Pengalaman Menyetarakan Ijazah Luar Negeri

Pasca menyelesaikan studi di luar negeri, hal yang biasa dilakukan para mahasiswa ini adalah menyetarakan ijazah yang didapatnya. Begitupun dengan saya. Setelah selesai kuliah master di Jepang, dan pada tanggal 20 September 2018 ijazah sudah di tangan, saya pun mulai mencari info untuk penyetaraan ijazah luar negeri ini. Saya langsung todong adik saya untuk bertanya-tanya. Ternyata di tahun 2018 ini per tanggal 1 Maret, semua pengajuan berkasnya online dan ada fitur konversi nilai. Saya pun langsung menuju web penyetaraan ijazah yaitu http://ijazahln.ristekdikti.go.id/ijazahln/

Di sana sudah tertera jelas jadwal pelayanan untuk kirim berkas secara online, yaitu di jam kerja Senin-Jum’at jam 08.00 WIB s.d 14.00 WIB.

img-20181228-wa0002

Dalam Ruangan Bagian Penyetaraan Ijazah

Senin – Jum’at 08.00 – 14.00 Pendaftaran & Unggah Berkas (Submit)
Senin – Jum’at 08.30 – 12.00 Verifikasi & Penilaian Berkas
12.00 – 13.00 Istirahat
13.00 – 14.00 Verifikasi & Penilaian Berkas
Senin – Jum’at 08.30 – 12.00 Pengambilan SK
12.00 – 13.00 Istirahat
13.00 – 14.00 Pengambilan SK

Saat adik saya menyetarakan ijazah, ternyata tidak perlu berpacu dengan waktu dan kuota. Namun saat saya menyetarakan di September 2018 lalu, ada kuota harian berapa berkas yang bisa diproses. yaitu sebanyak 50 buah, dan setelah kuota terpenuhi otomatis kita tidak bisa mengirim dokumen kita.

Saya pun sampai berulang kali harus mencoba, pasalnya baru beberapa menit lewat dari jam 8 pagi, kuota selalu penuh. Oleh karena itu, saran saya adalah buatlah akun terlebih dahulu. Kemudian lengkapi semua dokumen yang diminta. Siapkan dokumen berupa foto semua halaman paspor, ijazah berbahasa Inggris, Transkrip nilai berbahasa Inggris, dokumen pendukung seperti katalog perkuliahan: silabus, tentang jurusan kita, penilaian di tempat studi kita, dan gelar di sana. Dokumen pendukung inilah yang akan dinilai oleh tim penilai, apakah kuliah kita di luar negeri itu bisa disetarakan dengan kurikulum di dalam negeri atau tidak. PASTIKAN semua dokumen sudah benar. Saya harus beberapa kali mencoba. Sekitar jam 07.55 saya sudah log in, dan memastikan semua dokumen terunggah. Sehingga saat jam 08.00 wib tinggal diklik tombol kirim nya. Saat itu posisi saya masih di Jepang, yaitu di apato adik di Kyushu. Waktu Jepang sudah menunjukkan pukul 10 tepat, artinya di Jakarta pukul 8. Saya pun mengklik tombol kirim, namun ternyata gangguan. Setelah direfresh, kuota hari itu sudah terpenuhi. Sedihnya T_T

Sepertinya orang-orang saat itu mengejar seleksi CPNS yang akan diadakan Oktober tahun 2018 ini. Suatu hari saya berhasil mengirim. Alhamdulillah perjuangan banget. Namun ternyata waktu prosesnya lumayan lama. Padahal saat itu saya ingin melamar CPNS di Kemenristekdikti untuk menjadi dosen di UNSRI. Mengapa UNSRI? Karena fokus saya sekarang adalah mengajar di daerah yang sama dengan tempat tugas suami T_T yaitu di Sumatera Selatan (Semoga bisa segera kembali ke tanah Sunda). Akhirnya pupus harapan saya. H-3 belum ada kejelasan he, sampai saya mengirim pesan pada Pak Agus yang bekerja di dikti yang fokusnya di SM-3T. Namun kata beliau ijazah saya sepertinya masih lama karena ada dokumen yang kurang. What? Kira-kira apa yang kurang, perasaan saya sudah lengkap semua. Dan ternyata untuk melengkapi berkas itu kita harus masuk akun lagi, unggah dokumen lagi, dan bersaing dengan kuota 50 per hari lagi untuk bisa kirim ulang dokumen. T_T

Ini beberapa dokumen pendukung penyetaraan ijazah saya:

hiroshima university syllabus

degrees _ hiroshima university

Saya pun mencoba mengirim email ke pihak dikti bag. penyetaraan ijazah. Barulah ada balasan dan mereka mengatakan ijazah saya belum bisa diproses, karena kurang dokumen yaitu: tidak ada ijazah dan transkrip berbahasa Inggris dan kurangnya foto halaman paspor. Padahal saya sudah mengunggah dokumen-dokumen tersebut ckck… Akhirnya saya balas email tersebut dan mengirim dokumen via email. Namun ternyata saya tetap harus mengunggah kembali lewat akun. Lama tidak ada kabar lagi, saya pun menulis kegundahan saya di Lapor.id, barulah ada pesan di email yang menyatakan laggi-lagi dokumen saya kurang yaitu haaman paspor. Astaghfirullah, kalau ini saya ngaku saya yang khilaf. Paspor saya kan ganti, berarti paspor lama harus ikut diunggah juga. Akhirnya saya coba mengirim dokumen paspor lama saya, namun web gangguan. Saya pun langsung meminta adik untuk mencoba server di Jepang, oh iya posisi saya saat itu sudah di Indonesia. Akhirnya adik berhasil mengunggah semua dokumen saya dan sebelum jam 8 waktu Indonesia, dia sudah bersiap siaga dan finally berhasil ya Allah.

Setiap hari saya cek status penyetaraan ijazah saya. Belum ada kabar. Dan di tanggal 7 November 2018 barulah ada pesan ijazah saya sedang diverifikasi dan dinilai tim. Selang dua hari, ijazah saya selesai dicetak. Namun terlambat untuk ikut CPNS dosen tahun ini. Semoga ada rezeki di lain waktu 😀

Posisi saya saat itu masih di Tempirai, Sumatera Selatan. Sehingga belum bisa mengambil berkas. Rencana saya akan mengambilnya di Desember, sekalian libur sekolah dan bisa mudik 😀 Saya pun mendapat kabar dari teman yaitu Mba Restuti Maulida ternyata untuk konversi nilai ada syarat tambahan. Tidak langsung jadi bersamaan dengan SK… (Apalagi ini ya Allah). Dari beliau saya dapat syarat untuk konversi nilai yaitu:

Syarat Pengajuan Konversi Nilai:

  1. Surat Permohonan yang ditujukan ke dir belmawa bahwa kita memohon untuk mengkonversi nilai. (Format surat bebas).
  2. Fotokopi SK penyetaraan ijazah
  3. Fotokopi ijazah
  4. Fotokopi transkrip nilai
  5. Dokumen pendukung: katalog, silabus, nilai perkuliahan.

