Diposkan pada Haji, Jepang, Kuliner, Memories, Travelling

Menjadi Lidah Arab Selama di Mekkah, Kembali Meng-Indonesia di Madinah

Bismillah…

Sudah episode berapa sekarang?

Apa temanya untuk pekan depan?

Semoga teman-teman masih setia mendengarkan kisah kami di #CollaborativeBlogging ini ya 😀 Jreng… Tema pekan ini tentang kuliner.  Wah senangnya 😀 Yup, saya sangat senang karena di Mekkah dan Madinah tentunya semua makanan halal. Saya tidak perlu harus capai-capai baca komposisi bahan dengan membuka google translate an seperti saat di Jepang. Oke, saya dan Mba Nurin akan saling bercerita tentang bagaimana makan kami selama berhaji dan saat di Madinah, juga kerinduan kami dengan masakan tertentu. Ayo, kangen apa coba? 😀

Di HIS travel Japan Hajj and Umrah, paket harga haji sudah termasuk dua kali makan yaitu sarapan dan makan malam. Sementara makan siang disediakan camilan dan buah-buahan. Seperti apa kami makan?

Tempat makan kami berada di lantai tiga, lantai paling atas di penginapan Daar El Malky. Makanan disediakan secara prasmanan dengan menu Arab, Wiih…Secara kokinya juga orang Arab asli 😀

Sayangnya saya tidak mengabadikan menu-menu tersebut dalam kamera. 😦

Menu yang saya nikmati adalah beras basmati yang biasa dimasak ala orang Arab saat di Jepang (biasanya saat Ramadhan ada jadwal pernegara masak. Dan saya suka ketika jadwalnya orang Arab, karena menunya selalu daging dan nasi dari beras basmati ini). Lauknya? Yang saya ingat adalah telur direbus dengan taburan garam di luar kulitnya. Lalu ada kari kacang merah, ayam bakar, kuah kuning ala Arab, dan salad. Ini adalah menu tersering kami. Namun suatu hari pernah juga ada ikan patin yang dimasak cukup enak menurut saya, agak Indonesia sedikit. Meskipun saya suka masakan Arab, namun ternyata terlalu rutin mengonsumsinya membuat saya rindu masakan Indonesia. Alhamdulillahnya di menu siang hari, camilan yang disediakan adalah Indomie Cup :D. Yang saya ingat adalah rasa ayam dan kari. Di setiap menu makan kami dilengkapi dengan buah madu cup, roti, keju, dan buah zaitun. Arab banget kan?

cup-chicken-Flavour-1
Sumber: http://indomie.com.sa/en/products/indomie-cup/

Untuk mengakali makan siang, karena biasanya saya dan suami juga jarang pulang ke penginapan, kami biasa membawa bekal. Bekal darimana?

Di Mekkah saya melihat di mana-mana orang bersedekah. Ya, setiap hari selalu ada yang membagikan makanan. Menunya? Nasi basmati dan ayam, atau terkadang malah daging. Ada juga yang membagikan roti. Air? Ngga perlu khawatir, zamzam ada di setiap penjuru di masjid. Bahkan banyak orang-orang yang berbagi air minum di sepanjang jalan menuju masjidil Haram. Masya Allah 😀

Namun ternyata tetap saja kerinduan ini datang. Kerinduan ingin jajan alias berkuliner ria. Saya sebetulnya bukan tipe pemilih makanan, tapi terkadang kalau sudah bosan sama itu-itu juga apalagi nasi, saya inginnya mengemil makanan berat seperti bakso, mie ayam, batagor, seblak, dan kawan-kawannya 😀

Akhirnya saya pun mengajak suami untuk jajan burger. Mengapa burger? Di Jepang gak ada yang halal, dan saya kangen makanan junk food ini. Harganya relatif sama, tapi saya beli yang 15 riyal, selalu 😀 Dan isinya tidak sesuai harapan, karena tidak ada sayuran. Hanya daging ayam/ sapi burger dengan kentang. Dan tidak ada saus 😦 Masih menjadi lidah Arab lagi.

Mba Nurin Berkuliner Apa ya?

