Sedihnya Memori Gawai yang Sangat Kecil: Saatnya Back Up Data Dengan Sandisk

Semakin canggihnya gawai dengan berbagai fitur keunggulannya membuat orang-orang semakin mudah dalam menjalani kehidupannya. Bayangkan jika dulu kita ingin memotret wajah ataupun pemandangan dengan kualitas terbaik, kita harus punya kamera DSLR dengan resolusi hingga 40 MP. Dan kalau kita tanyakan berapa harga kamera tersebut, jawabannya sudah pasti lebih dari Rp 5juta. Jika dulu kita ingin mengabadikan momen acara dalam bentuk video, kita wajib punya handycam. Bisa dihitung hanya berapa persen saja orang-orang yang punya alat perekam tersebut. Saat itu kamera DSLR dan handycam adalah barang mahal. Namun sekarang, dengan adanya inovasi gawai yang merupakan ponsel pintar alias smartphone, kita tidak perlu lagi merogoh uang hingga lebih dari Rp 5juta. Banyak ponsel pintar dengan harga terjangkau sekitar Rp 1 jutaan, kita sudah bisa mendapatkan ponsel dengan kualitas kamera yang bagus.

Dengan adanya fasilitas kamera berkualitas bagus tersebut, tidak aneh kalau sekarang orang-orang sangat senang mengabadikan setiap momennya secara swafoto. Begitupun saya, yang baru menjadi seorang ibu. Setiap momen perkembangan Afnan rasanya ingin saya abadikan setiap detiknya. Apalagi smartphone saya memiliki memori penyimpanan yang sangat besar. Karena itu, saya terkadang malas dan lupa untuk segera memindahkan foto-foto ataupun data di gawai saya tadi sesegera mungkin. Akibatnya, saat banyak kejadian tidak terduga saya merasa sangat menyesal. Kejadian pertama adalah jatuhnya gawai saya dari lantai dua sampai pecah dan mati total, kemudian kejadian lainnya adalah gawai saya yang terendam air hingga tidak bisa hidup lagi. Rasanya saat itu saya ingin menangis. Foto-foto Afnan yang penuh kelucuan itu harus hilang. Saya sangat menyesal dan berasa ingin bisa memutar waktu supaya bisa kembali ke masa itu dan segera melakukan back up data.

Kejadian ini tentunya bukan hanya pengalaman pribadi saya. Berdasarkan data sebanyak 67% orang Indonesia pernah kehilangan data (droidlime, 2019) dan didukung data lainnya melalui survei yang dilakukan oleh DEKA dan Western Digital, karena banyaknya kejadian kehilangan data hampir 80% masyarakat Indonesia semakin ngeh untuk memback up datanya sesegera mungkin. Nah sebetulnya apa sih back up data itu? Lalu faktor apa yang menyebabkan kebanyakan orang seperti saya dulunya malas memback up data?

Definisi Back Up Data

Apa sih sebenarnya back up data itu? Back up artinya memindahkan atau menyalin suatu kumpulan informasi (data) yang tersimpan di suatu perangkat untuk dipindahkan ke perangkat lainnya. Data ini bisa berupa dokumen, file gambar, video, dll.

Terus Manfaat Back Up Data Itu Apa?

Banyak kejadian yang tidak terduga semisal gawai rusak, atau dicuri orang. Atau bahkan terkadang satu file rusak karena terkena virus sehingga tidak bisa dibuka bahkan menjadi file yang berantakan. Jika kita punya cadangan data di perangkat lainnya, saat beberapa kejadian tidak mengenakkan itu kita alami, kita bisa mengamankan file teesebut. Jadi intinya untuk faktor keamanan.

Seperti Apa Biasanya Kita Memindahkan Data? 

Ada beberapa cara untuk memback up data ini. Kita mungkin pernah memindahkan data lewat disket, CD RW, falshdisk, dsb. Kemudian kita pun mengenal istilah kabel data, dan kartu memori. Dalam pemakaiannya ada kelebihan dan kekurangan. Dan cara yang biasa kita gunakan untuk memindahkan data dari gawai ke perangkat lain, kita biasa gunakan kabel data ataupun mengeluarkan kartu memorinya.

Namun kedua cara tersebut bagi saya terkesan repot. Selain karena kabel charger saya tidak bisa berfungsi sebagai kabel data, terkadang cara memindahkan lewat kabel data ini agak ribet saat memilih file yang akan dipindahkan.

Saat itu kembali saya merasa malas untuk memindahkan data. Dan alhasil lagi-lagi banyak file saya yang hilang dan rusak. Saya pun mencoba memindahkan nya lewat aplikasi seperti whattsapp web, baru dari laptop saya buka dan simpan di laptop. Namun lagi-lagi cara ini ribet, dan memerlukan koneksi internet.

Untunglah teteh saya mengenalkan cara mudah memback up data dengan menggunakan USB OTG Sandisk. Terutama saat itu memori gawai ini sangat sedikit. Sementara beliau sangat hobi mendengarkan ceramah dan lagi nostalgia. Maunya diputar terus-terusan, tapi memori gawai tidak memungkinkan. Bahkan penglaman terparah mama saat akan pergi menemui saya di Jepang.