Saya pun menyiapkan syarat-syarat tersebut sebelum hari pengambilan SK Ijazah. Di tanggal 28 Desember 2018, saya pun menuju gedung D Kemenristekdikti di daerah Senayan. Sekalian pengambilan, saya pun meminta mengirim berkas untuk legalisir dan konversi nilai. Untuk legalisir SK ijazah dibatasi hanya 5 lembar per pengajuan. Legalisir ini bisa kita minta dikirim lewat pos. Namun untuk konversi nilai harus diambil langsung atau kita bisa mewakilkan dengan menulis surat perwakilan kepada teman/ saudara yang mengambil dokumen nantinya.

Sedikit cerita saya dari Sukabumi ke Dikti awalnya naik kereta dari Cibadak ke Bogor Rp 35000. Kemudian dari Bogor naik Commuter line KRL ke Sudirman Rp 5500 dan dilanjut dengan gojek ke dikti Rp 13000. Murah dan mudah. Staff di bagian penyetaraan ijazah pun sangat sopan, kooperatif, dan ramah. Terimakasih ya Mba.

img-20181228-wa0000

Di daam KRL Bogor-Sudirman

Namun agak kesal saat akan fotokopi SK Ijazah. Kita bisa mengopi dokumen di bagian kooperasi dikti, yaitu didekat gedung merah belakang gedung D. Mang fotokopinya gak ramah bangettt. Pas saya bilang mau fotokopi katanya ga bisa. Mesinnya lagi dipakai fotokopi dokumen 1000 lembar. Cik atuh saya cuma mau fotokopi 6 lembar loh. Akhirnya dia bilang bisa dia bantu tapi pake mesin satu lagi, yang harga fotokopinya Rp 1000 per lembar. Ya sudahlah saya setuju. Sepet juga lama-lama sama si mang ini.

Biaya legalisir semua gratiss…dan dikirim ke alamat kita juga gratis. Sekitar 2 minggu legalisir selesai dan sudah sampai di rumah. Tinggal menunggu kabar konversi nilai. Semoga pihak DIKTI bisa semakin baik lagi dalam melayani warga. Sekadar usul di web TOLONG ditambahkan info syarat konversi nilai. Menurut hemat saya, karena konversi nilai juga melalui proses penilaian, mengapa tidak sekalian dilakukan saat tim menilai kelayakan ijazah dan dokumen pendukung kita. Terimakasih.

 

Mengenang Perjuangan Rasul: Berkunjung ke Gua Hira, Jabal Nur, dan Jabal Rahmah

Bismillahirrahmanirrahim…

Tidak terasa sudah Sabtu lagi. Pekan ini saya dan Mba Nurin sepakat untuk berbagi kisah kami mengunjungi beberapa tempat bersejarah di Makkah. Di sela masa tunggu haji pasca umrah, rombongan kami yaitu HIS Jepang, melakukan sightseeing di Makkah. Tempat-tempat bersejarah ini biasanya saya dengar saat belajar Tarikh islam dan Sejarah Kebudayaan Islam saat Ibtidaiyah sampai Aliyah. Namun saat berhaji kemarin, alhamdulillah kami diberi kesempatan untuk berkunjung ke beberapa tempat bersejarah yang merupakan tempat perjuangan Rasul.

FB_IMG_1546073553325

Saat itu panas terik di waktu dzuhur tidak menyurutkan semangat rombongan HIS Japan grup Kolombo. Grup HIS yang transit di Kolombo ini kebagian jadwal ba’da dzuhur untuk mengunjungi tempat-tempat perjuangan nabi.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Jabal Nur. Di sini Mr. Tamer selaku pimpinan rombongan dari pihak HIS menjelaskan sejarah dari tempat ini dalam bahasa Jepang dan Inggris. Kemudian Ust. Fatah pun memberikan penerangan dengan detail tentang tempat-tempat ini dalam bahasa Indonesia dan Arab.

Jabal Nur dan Gua Hira

FB_IMG_1546073572444

Jabal Nur yang berarti bukit bercahaya dan gua hira adalah tempat bersejarah yang menjadi saksi turunnya wahyu pertama Nabi Muhammad saw. Saat mendengar penjelasan tempat ini saya kembali teringat tentang Rasul yang menerima perintah untuk membaca (iqra). Nabi Muhammad kedinginan, bergemetar seluruh tubuhnya. Ketika pulang ke rumah, istrinya yaitu Khadijah lah yang berperan menenangkan suaminya saat itu. Nabi meminta istrinya itu untuk menyelimutinya…zamiluuni…zamiluuni. Peristiwa ini merupakan penanda dimulainya periode kenabiannya.

Kami diperlihatkan posisi gua hira. Sayang kami tidak sempat untuk melihat ke dalamnya, karena keterbatasan waktu. Gua Hira ini terletak di puncak Jabal Nur. Tepatnya terletak di Kota Hijaz, Saudi Arabia. Kami mengendarai bus untuk menempuh jarak 6Km menuju tempat ini. Subhanallah saat pertama turun dari bus, melihat bukit yang berbatu, kering, anas, dan terjal saya teringat dengan perjuangan Rasul saat itu.

Gua Hira ini keadaan di dalamnya sangat sempit. Hanya masuk satu orang saja. Dari pelajaran yang saya terima, Nabi Muhamamad biasa beruzlah/ bertahannuts (berdiam menyendiri untuk berdzikir kepada Allah) di dalam gua ini.

Jika kita berdiri di puncak gua, maka dengan mudah kita akan melihat baitullah. Nah di dekat Jabal Nur ini katanya Jabal Jibril. Yaitu tempat dimana malaikat Jibril biasa memerhatikan Nabi Muhammad saat berdzikir di gua hira.

Memandangi terjalnya bukit terbayang bagaimana perjuangan Rasul untuk mendakinya manakala beliau ingin menyendiri di sana. Beberapa jamaah ada yang memanjat ke atas. Sekitar 1 jam waktu perjalanan yang harus ditempuh, dan sekarang sudah dipeemidah dengan dibamgunnya anak tangga untuk mencapai tempat ini.

Kalau Mba Nurin, gimana kisahnya saat berkunjung ke tempat ini ya? Kita simak di sini ceritanya.

Cerita Mba Nurin Ainistikmalia

Haji reguler indonesia vs kuota jepang

Kemudian tempat berikutnya yang kami kunjungi adalah Jabal Rahmah.

Jabal Rahmah

FB_IMG_1546073594045

Berbeda dengan tempat sebelumnya, Jabal Rahmah ini mengisahkan Nabi Adam as. Dan Hawa saat dipertemukan kembali di dunia pasca keluar dari surga. Untuk itulah nama Jabal Rahmah yang berarti bukit kasih sayang. Bayangkan Nabi Adam as. Dan Hawa bukan LDR an selama beberapa bulan. Di beberapa riwayat dikatakan mereka terpisah selama berpuluh bahkan beratus-ratus tahun. Masya Allah, tidak terbayang bagaimana rasanya. Saya aja yang harus LDR dua tahun kurang, Jepang-Indonesia berasa gimana gitu ya Rabb :D.

Saat berkeliling untuk Jabal Rahmah ini kami hanya diceritakan di dalam bus dan berhenti sebentar untuk melihatnya. Kami tidak sempat turun atau mendakinya. Oh iya lokasi Jabal Rahmah ini di sekitaran padang Arafah. Jadi kami melihatnya sekaligus diperlihatkan padang Arafah untuk wukuf nantinya :).

Karena waktunya hampir Ashar, rombongan kami pun segera kembali ke sekitar Masjidil Haram untuk segera bergegas kembali beribadah di Masjid.

