Diposkan pada Haji, Jepang, Memories, Travelling

Madinah dan Pengalaman Masuk Taman Surga Raudhoh

raudhah
Raudhoh. Sumber: https://syahrilkadir.wordpress.com/2012/06/28/umrah-orang-berdosa-bhg-9-tempat-yang-sungguh-istimewa-bernama-raudhah/

Bismillahirrahmanirrahiim… Masya Allah walhamdulillah #Collaborativeblogging saya dan Mba Nurin untuk mengisahkan pengalaman selama di Mekkah sudah selesai. Sekarang kami berlanjut untuk hijrah ke Madinah. Dan tema pertama kami di Madinah adalah tentang Raudhoh.

Tengah malam saya beserta rombongan HIS sampai di Madinah. Perjalanan Mekkah-Madinah kami tempuh selama kurang lebih 7 jam menggunakan bus. Semua rombongan HIS baik itu yang transit Filipina, yang menggunakan Ettihad, ataupun rombongan saya yang transit di Colombo Srilanka, ditempatkan di satu hotel yang sama yaitu Riadh Alzahra Hotel. Letak hotel ini tidak jauh dari Masjid Nabawi, yaitu di belakang perpustakaan King Abdul Azis. Hanya sekitar 3-5 menit kami bisa masuk ke masjid melalui pintu no. 7 atau 8.  Keadaan badan saya saat itu sangat lelah dan penat. Setelah menunaikan salat isya rasanya ingin sekali langsung baringan. Apalagi hotel yang kami tempati ini sangat nyaman. A Rizal, suami saya mengajak untuk bersegera ke masjid. Karena kami khawatir jalan ke masjid yang kami tempuh masih agak siwer alias takut nyasar. Namun melihat keadaan saya yang payah, beliau pun mempersilakan saya beristirahat dan berjanji untuk bersegera ke sana sekitar jam 3 dini hari.

Simak Kisah Mba Nurin Ainistikmalia di Sini

Haji reguler indonesia vs kuota jepang
Foto by: Mba Nurin

Masjid Nabawi berbeda dengan Masjidil Haram. Posisi salat ikhwan dan akhwat sudah terpisah. Letak toilet dan kamar mandi berada di luar pelataran masjid, namun jaraknya tidak sejauh di masjidil haram. Ba’da subuh A Rizal cerita bahwa semalam dia jadi ke Masjid bersama rombongan ikhwan untuk bersegera ke Raudhoh. Masya Allah, saya pun ingin ke sana. Saya menyimak cerita dari suami saya ini bagaimana mereka masuk ke makam Rasul dan para sahabat. Mungkin berbeda dengan ikhwan, khusus untuk akhwat ternyata ada jam-jam tertentu untuk masuk ke sana.

img_9239
Saat Aa akan mengantri masuk Raudhoh. Dok: A Rizal

Ingat Jadwal Masuk dan Pintu Masuknya untuk Akhwat

Khusus jam akhwat saya lihat papan pengumuman di LCD depan masjid yang mengatakan khusus akhwat pintu Raudhoh dibuka setelah waktu duha, setelah dzuhur dan setelah isya. Kemudian hanya dua pintu menuju Raudhoh bagi akhwat yaitu pintu nomor 25 dan 29.

Jika kita berada di dalam Raudhah, berdirilah menghadap kiblat. Kita dapat melihat di sebelah kiri ada sebuah bangunan berbentuk segi empat berwarna hijau tua yang dulunya adalah rumah Rasulullah SAW dan Siti Aisyah, dan di situlah juga letak makam Rasulullah SAW serta para sahabat (Abu Bakar, Umar, dan Utsman). Di atasnya terdapat kubah berwarna hijau tua yang menjadi tanda letaknya makam Rasulullah SAW. Kubah ini bisa dilihat dengan jelas dari luar Masjid Nabawi bagian depan.

img_9251
Dok: Aa Rizal

Dan ternyata untuk masuk ke sana butuh perjuangan. Tempat yang padat dan dibatasi waktu. Namun saya bersemangat untuk bisa salat sunnah di sana, minimal sekali. Raudhoh yang berarti taman menjadi salah satu tempat yang diincar para jamaah saat ke masjid Nabawi. Tempat ini selalu padat sepanjang waktu, sebagaimana sabda Rasul:

“Antara Rumahku dan mimbarku terdapat taman di antara taman surga…” (HR. Bukhari Muslim).