Saat itu saya sedang melanjutkan studi S2 di Jepang,dan rencananya saat musim semi beliau akan datang mengunjungi saya dan cucunya. Pergi sendirian ke luar megeri untuk mama yang sudah lumayan sepuh bikn deg-degan juga. Terlebih saat di bandara, tiba-tiba mama agak dipersulit untuk pengurusan imigrasi dengan menanyakan tiket kepulngn, dll. Tiket kepulangan sebetulnya sudah ada dalam bentuk soft file. Namun karena memori gawai mama yang penuh, alhasil file nya tidak bisa dibuka. Mama saat itu panik dan hampir menangis. Akhirnya mama pilih-pilih file yang bisa dihapus. Tapi beberapa file dirasakan #DibuangSayang. Meskipuj pada akhirnya beberapa foto Afnan saat masih bayi harus direlakan mama untuk dihapus.

26219765_10210113766029946_1841062614045353980_n

Saat Mama Berangkat ke Jepang Sendirian dan Hampir Ga Berangkat Karena File Tiket kepulangan Tidak Bisa Terlihat. Dokumentasi: Pribadi

Belajar dari pengalaman ini, akhirnya berkat USB OTG Sandisk yang diberikan teteh, mama bisa tetap anteng mendengarkan ceramah dan lagu-lagu. Dan bisa menjaga beberapa file penting untuk tidak dihapus.

Dan inilah sandisk. Yang memiliki seri #sandiskAPAC dengan berbagai keunggulannya.

USB OTG Sandisk dan Berbagai Keunggulannya

Kok bisa USB OTG ini berbeda dengan USB biasa? Jelas beda. Karena kita bisa memasukkan flashdisk ini langsung ke gawai kita. Sehingga kita bisa secara langsung memindahkan data dari gawai dengan USB ini. OTG berasal dari kata On the Go. Yaitu sebuah perangkat yang dirancang untuk bisa membaca data langsung dari USB tanpa harus dikoneksikan dulu ke PC.

Semua smartphone sudah mendukung fasilitas OTG ini. Jadi tidak perlu repot dengan cara jadul saya yang dulu harus menyiapkan laptop terlebih dahulu ketika memindahkan file.

8cde8de7-6219-46f2-ac2f-98482222e6c7

USB Sandisk. Dokumentasi: Pribadi

Sandisk ini sudah sangat terkenal untuk nama USB. Kemasannya sederhana dan penampilan USB nya ringan serta mungil. Untuk harga pun terjangkau. Dengan adanya USB OTG Sandisk ini sangat memudahkan menjaga file kita, dan yang terpenting mama saya bahagia bisa memutar ceramah keagamaan dan berbagai lagu nostalgia kapan saja. Tingga colok USB OTG Sandisk ini.

Menanamkan Literasi Sejak Dini untuk Sang Buah Hati

Happy International Literacy Day…

Yup, bulan September selain identik dengan September Ceria, ternyata bulan ini ditetapkan sebagai hari literasi sedunia loh. Tepatnya tanggal 8 September, UNESCO menjadikan tanggal tersebut sebagai peringatan hari literasi internasional. Nah di tahun ini ternyata tema yang diusung adalah literasi di zaman digital. Pas banget ini salah satu atikel yang saya submit ke sensei ditambah saat baca di blog muslimah Indonesia, postingan tematik bulan ini berkaitan dengan literasi. On fire, mencoba kembali menghidupkan blog yang mati suri beberapa bulan ini.

Saat ini kita berada di abad 21 yang disebut era teknologi. Perubahan terjadi sangat cepat dan kita harus mampu beradaptasi dengan memiliki kemampuan untuk mendukung kondisi tersebut. ACTS menyatakan keterampilan abad ke-21 dikategorikan ke dalam empat kategori utama: 1) cara berpikir yaitu kreativitas, pemikiran kritis, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan pembelajaran; 2) bagaimana cara kerja yaitu komunikasi dan kolaborasi; 3) alat untuk bekerja, yaitu teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan literasi informasi; 4) keterampilan hidup di dunia yaitu kewarganegaraan, kehidupan dan karir, tanggung jawab pribadi dan sosial.

Salah satu kemampuan yang diwakili pada abad ke-21 adalah kemampuan literasi sains. Istilah literasi sains sudah lama dikenal di negara maju, dan kini semakin dikenal di negara berkembang seperti Indonesia. Literasi sains tergabung sebagai bagian dari pendidikan dasar dan istilah itu berasal dari gabungan dua kata Latin, yang berarti melek huruf atau berpendidikan dan sains, yang berarti memiliki pengetahuan. Secara definitif, literasi sains adalah kemampuan untuk menggunakan pengetahuan ilmiah untuk mengidentifikasi pertanyaan dan untuk menarik kesimpulan berdasarkan bukti yang akan membantu memahami pengambilan keputusan di dunia ilmiah dan interaksi manusia dengan alam (OECD, 2009). Istilah ini memiliki arti penting. Namun yang lebih penting adalah bagaimana menggunakan pengetahuan ilmiah dalam kehidupan sehari-hari.