Itulah dua tempat bersejarah yang kami kunjungi di Mekkah. Untuk bukit lainnya seperti Jabal Tsur, Jabal Kurban, dan Jabal Qubais kami tidak sempat ke sana. Semoga bermanfaat :).

 

 

Refleksi Haji: Meneladani Pengorbanan Seorang Ibu

Bismillah,

 “Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.”(Al Baqarah : 158)

IMG-20181223-WA0004

Tidak terbayangkan bagaimana panas teriknya mentari saat itu. Gersangnya padang pasir, dan banyaknya debu bertebaran. Keteguhan hatinya berdasarkan keyakinan atas perintah Rabb nya untuk berdiam tinggal di padang tandus. Langkah kaki wanita kuat tersebut tidak terlihat lelah sama sekali. Di dalam pikirannya saat itu hanyalah menemukan sebuah oase di padang nan gersang ini untuk melepaskan dahaga bayi kecilnya, Ismail. Air susunya sudah mulai mengering, tanpa ada asupan makanan sama sekali. Berlari kecil di antara dua bukit dengan kesabarannya itu pun ternyata membuahkan hasil. Ismail kecil berhenti menangis. Di sekitar kaki mungilnya memancar sumber air yang lambat laun mengumpul…zamzam (berkumpullah). Wanita sabar ini berkata berulang-ulang, dan mata air yang berkumpul ini pun kita kenal hingga hari ini. Mata air zamzam, yang airnya melimpah dan tidak pernah habis setiap harinya. Bahkan dalam riwayat yang disampaikan At Thabarani dalam kitab Al Mu’jamaul Kabir dan Ibnu Abbas ra, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda tentang air Zamzam yang artinya:IMG_9025

“Sebaik-baiknya air di permukaan bumi ialah air Zamzam, padanya terdapat makanan yang menyegarkan dan padanya terdapat penawar bagi penyakit.”

Perjuangan Ibunda Hajar tadi untuk anaknya diabadikan dalam salah satu rangkaian ibadah haji, yaitu sa’i. Di rangkaian sa’i ini kita bisa melihat bagaimana pengorbanan seorang ibu yang di dalam pikirannya hanyalah anaknya seorang. Tidak ada kata lelah, tidak ada rasa lemah saat dirinya berpikir untuk keselamatan anaknya. Bertepatan dengan tanggal 22 Desember ini, dalam #CollaborativeBlogging ini saya dan Mba Nurin akan berbagi kisah tentang hikmah dan ibrah selama berhaji, dan beberapa makna keteladanan pengorbanan seorang ibu dan refleksi untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Semoga bermanfaat 😀

Keteladanan Siti Hajar

Hajar adalah sosok wanita cantik nan jelita yang dinikahi Nabi Ibrahim as. Beliau adalah istri kedua dari Nabi Ibrahim. Awalnya Nabi Ibrahim menikah dengan siti Sarah, namun tak kunjung mendapat keturunan. Atas permintaan istri pertamanya, Nabi Ibrahim as pun menikah dengan Hajar. Dari pernikahn keduanya inilah, lahir seorang pemuda hebat nantinya yaitu Nabi Ismail as.

IMG-20181223-WA0002

Namun lambat laun rasa cemburu seorang wanita datang. Siti Sarah merasa cemburu dan meminta Nabi Ibrahim mengasingkan Hajar dan Ismail. Nabi Ibrahim pun mengajak Hajar dan Ismail ke Padang tandus di Tanah Haram. Beberapa kali Hajar memanggil Ibrahim, namun sekuat tenaga beliau tidak menoleh. Kemudian Hajar bertanya apakah ini perintah Allah? Ibrahim pun mengangguk. Hajar pun berkata jika ini perintah Allah, aku yakin Allah tidak akan meninggalkan kami.

Sebuah kepatuhan seorang wanita sebagai hamba Allah dan istri yang taat pada suaminya. Sosok ibunda Hajar ini memang patut kita teladani. Terlebih atas pengorbanannya terhadap anaknya.

Seorang ibu memang selalu berusaha yang terbaik untuk anaknya. Tanpa mengenal lelah dirinya, tanpa menghiraukan keadannya. Ibaratnya untuk makan, mereka rela berkata kenyanh ketika nasi hanya cukup untuk anaknya. Itulah yang saya rasakan saat menjadi seorang anak dari wanita hebat yang saya panggil mama. Terimakasih Mama dan #SelamatHariIbu.

Simak Cerita Mba Nurin Yuk, disini 😀

Cerita Mba Nurin di Hari Ibu

Haji reguler indonesia vs kuota jepang

Pengorbanan Ibunda Hajar ini akan selalu terkenang dan terasa semangatnya saat kita melaksanakan ibadah haji. Apalagi sa’i sekarang sudah sangat nyaman. Lantai dan ruang masjid yang dingin oleh Ac. Ruh pengorbanan seorang ibu kepada anaknya yang tidak akan pernah hilang terlupakan kisahnya.

Refleksi Pasca Haji

Selama melaksanakan sa’i, akan terasa bagaimana keteladanan seorang ibu pada anaknya. Lalu apa yang sebenarnya haris kita lakukan setelah haji? Apakah setelah selesai berhaji, selesai semuanya?

Setiap orang banyak yang mendambakan untuk melengkapi rukun islam ke-5 nya ini. Siapa yang tidak tergiur dengan pahala berupa Surga, pahala tertinggi yang didamba setiap muslim nantinya. Ya, bagi haji mabrur tidak ada balasan lain kecuali surga.

IMG-20181223-WA0001

Pasca haji inilah yang berat. Ketika kita kembali beraktifitas di tanah air, kembali bekerja. Sudah sepatutnya apa yang kita lakukan saat berhaji terus dilanjutkan. Seperti salat tepat waktu. Selama di Mekkah dan Madinah semangat diri untuk terus bisa salat tepat waktu berjama’ah di masjid sangat menggebu. Akan sangat malu rasanya diri ini jika sepulang haji malah lalai salat, malah terlambat untuk bersegera menunaikan kewajiban pada RabbNya.

Sebentar lagi pergantian tahun masehi ini dimulai. Hendaknya setiap kebaikan yang kita lakukan saat berhaji, terus terbawa semangatnya hingga kini dan nanti. Hendaknya di pergantian tahun tidak hanya resolusi duniawi yang kita buat. Namun resolusi dan target ukhrawi juga harus kita prioritaskan. Bukankah hakekat berhaji harus menjadi pribadi yang lebih baik lagi? Ya, bahkan suami selalu mengingatkan saat di Tanah haram. Jangan asyik berfoto dan berselfie ria. Berhaji adalah memenuhi panggilan Allah. Di sana kita beribadah, bukan berwisata. Semoga diri ini bisa terus berintrospeksi menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

IMG-20181223-WA0003

Sukabumi, 22 Desember 2018

 

Menjadi Lidah Arab Selama di Mekkah, Kembali Meng-Indonesia di Madinah

Bismillah…

Sudah episode berapa sekarang?

Apa temanya untuk pekan depan?

