kawannya 😀

Akhirnya saya pun mengajak suami untuk jajan burger. Mengapa burger? Di Jepang gak ada yang halal, dan saya kangen makanan junk food ini. Harganya relatif sama, tapi saya beli yang 15 riyal, selalu 😀 Dan isinya tidak sesuai harapan, karena tidak ada sayuran. Hanya daging ayam/ sapi burger dengan kentang. Dan tidak ada saus 😦 Masih menjadi lidah Arab lagi.

Mba Nurin Berkuliner Apa ya?

Cerita Mba Nurin Ainistikmalia

Haji reguler indonesia vs kuota jepang
Foto By: Mba Nurin Ainistikmalia

Saya pun bercerita dengan teman-teman sekamar, dan kebetulan Mba Dwi yang sedang hamil pun merasakan ngidam ingin menikmati bakso. Dia bercerita bakso ada di Grapari, namun katanya dia pun belum sempat mencicipi. Saya sampai mencari di internet lokasi tempat bakso, dan hingga menuju Mina dan sekembalinya dari Mina, saya pun gagal makan bakso di Mekkah. Kalau kata suami, makanan yang disediakan saja sudah berlimpah. Harus bersyukur. 😀

IMG_7154
KFC di area Bin Dawood. Dokumentasi: Pribadi

Saat inti ibadah haji di Mina, Arafah, dan Muzdalifah, maktab kami no. 96 pun tetap sama berkoki orang Arab. Menu yang disediakan dalam bentuk kotakan aluminium. Biasanya menunya adalah pagi hari telur rebus, roti, madu, keju, dan air. Lalu siang dan malam hari nasi basmati, ayam goreng, dan alhamdulillah pernah nikmat banget ada ikan teri cabai ala Indonesia dan sambalnya nikmat :D. Saat di Mina pun selalu didistribusikan apel, Jeruk, dan minuman dingin. Karena Masya Allah panasnya. Nah, karena sering kelaparan habis subuh, saat di Mina ini saya dua kali membeli Indomie cup. Indomie di Mekkah dibandrol dengan harga 5 riyal atau sekitar Rp 20000. Dan setiap menyeduh mie ini saya selalu senyum saat ke dapur. Air panas di keran dapur tertulis Air banas… dalam huruf hijaiyah tentunya 😀

Setelah selesai ibadah haji, kami kembali ke penginapan. Hadyu dari kurban kami semua ternyata sudah diolah oleh koki kami. Baru kai ini saya menikmati olahan daging kambing ala Arab. Potongannya besar-besar, namun dagingnya empuk. Saya sampai heran, gimana cara masaknya ya? Nikmat ya Allah. Kadang takut ga kekontrol untuk nambah lagi.

IMG_7145
Salah Satu Menu Masakan Daging Hadyu Kami. Dokumentasi: Grup HIS Hajj

Yuk, pindah ke Madinah 😀

Di Madinah kami tinggal di hotel yang besar. Tempat makan kami pun lebih besar. Selama di Madinah ini makan disediakan tiga kali secara prasmanan. Dan di sini masya Allah, menu terbagi dua. Menu Indonesia banget, dan menu Arab. Di sini kerinduan saya akan menu Indonesia sangat terobati. Selalu ada sambal dan mentimun.

IMG_7155
Ada McD di Area Bin Dawood Mekkah. Dokumentasi: Pribadi

Tapi kembali, saya tergoda ingin makan bakso karena postingan beberapa teman di grup. Saya sampai niat mengajak suami ke arah pintu 16 untuk menikmati bakso itu. Dan..ketemu. Plangnya terlihat. Bakso Si Doel di dekat Restoran Indonesia. Ya, di Madinah ini lebih banyak katanya Restoran Indonesianya. Namun saya dan suami agak bingung pintu masuknya. Katanya naik ke lantai atas. Kami coba masuk dulu, tapi kok ini hotel tempat menginap orang-orang negara lain. Suami membujuk saya untuk menyerah. Dan, ya sudahlah. Saya pun menyerah. Tapi ternyata rezeki gak kemana. Saat makan siang menu di hotel adalah bakso. Ya Allah. Kata orang-orang juga rasa baksonya sama dengan bakso si Doel itu. Alhamdulillah.

Jadi selama di Mekkah dan Madinah ini saya hanya jajan di pinggir jalan, yaitu burger , pizza dan jus. Makanan junk food yang selama di Jepang saya impikan 😀 Untuk bakso? alhamdulillah nya di Jepang suka buat, meskipun ala kadarnya 😀

39956110_2191150941166123_150008037824790528_n
Rombongan HIS Japan di Jamarat. Dokumentasi: HIS Japan