PISA-OECD (Program Internationale Student Assessment-Organization for Economic Co-operation and Development) telah melakukan pemantauan keadaan literasi ilmiah di Indonesia. Data yang diperoleh dari hasil pengukuran PISA-OECD, diketahui bahwa kemampuan peserta didik di Indonesia dalam hal literasi ilmiah yang diukur dengan PISA 2015 tetap pada tingkat rendah, meskipun peringkatnya lebih baik dari PISA sebelumnya 2012 (dari peringkat 71 meningkat menjadi peringkat ke-64 ). Namun untuk kemampuan di bidang reading. Padahal membaca adalah salah satu kunci penting untuk menulis. Seandainya tidak ada informasi ilmiah yang kita baca sehari, apa yang akan kita tulis?

Tidak dipungkiri masyarakat kita sebetulnya sangat jago nulis. Perhatikan media sosial yang kalian punya. Pernahkah sepi dari status teman-temannya? Saya yakin tidak. Ya pada dasarnya kita semua bisa menulis. Namun tulisan yang benar-benar berbobot, didukung data, bukan hoax, dan isinya memperjuangkan kebenaran sangatlah sedikit. Bukankah Ali ra. mengatakan menulis itu adalah mengikat makna? Seandainya banyak tulisan yang isinya mubazir, dan mengabaikan makna? Oleh karena itu menulis dan membaca di dunia literasi memang tidak bisa dipisahkan. Namun mengapa Indonesia tetap dikatakan berliterasi rendah? Hal ini cukup menggelitik rasa ingin tahu saya tentang sistem pendidikan di Indonesia dan Jepang di mana saya tinggal sekarang. Bagaimana cara menanamkan semangat literasi sejak dini di Negeri Sakura ini.

No Gadget

Pertama kali saat akan menitipkan Afnan yang berusia 15 bulan, kami diundang pihak hoikuen atau sekolah penitipan bayi oleh sensei kepala. Di acara Oyakomendang  atau pertemuan dengan orang tua ini kami diberi semacam orientasi tentang aktifitas anak-anak selama di sekolah. Tidak ada TV dan gadget untuk bayi dan anak-anak menonton. Sensei lebih memotivasi para bayi ini mengembangkan kemampuan motorik dengan beraktifitas dan membaca. Mungkin sekarang sudah banyak ibu di Indonesia yang sadar akan hal ini. Lalu membeli banyak buku dan membiasakan membacakannya kepada anak bahkan saat masih dalam kandungan sekalipun. Namun ada juga ibu yang masih menggunakan gadget untuk menenangkan bayinya saat menangis. Dan…jujur saya sempat menggunakan cara itu. Sehingga Afnan seperti ketagihan dengan salah satu video. Saat itu juga saya sering menangis dan merasa bersalah mengenalkan gadget padanya..Hm. Ampun de 😦

IMG_7574

Saat Menunggu Imunisasi Afnan di Kato Clinic. Koleksi: Pribadi

Membawa buku di manapun dan membacanya

Di indonesia saat saya naik transportasi umum pemandangan yang sering dijumpai adalah makan di angkot ataupun mengobrol dengan kencangnya. Tak jarang banyak orang tua yang sering merasa terganggu oleh anak-anak sekolahan yang sering ber haha hihi di angkot. Namun di Jepang, saat anak sekolah naik bus ataupun kereta mereka memegang buku dan selalu berusaha membacanya meskipun dalam keadaan berdiri.

Fasilitas publik bahkan untuk klink anak pun dilengkapi dengan buku bacaan anak

Nah ini yang menarik. Saat mau imunisasi di sini, kami terkadang menunggu antrian. Namun kami tidak pernah merasa bosan. Selain ada fasilitas tempat bermain, selalu ada rak buku yang disediakan. Afnan pun sering tertarik untuk mengambil buku dan membukanya, meskipun belum paham. Begitupun ketika mengunjungi buranko untuk tempat anak-anak, buku anak disusun berjejer rapi. Dari sini saya berdecak kagum, sebegitu perhatiannya kah orang Jepang terhadap literasi, terutama budaya membaca?

21586046_10209364333654605_1900985498_n

Seamngat Literasi Afnan Sejak Dini. Koleksi: Pribadi

Saya pun merasa malu jika belum bisa konsisten mengenalkan literasi pada Afnan, terutama minat bacanya ini. Dulu Afnan sangat semangat membuka buku, dan tidak mengenal gadget. Namun sesaat setelah menonton video daddy finger, terkadang perhatiannya sulit dialihkan. Saya yang notabene beragama islam pun tahu perintah Allah yang turun pertama kali adalah iqra…Bacalah! Membaca ayat Allah, membaca kitab, ataupun membaca ayat Kauniyah Kekuasaan Nya di alam semesta ini. Banyak keadaan sekitar yang bisa kita kenalkan untuk di baca anak kita. Bermain di taman, mengenalkan aneka pohon, satwa, agar mereka bisa membaca betapa Maha Besarnya Allah dengan segala ciptaan-Nya. Sehingga beberapa bulan terakhir ini, saya sering berusaha untuk kembali menanamkan gemar baca sejak dini pada Afnan. Alhamdulillah abinya membelikan iqra kecil saat Ramadhan kemarin, dan Afnan pun antusias membacanya. Mengambil iqra dan menyerahkannya pada abi atau ummi nya. Ada juga buku Limu, buku anak bergambar yang jadi favorit Afnan. Semoga saya bisa menambah koleksi buku untuk jagoan kecil ini.