Semoga teman-teman masih setia mendengarkan kisah kami di #CollaborativeBlogging ini ya 😀 Jreng… Tema pekan ini tentang kuliner.  Wah senangnya 😀 Yup, saya sangat senang karena di Mekkah dan Madinah tentunya semua makanan halal. Saya tidak perlu harus capai-capai baca komposisi bahan dengan membuka google translate an seperti saat di Jepang. Oke, saya dan Mba Nurin akan saling bercerita tentang bagaimana makan kami selama berhaji dan saat di Madinah, juga kerinduan kami dengan masakan tertentu. Ayo, kangen apa coba? 😀

Di HIS travel Japan Hajj and Umrah, paket harga haji sudah termasuk dua kali makan yaitu sarapan dan makan malam. Sementara makan siang disediakan camilan dan buah-buahan. Seperti apa kami makan?

Tempat makan kami berada di lantai tiga, lantai paling atas di penginapan Daar El Malky. Makanan disediakan secara prasmanan dengan menu Arab, Wiih…Secara kokinya juga orang Arab asli 😀

Sayangnya saya tidak mengabadikan menu-menu tersebut dalam kamera. 😦

Menu yang saya nikmati adalah beras basmati yang biasa dimasak ala orang Arab saat di Jepang (biasanya saat Ramadhan ada jadwal pernegara masak. Dan saya suka ketika jadwalnya orang Arab, karena menunya selalu daging dan nasi dari beras basmati ini). Lauknya? Yang saya ingat adalah telur direbus dengan taburan garam di luar kulitnya. Lalu ada kari kacang merah, ayam bakar, kuah kuning ala Arab, dan salad. Ini adalah menu tersering kami. Namun suatu hari pernah juga ada ikan patin yang dimasak cukup enak menurut saya, agak Indonesia sedikit. Meskipun saya suka masakan Arab, namun ternyata terlalu rutin mengonsumsinya membuat saya rindu masakan Indonesia. Alhamdulillahnya di menu siang hari, camilan yang disediakan adalah Indomie Cup :D. Yang saya ingat adalah rasa ayam dan kari. Di setiap menu makan kami dilengkapi dengan buah madu cup, roti, keju, dan buah zaitun. Arab banget kan?

Untuk mengakali makan siang, karena biasanya saya dan suami juga jarang pulang ke penginapan, kami biasa membawa bekal. Bekal darimana?

Di Mekkah saya melihat di mana-mana orang bersedekah. Ya, setiap hari selalu ada yang membagikan makanan. Menunya? Nasi basmati dan ayam, atau terkadang malah daging. Ada juga yang membagikan roti. Air? Ngga perlu khawatir, zamzam ada di setiap penjuru di masjid. Bahkan banyak orang-orang yang berbagi air minum di sepanjang jalan menuju masjidil Haram. Masya Allah 😀

Namun ternyata tetap saja kerinduan ini datang. Kerinduan ingin jajan alias berkuliner ria. Saya sebetulnya bukan tipe pemilih makanan, tapi terkadang kalau sudah bosan sama itu-itu juga apalagi nasi, saya inginnya mengemil makanan berat seperti bakso, mie ayam, batagor, seblak, dan kawan-kawannya 😀

Akhirnya saya pun mengajak suami untuk jajan burger. Mengapa burger? Di Jepang gak ada yang halal, dan saya kangen makanan junk food ini. Harganya relatif sama, tapi saya beli yang 15 riyal, selalu 😀 Dan isinya tidak sesuai harapan, karena tidak ada sayuran. Hanya daging ayam/ sapi burger dengan kentang. Dan tidak ada saus 😦 Masih menjadi lidah Arab lagi.

Mba Nurin Berkuliner Apa ya?

Cerita Mba Nurin Ainistikmalia

Haji reguler indonesia vs kuota jepang

Foto By: Mba Nurin Ainistikmalia

Saya pun bercerita dengan teman-teman sekamar, dan kebetulan Mba Dwi yang sedang hamil pun merasakan ngidam ingin menikmati bakso. Dia bercerita bakso ada di Grapari, namun katanya dia pun belum sempat mencicipi. Saya sampai mencari di internet lokasi tempat bakso, dan hingga menuju Mina dan sekembalinya dari Mina, saya pun gagal makan bakso di Mekkah. Kalau kata suami, makanan yang disediakan saja sudah berlimpah. Harus bersyukur. 😀

IMG_7154

KFC di area Bin Dawood. Dokumentasi: Pribadi

Saat inti ibadah haji di Mina, Arafah, dan Muzdalifah, maktab kami no. 96 pun tetap sama berkoki orang Arab. Menu yang disediakan dalam bentuk kotakan aluminium. Biasanya menunya adalah pagi hari telur rebus, roti, madu, keju, dan air. Lalu siang dan malam hari nasi basmati, ayam goreng, dan alhamdulillah pernah nikmat banget ada ikan teri cabai ala Indonesia dan sambalnya nikmat :D. Saat di Mina pun selalu didistribusikan apel, Jeruk, dan minuman dingin. Karena Masya Allah panasnya. Nah, karena sering kelaparan habis subuh, saat di Mina ini saya dua kali membeli Indomie cup. Indomie di Mekkah dibandrol dengan harga 5 riyal atau sekitar Rp 20000. Dan setiap menyeduh mie ini saya selalu senyum saat ke dapur. Air panas di keran dapur tertulis Air banas… dalam huruf hijaiyah tentunya 😀

Setelah selesai ibadah haji, kami kembali ke penginapan. Hadyu dari kurban kami semua ternyata sudah diolah oleh koki kami. Baru kai ini saya menikmati olahan daging kambing ala Arab. Potongannya besar-besar, namun dagingnya empuk. Saya sampai heran, gimana cara masaknya ya? Nikmat ya Allah. Kadang takut ga kekontrol untuk nambah lagi.

IMG_7145

Salah Satu Menu Masakan Daging Hadyu Kami. Dokumentasi: Grup HIS Hajj

Yuk, pindah ke Madinah 😀

Di Madinah kami tinggal di hotel yang besar. Tempat makan kami pun lebih besar. Selama di Madinah ini makan disediakan tiga kali secara prasmanan. Dan di sini masya Allah, menu terbagi dua. Menu Indonesia banget, dan menu Arab. Di sini kerinduan saya akan menu Indonesia sangat terobati. Selalu ada sambal dan mentimun.

IMG_7155

Ada McD di Area Bin Dawood Mekkah. Dokumentasi: Pribadi

Tapi kembali, saya tergoda ingin makan bakso karena postingan beberapa teman di grup. Saya sampai niat mengajak suami ke arah pintu 16 untuk menikmati bakso itu. Dan..ketemu. Plangnya terlihat. Bakso Si Doel di dekat Restoran Indonesia. Ya, di Madinah ini lebih banyak katanya Restoran Indonesianya. Namun saya dan suami agak bingung pintu masuknya. Katanya naik ke lantai atas. Kami coba masuk dulu, tapi kok ini hotel tempat menginap orang-orang negara lain. Suami membujuk saya untuk menyerah. Dan, ya sudahlah. Saya pun menyerah. Tapi ternyata rezeki gak kemana. Saat makan siang menu di hotel adalah bakso. Ya Allah. Kata orang-orang juga rasa baksonya sama dengan bakso si Doel itu. Alhamdulillah.

