Diposkan pada Haji, Jepang, Memories, Travelling

Refleksi Haji: Meneladani Pengorbanan Seorang Ibu

Bismillah,

 “Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.”(Al Baqarah : 158)

IMG-20181223-WA0004

Tidak terbayangkan bagaimana panas teriknya mentari saat itu. Gersangnya padang pasir, dan banyaknya debu bertebaran. Keteguhan hatinya berdasarkan keyakinan atas perintah Rabb nya untuk berdiam tinggal di padang tandus. Langkah kaki wanita kuat tersebut tidak terlihat lelah sama sekali. Di dalam pikirannya saat itu hanyalah menemukan sebuah oase di padang nan gersang ini untuk melepaskan dahaga bayi kecilnya, Ismail. Air susunya sudah mulai mengering, tanpa ada asupan makanan sama sekali. Berlari kecil di antara dua bukit dengan kesabarannya itu pun ternyata membuahkan hasil. Ismail kecil berhenti menangis. Di sekitar kaki mungilnya memancar sumber air yang lambat laun mengumpul…zamzam (berkumpullah). Wanita sabar ini berkata berulang-ulang, dan mata air yang berkumpul ini pun kita kenal hingga hari ini. Mata air zamzam, yang airnya melimpah dan tidak pernah habis setiap harinya. Bahkan dalam riwayat yang disampaikan At Thabarani dalam kitab Al Mu’jamaul Kabir dan Ibnu Abbas ra, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda tentang air Zamzam yang artinya:IMG_9025

“Sebaik-baiknya air di permukaan bumi ialah air Zamzam, padanya terdapat makanan yang menyegarkan dan padanya terdapat penawar bagi penyakit.”

Perjuangan Ibunda Hajar tadi untuk anaknya diabadikan dalam salah satu rangkaian ibadah haji, yaitu sa’i. Di rangkaian sa’i ini kita bisa melihat bagaimana pengorbanan seorang ibu yang di dalam pikirannya hanyalah anaknya seorang. Tidak ada kata lelah, tidak ada rasa lemah saat dirinya berpikir untuk keselamatan anaknya. Bertepatan dengan tanggal 22 Desember ini, dalam #CollaborativeBlogging ini saya dan Mba Nurin akan berbagi kisah tentang hikmah dan ibrah selama berhaji, dan beberapa makna keteladanan pengorbanan seorang ibu dan refleksi untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Semoga bermanfaat 😀

Keteladanan Siti Hajar

Hajar adalah sosok wanita cantik nan jelita yang dinikahi Nabi Ibrahim as. Beliau adalah istri kedua dari Nabi Ibrahim. Awalnya Nabi Ibrahim menikah dengan siti Sarah, namun tak kunjung mendapat keturunan. Atas permintaan istri pertamanya, Nabi Ibrahim as pun menikah dengan Hajar. Dari pernikahn keduanya inilah, lahir seorang pemuda hebat nantinya yaitu Nabi Ismail as.

IMG-20181223-WA0002

Namun lambat laun rasa cemburu seorang wanita datang. Siti Sarah merasa cemburu dan meminta Nabi Ibrahim mengasingkan Hajar dan Ismail. Nabi Ibrahim pun mengajak Hajar dan Ismail ke Padang tandus di Tanah Haram. Beberapa kali Hajar memanggil Ibrahim, namun sekuat tenaga beliau tidak menoleh. Kemudian Hajar bertanya apakah ini perintah Allah? Ibrahim pun mengangguk. Hajar pun berkata jika ini perintah Allah, aku yakin Allah tidak akan meninggalkan kami.

Sebuah kepatuhan seorang wanita sebagai hamba Allah dan istri yang taat pada suaminya. Sosok ibunda Hajar ini memang patut kita teladani. Terlebih atas pengorbanannya terhadap anaknya.

Seorang ibu memang selalu berusaha yang terbaik untuk anaknya. Tanpa mengenal lelah dirinya, tanpa menghiraukan keadannya. Ibaratnya untuk makan, mereka rela berkata kenyanh ketika nasi hanya cukup untuk anaknya. Itulah yang saya rasakan saat menjadi seorang anak dari wanita hebat yang saya panggil mama. Terimakasih Mama dan #SelamatHariIbu.

Simak Cerita Mba Nurin Yuk, disini 😀

Cerita Mba Nurin di Hari Ibu

Haji reguler indonesia vs kuota jepang

Pengorbanan Ibunda Hajar ini akan selalu terkenang dan terasa semangatnya saat kita melaksanakan ibadah haji. Apalagi sa’i sekarang sudah sangat nyaman. Lantai dan ruang masjid yang dingin oleh Ac. Ruh pengorbanan seorang ibu kepada anaknya yang tidak akan pernah hilang terlupakan kisahnya.

Refleksi Pasca Haji

Selama melaksanakan sa’i, akan terasa bagaimana keteladanan seorang ibu pada anaknya. Lalu apa yang sebenarnya haris kita lakukan setelah haji? Apakah setelah selesai berhaji, selesai semuanya?

Setiap orang banyak yang mendambakan untuk melengkapi rukun islam ke-5 nya ini. Siapa yang tidak tergiur dengan pahala berupa Surga, pahala tertinggi yang didamba setiap muslim nantinya. Ya, bagi haji mabrur tidak ada balasan lain kecuali surga.

IMG-20181223-WA0001

Pasca haji inilah yang berat. Ketika kita kembali beraktifitas di tanah air, kembali bekerja. Sudah sepatutnya apa yang kita lakukan saat berhaji terus dilanjutkan. Seperti salat tepat waktu. Selama di Mekkah dan Madinah semangat diri untuk terus bisa salat tepat waktu berjama’ah di masjid sangat menggebu. Akan sangat malu rasanya diri ini jika sepulang haji malah lalai salat, malah terlambat untuk bersegera menunaikan kewajiban pada RabbNya.

Sebentar lagi pergantian tahun masehi ini dimulai. Hendaknya setiap kebaikan yang kita lakukan saat berhaji, terus terbawa semangatnya hingga kini dan nanti. Hendaknya di pergantian tahun tidak hanya resolusi duniawi yang kita buat. Namun resolusi dan target ukhrawi juga harus kita prioritaskan. Bukankah hakekat berhaji harus menjadi pribadi yang lebih baik lagi? Ya, bahkan suami selalu mengingatkan saat di Tanah haram. Jangan asyik berfoto dan berselfie ria. Berhaji adalah memenuhi panggilan Allah. Di sana kita beribadah, bukan berwisata. Semoga diri ini bisa terus berintrospeksi menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

IMG-20181223-WA0003

Sukabumi, 22 Desember 2018

 

Iklan

Penulis:

Hello, Assalamualaikum. My name is Novianti Islahiah. Full time mom, full time student. I am graduate student in Hiroshima University at educational development, under Shimizu sensei supervision (Science education lab). I continue my master study here with scholarship from my government, Indonesia Endowment Fund for Education (LPDP). My undergraduate university is Indonesia University of Education as known as UPI, Bandung. My the best experience in teaching when I was in East Aceh along 1 year, to become SM-3T teacher in remote area. Now, I am a married woman with Mr. Rizal, and we have one son, Muhammad Afnan Hashif. His age is 17 months. Be happy always :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s