IMG_8778

Afnan Semangat Belajar Iqra dengan Abinya. Koleksi: Pribadi

Ya, saya ingin seperti bapak dan Mama. Yang selalu berusaha membelikan majalah Bobo saat saya masih kecil agar kami semangat membaca. Saya ingin seperti mereka yang selalu antusias menambah koleksi buku dan membuat perpustakan pribadi. Saya ingin seperti bapak yang selalu membaca setiap hari. Sekarang giliran saya agar bisa menanamkan semangat literasi sejak dini pada Afnan. In sya Allah 😀

IMG_8876

Ikut Baca Quran dengan Abu Rizal. Koleksi: Pribadi

 

 

 

 

Hamparan Sawit di Persada Bumi Pertiwi: Tanda Subur dan Kayanya Indonesia

Hampir dua puluh tahun saya tinggal di Tanah Pasundan, dan selama itu pula saya hanya tahu kekayaan Indonesia dari satu sudut pandang Sumber Daya Alam saja. Indonesia memiliki alam yang kaya, dengan hamparan sawah dan gunung yang indah. Namun ternyata kekayaan alam Indonesia tidak hanya sebatas gunung dan sawah. Lebih dari itu, kita memiliki sumber daya alam dan potensi tanaman lokal yang sangat menjanjikan. Yaitu sawit yang merupakan bahan baku pembuatan minyak sayur dan beberapa bioetanol untuk alternatif energi. Bagi saya yang tinggal di daerah pegunungan, kurang familiar dengan sawit ini. Saya lebih akrab dengan kelapa ataupun pala. Jika ditanya, bagaimana prosesnya dari sawit bisa menjadi minyak? Saya pasti akan menggeleng tidak tahu. Wacana sawit merupakan komoditas ekspor yang menjanjikan pun hanya sekadar berita yang terbaca di gulungan surat kabar, ataupun tayangan televisi. Hingga akhirnya saat usia 22 tahun, tepat setelah kelulusan kuliah S1 ku, saya pun bertugas di pedalaman Aceh Timur. Dan disanalah saya menemui banyak hal, terutama sawit yang terhampar luas dan membuat saya sadar bahwa Indonesia bukan hanya sekadar kaya. Namun memang Indonesia ini dikaruniakan Tuhan dengan kekayaan alam yang begitu banyaknya.

Saat di bangku kuliah, saya mengenal sawit melalui mata kuliah kimia industri. Namun hanya sebatas referensi bacaan. Tibalah saat saya tinggal di Aceh selama satu tahun. Pohon kokoh yang begitu besar ini memang mirip dengan kelapa. Buahnya yang bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah.

Semangat Literasi untuk Generasi Informasi No Hoax

Indonesia gawat hoax.

Itulah kira-kira gambaran bangsaku ini. Bagaimana tidak, hampir setiap berita yang sedang viral tiba-tiba menjadi semakin terkenal akibat ulah jempol yang langsung membagikan berita tanpa dicek terlebih dahulu kebenarannya. Baru setelah berita tersebar, ada berita lanjutan yang berisi klarifikasi bahwa berita sebelumnya adalah hoax.

Menyebarkan berita bohong ini bukan hal main-main. Karena akibat tersebarnya berita bohong ini bisa fatal. Kita ambil contoh ada berita yang heboh tentang adanya penyelenggaraan operasi katarak gratis dari RS A. Hampir semua yang membutuhkan operasi katarak gratis ini akan berbondong-bondong untuk mendaftar. Namun bisa kita bayangkan, bagaimana kecewa dan sedihnya orang tersebut ketika sesampainya di RS, mereka ditolak dan diberitahu bahwa tidak ada penyelenggaraan operasi tersebut.

Ini baru sebatas hoax untuk masalah sosial dan kemanusiaan. Bisa dibayangkan jika tersebar berita palsu yang isinya memecah belah kesatuan bangsa ini. Dapat dipastikan stabilitas keadaan bangsa tersebut akan terganggu. Keamanan dan ketenteramannya. Jika dulu para penjajah dan musuh bangsa kita berperang dengan menggunakan senjata di lapangan, sekarang kita harus siap memerangi kejahatan informasi ini. Perang dengan menggunakan pena dan jari kita. Untuk bisa menahan diri dalam menyebarluaskan informasi palsu, dan berusaha berliterasi terlebih dahulu dalam menyaring dan mencari kebenaran informasi sebelum menyebarluaskan.