Jadi selama di Mekkah dan Madinah ini saya hanya jajan di pinggir jalan, yaitu burger , pizza dan jus. Makanan junk food yang selama di Jepang saya impikan 😀 Untuk bakso? alhamdulillah nya di Jepang suka buat, meskipun ala kadarnya 😀

39956110_2191150941166123_150008037824790528_n

Rombongan HIS Japan di Jamarat. Dokumentasi: HIS Japan

 

 

Prosesi Haji: Mina, Arafah, Muzdalifah

Dari Abdurrahman bin Ya’mar al-Dili, ia berkata, “Saya menyaksikan Rasulullah SAW sedang wukuf di Arafah, lalu datang sekelompok orang dari Nejed dan bertanya, ‘Ya Rasulullah! Bagaimanakah haji itu?’ Maka, Rasulullah SAW menjawab, ‘Haji itu adalah Arafah (wukuf di Arafah) maka barang siapa yang datang sebelum shalat Subuh dari malam jama’ (malam Mudzdalifah yang mengumpulkan semua jamaah haji di sana) maka sempurnalah hajinya. Hari Mina itu adalah tiga hari, barang siapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari maka tiada dosa baginya. Dan, barang siapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu) maka tidak ada dosa pula baginya.’ Kemudian beliau menyuruh seorang laki-laki berdiri di belakangnya dan menyerukan hal itu.” (HR Tirmizi, al-Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad).

***

Sesaat sebelum melaksanakan inti rangkaian dari haji, pengarahan dari pihak HIS travel pun sangat intens dilakukan. Biasanya lantai 3 tempat kami makan lah menjadi tempat untuk menyimak pengarahan dari pihak travel. Apa saja yang harus dibawa, jam berapa kami kumpul, dan beberapa informasi lainnya.

Prosesi Haji: Mabit di Mina

Pada tanggal 8 Dzulhijjah dini hari (jam 3 pagi), kami sudah bersiap-siap di penginapan untuk membawa barang-barang seperlunya ke Mina. Hanya menggunakan tas gendong. Ya, bergerak ke Mina artinya akan segera dimulai inti dari rangkaian ibadah haji ini.

IMG_9051

Tenda Mina. Dokumentasi: Pribadi

Mabit di Mina pada malam ke-9 Dzulhijjah, memang bukan rukun atau wajib haji. Sifatnya sunnah. Namun utamanya kita mengikuti apa yang nabi lakukan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melakukan hal seperti itu dan beliau bersabda,

لتأخذوا عني مناسككم (رواه مسلم، رقم 1218)

“Ambillah dariku manasik haji kalian.” (HR. Muslim, no. 1218)

Tidak mengapa tidak melakukannya karena sunnah, semisal ingin lansung bergerak ke Arafah di tanggal 9 Dzulhijjah-nya.

Sesaat setelah berihram di kendaraan yang membawa kami menuju Mina, kami pun tiba di Mina  pagi hari. Saat itu sudah dalam keadaan ihram, berarti semua haram dilakukan seperti memakai wangi-wangian, dan larangan-larangan lainnya. Jangan lupa disunnahkan juga mengeraskan talbiyah, namun bagi wanita tidak.

Saat di Mina ini, dibutuhkan kesabaran. Kita akan berada dalam satu maktab bersama rombongan dari negara lain, kalau dari Jepang kita digabungkan dengan beberapa negara Asia Tenggara seperti Filipina dan Kamboja, yang tentunya memiliki karakter berbeda. Perbanyak istighfar, hindari perdebatan, dan jangan mengeluh. Tenda Mina memang secukupnya, di dalamnya dialasi kasur seukuran badan kita. Sangat kecil memang, yang kalau kita gerak sedikit saja teman kita bisa terdzalimi 😀 Namun nikmati saja. Apalagi tendanya sudah ber AC.

Di Mina, fasilitas MCK pun terbatas. Dan banyak orang yang menggunakan. Jika ingin buang air kecil jangan tunda sampai kebelet, karena antrinya masya Allah panjang. Saya biasakan maaf setor sedikit-sedikit, atau tiap mau wudhu. Jangan mendzalimi orang dengan mandi berlama-lama. Saya memilih mandi di waktu malam, saat agak lengang. Atau cukup cuci muka saja, karena memang saat rangkaian haji ini tidak boleh memakai wangi-wangian, jadi aklaupun mau mandi hanya sekadar membasahi tubuh.

Pelajari tata cara wudhu darurat juga sangat membantu saat di Mina ini. Bawa baju secukupnya, namun beberapa ada yang mencuci juga di sana.

Selain mabit di Mina pada malam ke-9 Dzulhijjah, kita pun akan banyak menghabiskan waktu di Mina saat hari-hari tasyrik. Karena masih ada melontar jumrah saat hari-hari tasyrik. Intinya di Mina, banyak sabar 😀

Dan saat menjelang mabit kami pun dikejutkan dengan badai pasir, tepatnya setelah maghrib yang disertai rintik hujan. Saat itu hampir semua jama’ah was-was. Kami banyak berdoa dan sudah berpasrah jikalau ini adalah detik terakhir kami berada di bumi Allah. Tiang-tiang tenda pun terayun kencang, debu beterbangan dengan kencang, dan kabarnya ada saah satu maktab yang tendanya hampir terbang dan roboh. Berita ini sampai ke tanah air, dan keluarga merasa sangat khawatir juga. Alhamdulillah kejadian ini tidak lama.

Bagaimana cerita Mba Nurin saat di Armina ini? Simak yuk di sini.

Cerita Mba Nurin Ainistikmalia

Haji reguler indonesia vs kuota jepang

Foto by: Mba Nurin Ainistikmalia

Prosesi Haji: Wukuf di Arafah

Haji itu Arafah. Sehingga ini puncaknya ibadah haji. Saat wukuf di Arafah ialah saat-saat mustajab berdoa. perbanyak istighfar dan doa saat berada di sana. Sudah seharusnya kita mempersiapkan yang terbaik untuk wukuf ini. Wukuf artinya berhenti. Namun berhenti di sini bukan berarti berdiam diri tanpa melakukan apa-apa. Bukan berarti tidur juga. Namun kita mengisi kegiatan wukuf dengan hal bermanfaat. Banyak yang kehilangan makna wukuf di Arafah ini karena tidur atau mengobrol.

Waktu wukuf di Arafah ini adalah ba’da dzuhur hingga terbenam matahari. Sesaat sebelum meninggalkan Mina menuju Arafah, saya sempat berdoa semoga disehatkan semuanya. Karena dalam benak saya Arafah adalah gambaran padang mahsyar, yang tandus kering tanpa dinaungi apa-apa. Namun untuk sekarang memang sudah dipermudah. Alhmadulillah saat di Arafah pun sudah dikelompokkan per maktab, dann ada tenda-tenda untuk tiap rombongan. Tenda besar dan disediakan tikar, bahkan kasur duduk untuk per orangan. Dilengkapi AC juga. Benar-benar nyaman. Namun karena nyamannya ini, biasanya godaan tidur sangat dahsyat, terlebih waktu wukuf ini pas untuk tidur siang. Saya pun berkali-kali harus menahan kantuk, dan saat ingin baringan sambil dzikir, syeitan pun banyak menggoda untuk menutupkan mata. Namun mengingat keutamaan Arafah ini, para jama’ah pun dengan tekad kuat berusaha melawan kantuknya.

Namun beberapa seperti penduduk asli Mekkah dan sekitarnya, mereka berada luar tenda biasanya. Di sekitaran bukit-bukit, ataupun padang tandusnya.

