Jambee Kleng dan Pineung: Tanaman Potensial Aceh Timur untuk Pembelajaran Kreatif Kimia Topik Asam Basa

Mengabdi di daerah terpencil bukan berarti menyurutkan langkah dan semangat para pendidik profesional untuk terus belajar berinovasi dan semakin kreatif dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Teringat dengan motivasi dari Bapak Dr. Wawan Wahyu, S.Pd., M.Pd, seorang dosen hebat selama saya studi di S1 Jurusan Pendidikan Kimia UPI yang fokus mendalami pembelajaran kimia, menyampaikan saat seorang guru berada di daerah terpencil sekalipun, tidak ada alasan untuk tidak melaksanakan praktikum. Tidak boleh kita jadikan alasan bahwa di daerah terpencil serba terbatas, tidak ada bahan dan alat kimia. Karena sejatinya kimia merupakan mata pelajaran rumpun sains, yang dalam pembelajarannya sudah seharusnya kita kenalkan sifat ilmiah kepada siswa untuk belajar menjadi ilmuwan dengan melakukan penelitian. Bukan sekadar menuliskan teori, menjelaskan konsep, menghapal rumus, dan menyelesaikan soal. Saat itu beliau menggambarkan konsep destilasi (penyulingan) dengan menggunakan inovasi alat sederhana. Dari pembelajaran dengan beliau, ada sebuah tanggung jawab bagi kami, para guru kimia, untuk bisa menjalankan amanah yaitu pembelajaran kimia kreatif dengan menggunakan praktikum meskipun hanya menggunakan media berupa alat dan bahan seadanya.

Setelah mendapatkan amanah tersebut dan kami tiba di tempat penugasan rasanya memang sangat berbeda. Mendidik di sekolah yang serba lengkap alat dan bahan praktikumnya, sungguh sangat mudah. Saat itu saya ditugaskan di sekolah yang jika dibandingkan dengan teman-teman lainnya memang masih harus saya
syukuri. Sekolah tempat tugas saya adalah Sekolah Menengah Atas, yang ternyata alat-alat praktikum kimianya tergolong cukup lengkap. Namun tantangan saat itu adalah menghidupkan kembali laboratorium yang sudah lama penuh debu, dan alat praktikum hibah yang belum tersentuh sama sekali.

Tantangan kembali datang saat akan melaksanakan praktikum asam basa. Kertas lakmus dan indikator universal saat itu tidak ada sama sekali di sekolah. Namun saya teringat, kita bisa menggunakan indikator alam dari tumbuhan sekitar sebagai penggantinya. Di bangku sekolah maupun buku pelajaran, kita familiar menggunakan kunyit, daun kertas (bougenville), ataupun kol ungu sebagai indikator alam. Perubahan warna yang mencolok dari ketiga tanaman tadi memang bisa kita manfaatkan untuk pembeda mana larutan yang bersifat asam, dan mana yang basa. Tetapi, apa jadinya jika di tempat penugasan tidak ada kol ungu? Apalagi harga kol ungu ini sangat mahal, dan biasanya hanya dijual di pasar besar atau supermarket. Berarti sebuah pembelajaran kimia kreatif dengan menggunakan bahan alami lainnya harus kita temukan.

Screenshot_799

Beberapa contoh tumbuhan untuk indikator alami asam basa. Sumber: https://www.amongguru.com/pengertian-dan-jenis-jenis-indikator-asam-basa-beserta-contohnya/

Melihat daerah penugasan di Kabupaten Aceh Timur yang kaya akan tanaman jamblang (jambee kleng) dan pinang (pineung), terlintaslah sebuah ide untuk mencari referensi terlebih dahulu tentang kedua tanaman tersebut. Tanaman jamblang memiliki buah buni yang berbentuk lonjong atau bulat telur dengan daging buah berwarna putih kekuningan hingga warna keunguan. Jika kita tambahkan jambee kleng ke larutan asam kuat seperti H2SO4 (asam sulfat) akan memberikan warna merah, sementara saat ditambahkan ke larutan asam lemah seperti CH3COOH (asam cuka) akan memberikan perubahan warna menjadi pink. Pada basa kuat, akan memberikan perubahan warna hijau dan biru muda pada basa lemah. Karakter tanaman jambee kleng dalam memberikan perubahan warna pada larutan sangat mirip dengan kol ungu, yang bisa kita gunakan sebagain indikator universal. Namun tentunya lebih murah dan mudah didapatkan bukan? Karena kita tinggal memetik buah dari pohon ini di sekitar area sekolah atau sekitar hutan-hutan.

Begitupun dengan buah pinang. Hasil ekstraksi buah pinang yang berwarna oranye ini akan memberikan perubahan warna oranye terang pada larutan asam. Sedangkan pada larutan basa tetap oranye. Sehingga kita bisa simpulkan buah pinang ini berpotensi sebagai indikator basa yang menimbulkan perubahan hanya pada larutan basa. Karakter buah pinang ini mirip dengan kunyit.

Ternyata benar adanya jika alam ini sangat kaya. Tinggal bagaimana seorang guru bisa mengkreasikan dan menggali kekayaan alam tersebut untuk terwujudnya pembelajaran sains seperti kimia yang semakin kreatif, meskipun di daerah terpencil sekalipun.

Palembang, Juni 2019

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba menulis artikel peringatan harlah ke-4 MSI (Masyarakat SM-3T Indonesia)

4 pemikiran pada “Jambee Kleng dan Pineung: Tanaman Potensial Aceh Timur untuk Pembelajaran Kreatif Kimia Topik Asam Basa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s