Penyebaran hoax ini bisa berlangsung dari mulut ke mulut secara langsung, atau bahkan melalui penyebaran berita di media. Terutama media sosial yang sangat ramai digunakan orang. Dapat dipastikan ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang dengan mudahnya menyebarkan informasi palsu, terutama di media sosial. Dikutip dari pernyataan Melani Budiantara, seorang pakar budaya dari Universitas Indonesia yang memaparkan hal tersebut pada acara seminar peran kebudayaan dalam pembangunan di Bappenas tanggal 4 April 2019, faktor-faktor tersebut diantaranya adalah:

Revolusi Media Sosial

Semakin tinggi konsumsi media sosial, akan berakibat semakin tinggi juga peluang tersebarnya berita hoax. Rata-rata media sosial yang sangat rentan menyebar berita hoax ini adalah facebook. Karena aplikasi ini cukup merakyat, dan masih menjadi favorit rakyat Indonesia. Berdasarkan laporan digital tahunan oleh We are social, Indonesia dinyatakan sebagai negara pengguna FB ke-4 di dunia. Dengan karakter aplikasi yang mudah dipahami dan digunakan, serta adanya tombol bagikan yang sangat mudah dan rentan menyebar semua berita tanpa disaring terlebih dahulu.

Kurangnya Literasi

Ketidaktahuan seseorang akan kebenaran suatu informasi akan berakibat fatal. Jika dia tidak semangat berliterasi sebelum menyebarluaskan informasi, dapat dipastikan akan sangat banyak berita hoax yang beredar. Kurang kritis dan tidak ada kehati-hatian dalam membaca suatu informasi menandakan seseorang masih sangat lemah dalam berliterasi. Jangankan untuk hal seperti ini. Kita ambil contoh untuk hal yang sederhana. Seringkali ada suatu berita muncul. Di artikel berita tersebut sudah sangat lengkap informasi yang tertera. Namun saat saya baca komentar para warganet, mereka menanyakan berita yang sudah jelas tertera dalam isi artikel. Dapat dipastikan kemungkinannya adalah masyarakat terbiasa langsung bertanya, tanpa mencari atau membaca terlebih dahulu. Dari sini kita tahu semangat literasi bangsa kita masih rendah. Pantas saja berdasarkan PISA survey, survei untuk melihat tingkat literasi siswa, Indonesia tidak masuk 70 besar baik dari segi matematika, sains, ataupun reading.

Pengguna Media Sosial Menjadi Pengedar Informasi 

Menjadi pengedar biasanya tanpa mengecek kebenaran terlebih dahulu. Jari bertindak, berita tersebar. Hampir semua rata-rata seperti itu.

Era Sekarang yaitu Era Post-Truth

Era sekarang bukanlah era yang mengunggulkan kebenaran. Yang diutamakan penyebar informasi adalah yang penting para warganet lainnya akan tertarik dengan  berita yang kita unggah atau sebar.

Konflik Horizontal

Yaitu konflik yang terjadi antar individu atau kelompok organisasi yang memiliki kedudukan sama atau setara. Biasanya hal ini terjadi karena kurangnya komunikasi, adanya unsur kebencian saat penyebaran informasi, dll.

Dengan mudahnya berita hoax tersebar, bahkan sampai ada UU ITE yang mengatur bagaimana hukuman atau sanksi bagi para penyebar berita palsu ini.

Di semangat kemrdekaan, di usia Indonesia yang ke-74, gawat hoax ini semakin rentan. Perlu ada semangat kemerdekaan dan persatuan dalam melawan hoax. Karena memang memerangi hoax ini bukan hanya tanggung jawab satu orang saja. Akan sangat sulit satu orang memerangi beribu-ribu orang yang dengan mudahnya menyebarkan berita palsu. Oleh karena itu, mulai dari diri sendiri. Tingkatkan literasi terlebih dahulu, sebelum menyebarkan informasi yang belum terjamin keabsahannya. Selain mengganggu stabilitas negara, penyebaran berita palsu ini bisa menjadi dosa jariyah, yang tidak ada henti-hentinya. Sehingga ingat, kita harus saring sebelum Sharing.

Palembang, 20 Agustus 2019

 

 

Akankah Pekerjaan Customer Service Punah di Masa Depan?

Momok Abad ke-21

Beberapa waktu lalu saya pernah menulis sebuah artikel tentang bisa tidaknya robot menggantikan peran dan posisi guru di kelas. Tulisan tersebut bersumber dari paparan mata kuliah Baba Sensei tentang perkembangan pendidikan, yang saat itu topik utamanya adalah keterampilan abad ke-21 yang semakin hari semakin menuntut kemampuan literasi sains dan teknologi. Karena adanya prediksi beberapa pekerjaan yang akan punah, tidak dibutuhkan manusia di dalamnya, yang akhirnya perannya akan tergantikan oleh robot. Tulisan lengkap artikel itu bisa disimak di sini.