Oleh karena itu, persiapan wukuf di Arafah memang harus benar-benar dipersiapkan. Seperti:

  • Persiapkan kesehatan. Jika merasa lelah, ambil waktu istirahat sejenak
  • List doa-doa dan permintaan apa untk diri dan orang lain, supaya tidak ada yang terlewat.
  • Kalau saya meninggalkan hp di hotel, agar lebih khusyu beribadah.
  • Rombongan His meninggalkan Mina tanggal 9 Dzulhijjah pagi hari, sekitar jam 7 untuk bergerak ke Arafah. Usahakan saat tiba lebih awal di Arafah, istirahat sejenak, Sehingga saat waktu wukuf tiba yaitu saat zawwal (tergelincir matahari) badan kita benar-benar fit, dan fokus beribadah.
  • Disarankan untuk salat Dzuhur dan ashar (di Arafah salat dijama’ dan diqashar) di masjid Namirah. Tapi harus diperhatikan tidak semua masjid Namirah termasuk bagian Arafah. Jika kita keluar dari batas Arafah maka haji kita tidak syah, karena ini merupakan rukun haji. Rombongan kami tidak pergi ke sana, karena padatnya masjid tersebut. Di masjid Namirah disarankan untuk mendengarkan khutbah Arafah
  • Jika ingin minum kopi dipersilakan, untuk menahan kantuk. Dan memang menu dari maktab kami selalu ada teh atau kopi. Karena memang godaan tidur siang ini sangat dahsyat.
  • Sesaat sebelum waktu wukuf, kami mendapat pengarahan berbagai bahasa tentang adab berdoa dari Ust Anis. Jazakallah Ustadz. Ya, di rombongan kami untuk tausyiah diselenggarakan dalam empat bahasa, yaitu Urdu, Inggris, Jepang, dan Indonesia.
  • Hati-hati, terutama untuk para ibu-ibu, jangan terpancing mengobrol

Mr. Tamer selalu mengingatkan, momen wukuf ini hanya sekitar 5-6 jam, dan sangat mustajab. Jadi sangat rugi kalau tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya. Dan jangan lupa, jangan bergegas meninggalkan Arafah. Tunggu sampai matahari terbenam. Kami bergerak sekitar jam 6, sambil menunggu antrian keluar menuju Muzdalifah dengan bus. Sehingga pas sekali keluar Arafah setelah matahari terbenam. Maghrib dilaksanakan secara jama’ takhir (digabung di waktu salat isya) di Muzdalifah.

Prosesi Haji: Mabit di Muzdalifah

Mabit di Muzdalifah adalah rangkaian ibadah haji pasca wukuf di Arafah. Termasuk wajib haji, sehingga jika meninggalkannya kita harus membayar dam. Namun bagi yang lemah dan sedang sakit diperkenankan saat tengah malam meninggalkan Muzdalifah, untuk kembali ke Mina.

Kami bergerak di tanggal 9 Dzulhijjah setelah matahari terbenam (di kalender islam sudah masuk tanggal 10 Dzulhijjah) dari Arafah, mengantri di gerbang untuk masuk ke dalm bus yang akan membawa ke Muzdalifah. Secara harfiah muzdalifah artinya tempat mendekatkan diri kepada Allah. Di sini kami mabit beralasakan tanah dan beratap langit. Sangat terasa bagaimana seorang hamba tidak berdaya, tidak ada apa-apanya. Salat maghrib dan isya dilaksanakan secara jama’ takhir pada waktu isya dan diqashar (diringkas). Setelah itu memang benar-benar beristirahat di mabit ini. Kami menggelar tikar dan sleeping bag. Namun tetap terasa panasnya tanah. Setelah subuh dianjurkan memperbanyak berdoa dan beristighfar pada Allah.

Saat di Muzdalifah ini kita mengumpulkan batu untuk melontar jumrah pada tanggal 10 Dzulhijjah ini. Oh iya karena di Muzdalifah kita tidur per maktab juga, dimohon untuk menjaga kebersihan. Karena banyak jamaah haji yang sering meninggalkan sampah di tikar. Meskipun memang nantinya ada petugas kebersihan, bukankah menjaga kebersihan itu adalah keharusan? Dan menjadi haji itu bukan hanya hablumminallah..tapi hablumminannas, menjaga hubngan sesama manusia agar tidak menyusahkan dan mendzalimi.

Oh iya sangat terharu melihat para muallaf Jepang, yang berada di rombongan kami. Ketika menunggu bus di Muzdalifah untuk pulang ke Mina, mereka membersihkan sampah-sampah. Meskipun sampah ini bukan sampah dari rombongan kami. Ya Allah istiqamahkan saudara-saudara kami di Jepang ini dalam islam. Ya, orang Jepang ini sudah sangat islami. Tinggal dikuatkan akidahnya, ketauhidannya.

jepang

Salah satu jamaah dari Jepang yang sedang membersihkan sampah. Dokumentasi: Doni S

Prosesi Haji: Melontar Jumroh di Jamarat

Pada tanggal 10 Dzulhijjah, setelah subuh rombongan HIS bersiap-siap meninggalkan Muzdalifah untuk kembali ke Mina. Pada tanggal 10 Dzulhijjah (hari nahar) ini ada amalan yang harus dilakukan jama’ah haji, yaitu melontar jumrah aqabah. Melontar jumrah ini menggunakan batu-batu kerikil kecil, yang telah kita kumpulkan saat mabit di Muzdalifah. Alhamdulillah, tim HIS selalu dipandu untuk mengikuti sunnah nabi, yaitu meninggalkan Muzdalifah selepas subuh (terbit matahari). Karena banyak juga yang sebelum subuh sudah meninggalkan Muzdalifah, bersegera melontar jumrah di jamarat dengan harapan tidak macet dan agar segera tahallul. Ahamdulillah pihak HIS selalu membimbing dan mengatur waktu pelaksanaan sesuai agenda pihak Arab dan juga sesuai sunnah (ini yang terpenting).

IMG_9170

Di dalam terowongan Mina menuju Jamarat. Dokumentasi: Pribadi

Pada hari nahar ini kami berjalan dari Mina (maktab 96) sekitar 2,4 Km ke tempat jamarat. Alhamdulillah terowongan Mina yang dulu pernah terjadi tragedi, sekarang sudah baik pelaksanaannya. Terowongan masuk dan keluar sudah rapi, sehingga tidak terjadi tabrak arus.

Menurut contoh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hari nahar adalah melontar jumrah aqabah sebanyak tujuh kali dengan membaca takbir setiap melontar, kemudian menyembelih kurban jika dia wajib menyembelih (bagi yang haji tamattu’ atau qiran), kemudian mencukur habis atau memotong rambut, tapi mencukur habis lebih utama (untk perempuan cukup memotong ujung rambut sekitar 1-2 cm), kemudian thawaf ifadhah dan sa’i. Ini adalah urutan yang utama seperti yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melontar jumrah aqabah kemudian menyembelih kurban, kemudian mencukur rambut habis, dan kemudian pergi ke Mekkah untuk thawaf ifadhah. Tapi jika seseorang mendahulukan sebagian amal-amal haji tersebut atas sebagian yang lain, maka tiada dosa baginya. Sebab ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang orang yang mendahulukan atau mengakhirkan amal-amal haji tersebut, maka beliau berkata : “Lakukanlah dan tiada dosa bagi kamu”.

Untuk rombongan HIS terbagi dua kelompok. Ada yang melaksanakan berurutan melontar jumrah-thawaf ifadhah, dan sa’i. Sehingga selesai melontar jumrah mereka jalan menuju Mekkah untuk thawaf dan sa’i. Namun ada juga yang memilih kembali ke tenda Mina,menunggu konfirmasi dipotong kurban, kemudian tahallul awal. Sehingga thawaf dan sa’i dilaksanakan saat hari tasyrik.