Cerita Mba Nurin Ainistikmalia

Haji reguler indonesia vs kuota jepang
Foto By: Mba Nurin Ainistikmalia

Saya pun bercerita dengan teman-teman sekamar, dan kebetulan Mba Dwi yang sedang hamil pun merasakan ngidam ingin menikmati bakso. Dia bercerita bakso ada di Grapari, namun katanya dia pun belum sempat mencicipi. Saya sampai mencari di internet lokasi tempat bakso, dan hingga menuju Mina dan sekembalinya dari Mina, saya pun gagal makan bakso di Mekkah. Kalau kata suami, makanan yang disediakan saja sudah berlimpah. Harus bersyukur. 😀

IMG_7154
KFC di area Bin Dawood. Dokumentasi: Pribadi

Saat inti ibadah haji di Mina, Arafah, dan Muzdalifah, maktab kami no. 96 pun tetap sama berkoki orang Arab. Menu yang disediakan dalam bentuk kotakan aluminium. Biasanya menunya adalah pagi hari telur rebus, roti, madu, keju, dan air. Lalu siang dan malam hari nasi basmati, ayam goreng, dan alhamdulillah pernah nikmat banget ada ikan teri cabai ala Indonesia dan sambalnya nikmat :D. Saat di Mina pun selalu didistribusikan apel, Jeruk, dan minuman dingin. Karena Masya Allah panasnya. Nah, karena sering kelaparan habis subuh, saat di Mina ini saya dua kali membeli Indomie cup. Indomie di Mekkah dibandrol dengan harga 5 riyal atau sekitar Rp 20000. Dan setiap menyeduh mie ini saya selalu senyum saat ke dapur. Air panas di keran dapur tertulis Air banas… dalam huruf hijaiyah tentunya 😀

Setelah selesai ibadah haji, kami kembali ke penginapan. Hadyu dari kurban kami semua ternyata sudah diolah oleh koki kami. Baru kai ini saya menikmati olahan daging kambing ala Arab. Potongannya besar-besar, namun dagingnya empuk. Saya sampai heran, gimana cara masaknya ya? Nikmat ya Allah. Kadang takut ga kekontrol untuk nambah lagi.

IMG_7145
Salah Satu Menu Masakan Daging Hadyu Kami. Dokumentasi: Grup HIS Hajj

Yuk, pindah ke Madinah 😀

Di Madinah kami tinggal di hotel yang besar. Tempat makan kami pun lebih besar. Selama di Madinah ini makan disediakan tiga kali secara prasmanan. Dan di sini masya Allah, menu terbagi dua. Menu Indonesia banget, dan menu Arab. Di sini kerinduan saya akan menu Indonesia sangat terobati. Selalu ada sambal dan mentimun.

IMG_7155
Ada McD di Area Bin Dawood Mekkah. Dokumentasi: Pribadi

Tapi kembali, saya tergoda ingin makan bakso karena postingan beberapa teman di grup. Saya sampai niat mengajak suami ke arah pintu 16 untuk menikmati bakso itu. Dan..ketemu. Plangnya terlihat. Bakso Si Doel di dekat Restoran Indonesia. Ya, di Madinah ini lebih banyak katanya Restoran Indonesianya. Namun saya dan suami agak bingung pintu masuknya. Katanya naik ke lantai atas. Kami coba masuk dulu, tapi kok ini hotel tempat menginap orang-orang negara lain. Suami membujuk saya untuk menyerah. Dan, ya sudahlah. Saya pun menyerah. Tapi ternyata rezeki gak kemana. Saat makan siang menu di hotel adalah bakso. Ya Allah. Kata orang-orang juga rasa baksonya sama dengan bakso si Doel itu. Alhamdulillah.

Jadi selama di Mekkah dan Madinah ini saya hanya jajan di pinggir jalan, yaitu burger , pizza dan jus. Makanan junk food yang selama di Jepang saya impikan 😀 Untuk bakso? alhamdulillah nya di Jepang suka buat, meskipun ala kadarnya 😀

39956110_2191150941166123_150008037824790528_n
Rombongan HIS Japan di Jamarat. Dokumentasi: HIS Japan

 

 

Penulis:

Hello, Assalamualaikum. My name is Novianti Islahiah. Full time mom, full time student. I am graduate student in Hiroshima University at educational development, under Shimizu sensei supervision (Science education lab). I continue my master study here with scholarship from my government, Indonesia Endowment Fund for Education (LPDP). My undergraduate university is Indonesia University of Education as known as UPI, Bandung. My the best experience in teaching when I was in East Aceh along 1 year, to become SM-3T teacher in remote area. Now, I am a married woman with Mr. Rizal, and we have one son, Muhammad Afnan Hashif. His age is 17 months. Be happy always :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s