Guru: Pekerjaan yang Tidak Dapat Digantikan oleh Robot

Namun bagaimana dengan nasib pekerjaan lainnya? Misalnya pekerjaan yang hanya berulang, tidak memerlukan kontak batin atau perasaan di dalamnya? Misalnya seperti pekerja tekstil atau pengantar surat. Kedua pekerjaan ini diprediksi akan punah karena bisa diganti oleh robot. Lalu bagaimana nasib operator telpon atau customer service? Akankah pekerjaan ini punah juga?

Perkembangan AI dan Dampaknya

Kita lihat perkembangan AI alias Artificial Intelligence ini semakin maju. Teknologi berkembang, penelitian humanoid semakin banyak, dan penerapan di berbagai bidang pun semakin marak. Peran serta robot yang dirancang dengan kecerdasan buatan ini diharapkan bisa semakin membantu kerja manusia. Sehingga pekerjaan akan lebih cepat selesai, karena seperti yang kita tahu robot tidak akan merasa lelah dan tidak akan mengobrol di sela-sela pekerjaannya. Efisiensi waktu dan tenaga dari robot ini tergolong sangat tinggi.

Beberapa peran AI pada robot ini sudah mulai diaplikasikan, seperti pelayan restoran berupa robot, penjual minuman yang berbentuk vending machine, dsb. Terasa atau tidak ketika kita berbelanja online di salah satu toko online terbesar di Indonesia, peran serta robot sudah ikut serta. Ketika kita menulis pesan pribadi, terkadang ada balasan dari sistem. Lalu akankah customer service pun ikut tergantikan?

Customer Service: Tergantikan dan Punah?

Peran customer service adalah sebagai penyelesai masalah ketika ada keluhan atau pertanyaan dari konsumen. Biasanya kita akan terhubung dan bisa berbicara secara langsung dengan mereka, setelah menghubungi dan menekan tombol tertentu. Kabarnya AI ini akan mulai menggantikan peran asli CS. AI ini diatur untuk bisa menjawab berbagai masalah yang sering ditanyakan konsumen dan menanggapinya berdasarkan seringnya masalah tersebut yang dihadapi.

Bila kita lihat sekilas hal ini akan memudahkan pelanggan. AI ini bisa bekerja selama 24 jam tanpa henti. Pelanggan akan puas dan tidak perlu menunggu sampai waktu kerja CS jika ingin mengeluhkan atau mempertanyakan suatu persoalan.

Apakah cukup hanya di situ saja? Kalau dilihat sepertinya bisa jadi CS ini perlahan akan tergeser oleh robot ini. Namun apakah sepenuhnya akan tergantikan? Kalau saya lihat peran CS yang merupakan penerima dan penyelesai masalah, tetap saja memerlukan interaksi. Bagaimanapun robot dengan AI akan melaksanakan tugas sesuai dengan kode perintah yang sudah diatur di dalam otak buatannya itu. Namun bagaimana jadinya jika ada konsumen yang bertanya di luar masalah umum yang jarang terjadi? Bisa jadi robot akan kebingungan. Oleh karena itu menurut pendapat saya, pekerjaan CS ini masih akan bertahan hingga benar-benar AI yang dikembangkan sudah sangat optimal.

Nah, salah satu perusahaan penggembang AI saat ini yang populer adalah Botika. Dikembangkan dengan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik. Untuk melihat lebih jauh info tentang botika ini bisa disimak di http://botika.online/blog/. Meskipun menjadi dua mata pisau, perkembangan AI seperti botika ini tidak bisa dielakkan. Kita bisa melihat penerapan dan kegunaan AI di berbagai produk, seperti botika yang memiliki banyak produk yang bisa dilihat di sini.

Intinya kita tetap harus bijak menggunaakn AI ini. Karena bagaimanapun saat berinteraksi dengan manusia akan berbeda dengan robot. Namun tetap saja kita pun tidak bisa menghindari perkembangan AI yang semakin pesat ini.

Palembang, 30 Juli 2019

Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes blog sobat botika

Khawatir dengan Biaya Pendidikan Anak? Yuk Ikut Asuransi Bersama Sequis

Biaya Pendidikan Anak Makin Mahal?

Suatu hari saat sedang asyik melihat postingan salah seorang teman di instagram terkait biaya pendidikan anak, seketika saya tersadar bahwa hari demi hari biaya pendidikan anak semakin mahal. Dan itu bukan hanya sekadar postingan satu teman. Beberapa teman lain yang tinggal di kota lain seperti di Yogyakarta, Bandung, dll pun ternyata mengungkapkan hal yang sama. Padahal rata-rata usia anaknya masih bersekolah di level PAUD dan TK. Hal itu pun akhirnya saya alami. Saat pulang ke Indonesia dan pindah ke kota Palembang, saya harus mencari PAUD atau daycare untuk Afnan. Berhubung saya dan suami sama-sama bekerja dari pagi hingga siang, dan kami di Palembang ini benar-benar merantau, tidak ada saudara atau kerabat. Akhirnya saya pun berusaha mencari informasi terkait daycare ini, dan hasilnya membuat saya syok. Biaya pendidikan untuk sekolah Afnan bisa mencapai Rp 10.000.000,00 dalam setahun. Itu pun hanya mencakup biaya SPP sekolah. Belum termasuk biaya makan, wisata, wisuda, dan transportasi untuk mengantar dan menjemput Afnan.