IMG_7136

Berfoto Bersama Rombongan HIS di salah satu bagian Jamarat. Dokumentasi: HIS

Bergeraknya rombongan HIS ke tempat jamarat, menunggu instruksi pihak Arab. Sekitar jam 10 pagi kami mulai bergerak untuk melempar jumrah aqabah di hari nahar tersebut. dan ba’da dzuhur kami sudah kembali ke tenda. Kami melempar jumrah di lantai 3. Untuk detail melempar jumrah silakan dibaca di buku tuntunan sunnah haji, bagaimana cara melempar, lalu bagaimana posisi badan kitanya.

p.s: banyak muallaf Jepang yang benar-benar mengikuti urutan Nabi. Setelah melontar jumrah langsung jalan ke Mekkah untuk thawaf dan sa’i. Untuk rombongan yang tawaf ifadhah dan sa’i di hari tasyrik sekalian nafar awal (meninggalkan Mina di tanggal 12 Dzulhijjah, difasilitasi bus menuju Mekkah nya).

Setelah tahallul awal kita sudah diperbolehkan menggunakan parfum dan beberapa larangan saat berihram, kecuali berhubungan suami istri harus menunggu tahallul akhir (thawaf ifadhah dan sa’i).

Menjamurnya Online Shop: Peluang Suksesnya Ekonomi Digital di Indonesia?

Tidak bisa dielakkan, saat ini teknologi sangat berkembang pesat. Bisa dikatakan hampir semua kegiatan masyarakat tidak pernah lepas dari teknologi. Bayangkan saja, untuk memesan makanan atau pun kendaraan, kita tinggal memasukkan pesanan yang diinginkan melalui aplikasi. Tidak heran jika saat ini dikatakan sebagai zaman serba digital. Kemajuan teknologi ini ternyata mempengaruhi laju perekonomian. Bagi sebagian besar orang yang sering menggunakan aplikasi angkutan online, mungkin pernah menggunakan dompet digital seperti go-pay, ovo, adan TCash. Membayar suatu barang atau jasa tanpa menggunakan uang fisik. Inilah yang kita sebut ekonomi digital.

Bagi masyarakat awam seperti saya, istilah ekonomi digital memang terdengar asing. Lalu sebenarnya apa ya ekonomi digital itu secara keilmuan?

74f25de8-92f6-4da8-8488-a9137b2c7bb7_169

Sumber: finance.detik.com

Ekonomi Digital, Apa itu ya?

Encarta Dictionary mendefinisikan ekonomi digital sebagai pasar dan transaksi yang terjadi di dunia internet. Lebih lanjutnya PC Magazine mendefinisikan sebagai penerapan teknologi dan informasi (ICT) dalam kegiatan perekonomian. Nah, dari definisi ini ternyata tanpa disadari kita pun sudah melaksanakan ekonomi digital ini. Dan kalau kita lihat di televisi, seabreg iklan online shop ataupun jasa transportasi online. Beberapa pakar mengatakan Indonesia akan menjadi negara yang memainkan peran ekonomi digital nantinya, seperti Amerika.

Online Shop: Peluang Suksesnya Ekonomi Digital?

Dikutip dari kominfo.go.id (22/11/2015), yang menyatakan laju perekonomian di Indonesia yang menurun. Namun justru untuk usaha berbasis teknologi, e-commerce mengalami peningkatan. Bahkan dikatakan usaha ini bisa menjadi tulang punggung di kemudian hari.

belanja-online-jadi-pilihan-utama-masyarakat-selama-ramadan-170706b

Sumber: dream.co.id

Memang jika kita tinjau ada berapa banyak online shop besar di Indonesia saat ini? Ada berapa banyak pelaku usaha online yang merupakan ibu-ibu rumahan? Dari sini kita bisa menyimpulkan mengapa usaha ini berpeluang besar dala ekonomi digital. Pelaku usaha ini tidak terbatas. Bisa dilakukan semua umur, berbagai jenis pekerjaan, ataupun jenis kelamin. Hanya dengan modal internet, ponsel pintar, dan pengetahuan tentang iklan secara online terhadap jaringan, akan bisa menyukseskan usaha tersebut.

Di negara maju seperti Amerika, minat anak muda terhadap usaha mandiri berbasis teknologi ini sangat besar. Cukup berbeda dengan di Indonesia yang masih banyak berminat menjadi pegawai negeri. Namun lambat laun banyak pula anak muda Indonesia yang melek akan usaha dan ekonomi digital ini. Sehingga peluang ini sangat bagus untuk membangun ekonomi digital Indonesia yang kokoh.

Mengapa Online Shop

Indonesia negara yang padat penduduk. Potensi jual beli produk ataupun jasa akan sangat berprospek besar. Berdasarkan penuturan Ernst dan Young, menyatakan peningkatan bisnis online di Indonesia tiap tahun hampir 40%. Coba kalau kita renungkan, apa sih yang tidak bisa kita beli secara online? Sekarang semuanya, sampai kebutuhan isi perut dan isi rumah pun ada.

Lambat laun orang-orang pun cenderung banyak merasakan kemudahan dalam berbelanja online. Mereka menggunakan ponsel bukan sekadar untuk menelpon dan mengirim pesan. Gaya hidup yang semakin konsumtif membuat setiap orang senang melihat-lihat belanjaan di web toko-toko online. Belum lagi ditambah promo diskon dan berbagai promo lainnya yang menggiurkan.

Sehingga banyak orang berpikir, sudah dipermudah seperti ini mengapa harus tetap mau berdesak-desakan belanja? Harus capai-capaian? Harus panas-panasan? Jika lewat online, saat di rumah bahkan di tempat tidur pun kita bisa memilih produk yang diinginkan.

Inilah dunia digital, yang bidang ekonomi pun ikut menjadi digital. Bukan tidak mungkin nantinya semua pembayaran dilakukan secara digital. Bagaimana menurut teman-teman, sudah siapkah kita menghadapinya?

#Ecodigi

*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Bank Indonesia Ekonomi Digital. Bagi yang tertarik bisa lihat infonya di poster ini.

img-20181122-wa0001

 

 

Satu Kisah di Masjidil Haram: Masmuki?

Assalamualaikum…

Alhamdulillah di Sabtu sore ini kembali menyempatkan diri untuk berbagi kisah yang tidak ada henti-hentinya untuk diceritakan. Setelah berkutat dengan adonan donat yang alhamdulillah sukses, teringat masih punya PR di Sabtu ini. In sya Allah untuk episode  #CollaborativeBlogging pekan ini masih bercerita tentang kisah di masjidil Haram. Ini dia cerita saya saat beristirahat di sela-sela waktu salat.

Biasanya saat tiba di masjid, suami akan memastikan dulu di mana posisi saya salat agar mudah nantinya saat usai salat untuk berjumpa. Tapi kadangkala, kami pun memutuskan untuk berdiam di masjid agak lama untuk mengisi waktu dengan thawaf sunnah ataupun mengaji.