Beberapa mufassir dan ulama mengatakan ada sedikitnya tiga keutamaan Raudhoh ini, tak heran banyak orang yang rela antri menunggu untuk bisa salat di sana. Keutamaan tersebut adalah:

  1. Tempat yang menjadi gambaran taman surga. Bagi siapapun yang masuk ke sana, akan merasa bahagia
  2. Beribadah di tempat ini bisa menjadi jalan masuk surga
  3. Secara harfiah, tempat ini bermakna tempat yang akan diangkat ke surga

Letak Raudhoh di masjid Nabawi inilah juga yang menjadi penyemangat untuk berburu pahala. Karena sesuai sabda Rasul berikut:

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom.” (HR. Bukhari no. 1190 dan Muslim no. 1394, dari Abu Hurairah)

Iniah yang menjadi penyemangat saya. Oleh karena itu, ba’da dzuhur saya putuskan untuk berusaha bisa ke Raudhoh. Saat itu saya sendirian. Belum bilang pada suami, dan saya tidak pulang dulu ke Hotel. Saya pun bergegas ke pintu no. 25, yang lebih dekat dengan posisi saya salat dzuhur tadi. Namun di luar perkiraan, pintu no. 25 sudah padat dan ada pengumuman waktu untuk masuk ke Raudhoh siang itu sudah habis. Saya pun kembali mencoba ba’da isya. Saat itu saya sendiri lagi, karena kondisi teman sekamar sedang tidak fit untuk salat ke masjid. Alhamdulilah saya berhasil masuk pintu no. 25. Di dalam ternyata kami harus menunggu kembali. Kami dikelompokkan berdasarkan negara. Kondisi saat itu adalah jama’ah Indonesia sangat sedikit, karena kebanyakan mereka sudah ke Madinah terlebih dahulu sebelum berhaji. Berbeda dengan rombongan kami yang langsung ke Mekkah. Saya menggunakan rompi HIS yang ada simbol negara Jepangnya. Makin lah saya tidak ada teman. Karena hanya ada sedikit rombongan kami. Lalu saya pun bertanya kepada askar harus ikut kelompok mana saya? Askarnya perempuan tentunya.

Saya pun bergabung bersama negara Turki dan Afrika. Namun ternyata terjadi keributan kecil. Jama’ah Afrika yang terlebih dahulu di kelompok lingkaran itu merasa didahului oleh jama’ah Turki yang baru bergabung. Kami disuruh ke barisan belakang. Saat itu alhamdulillah ada salah satu rombongan HIS yang muncul. Saya pun memanggilnya untuk bergabung. Kami menunggu semakin larut, dan sepertinya giliran kami masih lama. Sementara Mba yang bareng saya ini ditunggui suaminya. Dan saya pun khawatir suami saya di hotel kebingungan mencari, karena saya belum bilang sama beliau dan teman sekamar. Akhirnya saya dan Mba Vi pun memutuskan menyerah pulang.

Dari cerita Ibu Devi, teman sekamar saya memang sulit untuk masuk ke Raudhoh ini. Apalagi saat haji. Beliau mengatakan saat umrah masih agak lengang. Sepertinya harapan saya untuk salat di sana harus saya kubur dalam-dalam. Ba’da subuh saat mengaji, ada seorang ibu dari Kalimantan yang mengajak mengobrol. Saya pun bercerita belum sempat ke Raudhoh. Ibu itu pun memberi nasihat agar saya banyak berdoa supaya bisa dimudahkan masuk ke dalamnya, dan dimudahkan pula orang lain yang ingin masuk juga ke sana. Yang utama katanya niat, dan beliau sudah 3 kali masuk ke Raudhoh. Keyakinan saya pun kembali. Dan saya pun berniat ba’da isya untuk bersiap. Sehingga dari maghrib saya sudah salat di pintu no. 25.

Alhamdulilah saya berhasil masuk dengan bantuan dua teman lainnya. Kami bertiga saling bekerja sama untuk melindungi saat salat. Mereka adalah orang Indonesia yang ada di London, dan satu orang Malaysia. Saran dari mereka adalah lamakan sujud terakhir, berdoa saat sujud. Karena jika kita berdoa setelah salat biasanya akan segera diusir orang lain yang ingin salat di sana.

Lokasi Raudhoh dan Ciri-cirinya

raudah+
Karpet Raudhoh Berwarna Hijau. Sumber: http://catatanhajikoe.blogspot.com/2013/03/tips-mengunjungi-raudhah-untuk-muslimah.html

Oh iya, karpet Raudhoh berwarna hijau. Jadi kita salat di karpet hijau tersebut. Jangan lupa bawa perbekalan saat menunggu lumayan lama. Bawalah air zamzam dan camilan. Juga bersabarlah, banyak berdoa, dan dengarkan instruksi askar. Jangan sampai kita mendzalimi orang lain dan berbuat hal tidak baik. Semoga bermanfaat. 🙂

tempirai, 12 Januari 2019

 

Iklan