Saya dan suami pun sempat tidak percaya, sebegitu mahalkah biaya pendidikan sekarang ini? Apakah memang pendidikan semakin komersial? Ataukah ini sebuah kewajaran jika ingin mendapatkan pendidikan yang berkualitas? Ini baru PAUD. Belum lagi pendidikan SD, SMP, SMA, bahkan hingga kuliahnya Afnan. Ini baru Afnan, anak pertama saya. Belum lagi biaya pendidikan untuk adik-adiknya kelak. Bagaimanapun saya dan suami berharap Afnan dan adik-adiknya kelak bisa bersekolah setinggi-tingginya.

30706197_10210787703917972_2946802244587500775_n

Sekolah Afnan: Makin Tinggi, Makin Mahal. Dokumentasi: Pribadi

Merencanakan Pendidikan Anak

Mungkin sebagian dari teman-teman akan bilang, kan ada program beasiswa dan Kartu Pintar Indonesia (KIP)? Ya, betul. Tapi kita harus ingat tidak setiap anak memenuhi program ini, dan bisa jadi program KIP tiba-tiba dihentikan. Apalagi banyak hal tidak terduga yang bisa saja terjadi. Seperti tiba-tiba salah satu dari pasangan kita meninggal, dan akhirnya susah untuk urus-urus berbagai program tersebut. Berkaca dari Ibu, yang berusaha dan berjuang keras agar anak-anaknya bisa tetap bersekolah dan hanya mengandalkan uang pensiun. Rasanya sangat berat melihat ibu yang membanting tulang untuk bisa menyekolahkan ketiga anaknya tanpa suami. Apalagi zaman dulu tidak ada beasiswa dan KIP.

Oleh karena itu penting untuk merencanakan sesuatu jauh-jauh hari. Bisa jadi kita menabung di bank, ataupun berinvestasi. Namun berdasarkan pengalaman, jika kita menyimpan uang dalam bentuk tabungan biasanya sering terkuras dan rasanya sangat mudah untuk menarik uang. Akhirnya tabungan yang tersimpan harus dikeluarkan untuk keperluan lainnya, yang mungkin tidak urgen saat itu. Uang pun ludes, dan seperti biasa kita kembali kebingungan saat anak kita menagih uang untuk bayaran ini-itu di sekolah. Bagaimana dengan investasi? Cara ini bisa jadi sebagai bentuk tabungan aman. Seperti berinvestasi dalam bentuk logam mulia, dll. Namun ada juga yang masih belum familiar dengan tata cara investasi ini. Cara lainnya adalah kita bisa menyusunnya melalui program asuransi pendidikan. Mungkin banyak yang bertanya, apakah itu aman?

Banyak orang yang memang belum terlalu kenal dan paham mekanisme asuransi ini. Kebanyakan merasa takut rugi dan uang tidak kembali. Namun setelah saya amati bagaimana ibu saya beberapa tahun ke belakang ikut program asuransi pendidikan, saya pun mulai tertarik. Beliau mengalokasikan sebagian tabungannya untuk setor premi asuransi tiap bulannya dengan harga tertentu yang sudah disepakati saat awal pembukaan polis asuransi. Kemudian dilakukan kesepakatan jangka waktu penyimpanan asuransi juga, untuk berapa lama. Sehingga dalam kurun waktu tersebut, uang asuransi tidak bisa diambil. Beda kan dengan tabungan? Jika menabung biasanya kita gatal ingin mengambil dan menghabiskan uang tersebut.

Asuransi Pendidikan, Bisakah Jadi Solusi?

Salah satu lembaga asuransi terlengkap yang membuka asuransi kesehatan hingga pendidikan adalah sequis. dengan mottonya yaitu your better tomorrow, sequis hadir seolah menjawab keresahan orang tua tentang biaya pendidikan anak yang semakin mahal. Melalui sequis kita bisa menyiapkan masa depan anak-anak kita dengan kepastian dana pendidikan.

Di sequis ada beberapa jenis program asuransi pendidikan. Yaitu: Telepro beasiswa berjangka, Edu Plus, Sequis Edu Pan Insurance, Sequis EduPlan, dan Sequis Global EduPlan Insurance. Apa beda dari kelima jenis program asuransi tersebut?