IMG_9023

Di depan masjidil Haram, menuju penginapan. Dokumentasi: Pribadi

Saat itu saya dan suami seperti biasa memutuskan untuk salat di lantai dasar, di bagian Ismail gate yang memang jadi tempat favorit suami untuk langsung melihat ka’bah. Usai waktu dzuhur kami berdua langsung mencari posisi di sekitaran ka’bah. Untuk para laki-laki sangat diperbolehkan untuk mengisi shaf awal di depan ka’bah. Namun bagi para wanita, kami sedikit mundur ke belakang. Saat itu menjelang waktu ashar, tempat di lantai dasar ini sudah sangat penuh. Saya berusaha mencari-cari celah utmuk saya bisa ikut nyempil. Alhamdulillah akhirnya saya dapat tempat di sebelah orang India dan Pakistan.

Mulailah percakapan kami dimulai. Percakapan yanh menggunakan bahasa tubuh pada awalnya, karena orang India yang ada di sebelah saya tidak bisa berbahasa Inggris. Namun tetap kami sama-sama tersenyum. Inilah indahnya islam, indahnya ukhuwah. Tidak saling mengerti bahasa tapi tetap merasakan indahnya persaudaraan.

Sementara di sebelah saya lagi ada orang Pakistan. Alhamdulillah beliau berbahasa Inggris sangat baik. Pada mulanya wanita berusia sekitar 60 tahunan itulah yang pertama mengajak mengobrol, karena tertarik dengan rompi berbendera Jepang yang saya pakai. Dia sempat kaget karena ada warga Jepang yang berhaji. Akhirnya saya pun menjelaskan saya adalah orang Indonesia yang sedang belajar di Jepang, dan saya berhaji dari sana. Ternyata beliau pun sama dengan saya. Beliau adalah orang Pakistan yang sudah hampir 5 tahun berada di London. Sehingga beliau berhaji dari London. Beliau sangat bersyukur karena bisa salat dengan menghadap ka’bah langsung. “This is the best spot,” ujarnya. Dan beliau pun memberikan buah zaitun. “This is for you, alhamdulillah.”

Ya, biasanya sambil menunggu waktu salat para jamaah haji dan umrah akan mengisi waktunya masing-masing. Kadangkala kita akan bertemu banyak orang dari berbagai negara. Kalau kata suami, bukan perempatan Shibuya atau Tokyo station yang penuh sesak orang. Tapi di sinilah, di tanah haram ini begitu banyak orang datang dari berbagai penjuru negeri. Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Kalam-Nya.

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ﴿٢٧

“Dan umumkanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji! Niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.”

Wah, Mba Nurin Pekan ini cerita apa ya tentang  Masjidil Haramnya? Yuk simak di sini...

Haji reguler indonesia vs kuota jepang

Satu kisah menarik lainnya adalah saat ba’da subuh. Saat itu kembali saya berdampingan dengan orang non Indonesia. Masya Allah benar-benar jadi pengalaman berharga. Dan kali ini bertemu mishriyyah alias orang Mesir. Bagi mereka bahasa Arab sudah jadi santapan sehari-hari, namun untuk berbahasa Inggris kebanyakan para lansianya kurang lancar. Inilah cerita saya yang berusaha kembali mengingat pelajaran bahasa Arab semasa tsanawiyyah dan aliyah. Alhamdulillah masih agak lancar, meskipun banyaknya menebk beberapa kalimat yang sangat cepat diucapkan ibu tersebut.

“Masmuki?” Tanya ibu tersebut.

“Ismii Novi, ya sayyidah…” Jawabku sambil tersenyum. Beliau saat itu dalam posisi baringan, mungkin agak pegal dan saya sedang membuka mushaf.

“Min aina taskun?” Lanjutnya, dan sepertinya ini akan menjadi percakapan panjang di pagi ini.

“Yabaan…” Jawabku, karena memang saya datang dan tinggal di Jepang untuk sekarang. “Bal ana alinduunisiyyah…” Lanjutku menjelaskan.

“Tilmiidzaah?” Tanyanya kembali.

“Na’am.” Sahutku.

Kemudian dengan bahasa arab agak cepat dia meminta saya untuk membaca qur’an yang sedang saya pegang dan dia ingin mendengarkan. Saya menangkap kata-kata iqra-ii…dan asma’u darinya, jadi saya yakin 100% ibu ini ingin mendengar saya membaca qur’an. Ya Allah deg-degan membaca ayatullah di depan orang yang berbahasa Arab fasih seperti ini.

Bismillah…

Saya lantunkan surat Al-ahzab ayat 37 saat itu nerusin hanca kalau kata orang Sunda.

Beberapa kali bacaan saya dikoreksi tajwidnya. Ya Allah, masih harus banyak belajar tahsin ini. Dan di akhir beliau bertanya asbabun nuzul ayat tersebut. Saya hanya tersenyum dan tidak sempat membaca terjemah dan keterangan tafsirnya. Saya coba intip…curi-curi cek cek cek Ups malah nyanyi iklan salah satu pencuci muka 😀 

Beliau pun menjelaskan tentang kisah Zainab binti Jahsy yang setelah ditalak Zaid kemudian dinikahi oleh Rasul. Dikisahkan bahwa pernikahan tersebut bukan semata karena cinta. Rasulullah menikahi Zainab untuk menghapuskan tradisi pengangkatan anak yang berlaku pada zaman jahiliah. Zaid yang merupakan mantan suami Zainab adalah anak angkat Rasul.

Dan ternyata apa yang dijelaskan ibu tadi memang ada keterangannya di catatan kaki mushaf saya. Masya Allah…saya semakin malu, masih banyak yang saya tidak tahu tentang alqur’an ini. Masih banyak diri ini disibukkan dengan kehidupan duniawi. Astaghfirullah…

Ibu itu pun bercerita bahwa namanya adalah Fatimah. Beliau sempat heran nama saya adalah Novi, yang tidak ada dalam alqur’an, ya Allah lagi-lagi malu sama ibu ini. Tapi nama belakang saya islami kok bu…Islahiah 😀

Dia pun bercerita anaknya adalah seorang ustadz di Alazhar University… Masya Allah 😀 pingin ke sana ya Allah, inget syuting KCB eh…

Akhirnya karena saya masih harus berkegiatan lainnya dan menghindar juga takut ditanya pakai bahasa Arab yang lebih sulit, saya pun pamit untuk pergi.

“Al-an, adzhab ilal baab..” Saya pamit. Dia pun membalas dengan senyuman dan mengatakan bersyukur dengan pertemuan indah ini, “Sa’iid… ilaa liqaaina.” Belia bahagia dan senang bertemu saya 😀 alhamdulillah, bertemu saudara dari negara lain lagi. Saya pun berpikir untuk menjawab saya juga…apa ya. Oh iya, “Ana aidhon…” 

Saya pun pamit, “Ma’assalamah…” Beliau pun membalas, “illalliqa…”

Dan saya pun menutup dengan salam.

Begitu banyak pelajaran dan hikmah setiap detiknya yang saya temui saat berhaji kemarin. Pelajaran dari orang yang bersedekah tanpa mengenal nama dan identitas negara, cukup dengan senyuman mereka membagikan makanan. Pelajaran tentang bagaimana diri ini sudah seharusnya mempelajari alqur’an jauh lebih banyak porsi belajarnya ketimbang pelajaran duniawi. Pelajaran tentang saling berbagi sajadah, shaf salat dan masih banyak lainnya. Ya Allah aku rindu, untuk kembali ke tanah Haram. Izinkan aku untuk kembali ke sana…:D