1. TelePro Beasiswa Berjangka

Program asuransi ini adalah penawaran khusus bagi para nasabah BRI Britama, dengan pembayaran premi yang lebih singkat namun masa pertanggungan asuransi lebih panjang. Harga preminya sangat terjangkau. Hanya sekitar Rp 6500 per hari. Murah kan? Masih sangat murah jika dibandingkan dengan jajan kita sehari-hari. Masa pertanggungan asuransi bisa sampai 18 tahun, dan kita cukup hanya membayar 8 tahun. Bagaimana syarat dan ketentuannya? Bagi yang tertarik dengan produk asuransi ini bisa menghubungi sequis care atau bisa dibaca terlebih dahulu informasi yang detailnya di web berikut https://www.sequis.co.id/id/asuransi-jiwa/individu/asuransi-pendidikan/Telepro-Beasiswa-Berjangka

2. Edu Plus

Program asuransi ini merupakan kerja sama antara sequis dengan BRI. Bedanya dengan program sebelumnya adalah produk ini memberikan manfaat plus sesuai namanya, yaitu memberikan dana pendidikan terjadwal dan manfaat meninggal dunia. Masa pertanggungan asuransi adalah 16 tahun dan masa pembayaran premi adalah 10 tahun. Tertarik? Silakan langsung baca detailnya di https://www.sequis.co.id/id/asuransi-jiwa/individu/asuransi-pendidikan/Eduplus

3. Sequis EduPlan Insurance

Kita tahu biaya pendidikan tiap harinya makin mahal. Nah bagi yang ingin menyiapkan dana pendidikan dengan perencanaan yang tepat dan optimal untuk mengimbangi inflasi keuangan setiap tahunnya. Dan di produk ini kita bisa memilih masa pembayaran premi sesuai dengan yang diingginkan. Bisa 3, 6, 9, 12, atau 15 tahun. Bagi yang tertarik dengan program produk ini bisa membaca informasi lebih lanjut di https://www.sequis.co.id/id/asuransi-jiwa/individu/asuransi-pendidikan/Sequis-Eduplan-Insurance

4. Sequis EduPlan

Bagi yang menginginkan dana tahapan/ dana pendidikan multiguna, dengan plus adanya perlindungan jiwa dengan besar pembayaran premi sesuai pilihan kita. Produk ini hampir mirip dengan TelePro Beasiswa Berjangka, namun besaran premi sedikit berbeda yaitu sekitar Rp 8500 per hari. Nah, masih lebih murah kan dibandingkan dengan jajan kita sehari-hari? Bagi yang tertarik dengan produk beasiswa ini, bisa cek informasinya di sini https://www.sequis.co.id/id/asuransi-jiwa/individu/asuransi-pendidikan/Asuransi-Sequis-Eduplan

5. Sequis Global EduPlan Insurance

Produk kelima asuransi ini adalah mirip dengan sequis eduplan insurance. Bedanya, jika kita merencanakan pendidikan anak nantinya ingin bersekolah keluar negeri, bisa memilih produk asuransi ini. Massa pembayaran premi adalah 3, 6, dan 9 tahun. Untuk informasi lebih lanjut bisa dicek di https://www.sequis.co.id/id/asuransi-jiwa/individu/asuransi-pendidikan/Sequis-Global-Eduplan-Insurance

WhatsApp Image 2018-09-20 at 17.51.02

Merencanakan Pendidikan Terbaik Anak Hingga ke Luar negeri. Dokumentasi: Pribadi

Bagaimana Cara Mendaftar Asuransi Ini?

Teman-teman mungkin setelah membaca uraian beraneka produk asuransi di atas merasa tertarik dan ingin mendaftar. Lalu bagaimana cara mendaftar asuransi ini? Sangat mudah. Kita bisa menghubungi langsung sequiscare, dan mereka akan memandu kita untuk daftar langsung di kantor sequis terdekat.

Dengan hadirnya lembaga asuransi sequis dengan berbagai keunggulan produk asuransi pendidikannya, bisa menjawab keresahan para orang tua tentang masa depan pendidikan anaknya. Saya dan suami pun sekarang bisa tersenyum lega ketika membaca brosur tentang sequis ini. Rasa khawatir hilang, pikiran tenang. Nah, bagaimana dengan teman-teman semua? Apakah sudah merencanakan tabungan pendidikan anak melalui program asuransi? Yuk rencanakan pendidikan terbaik untuk anak-anak kita.

Palembang, 29 Juli 2019

Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes menulis blog bersama sequis.

 

Si Chemong dalam Pendekatan Pembelajaran STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics) untuk Meningkatkan Literasi dan Keterampilan 4C Peserta Didik di SMA Negeri Sumatera Selatan

Bertugas di sekolah unggulan seperti SMAN Sumatera Selatan memberikan tanggung jawab moril pada diri pribadi sebagai seorang guru baru di sekolah tersebut. Apakah penulis mampu memberikan yang terbaik? Apakah para peserta didik bisa menerima pembelajaran dengan menyenangkan? Apalagi mata pelajaran yang penulis ampu adalah kimia, yang merupakan mata pelajaran tergolong baru dan kurang familiar bagi para siswa kelas X. Karena selama ini, di SMP kimia masih terintegrasi dalam IPA dan porsi materinya masih sedikit. Namun ini menjadi PR besar bagi kami, para guru kimia untuk senantiasa bisa menyelenggarakan pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan abad ke-21 yaitu kecakapan literasi sains melalui pendekatan pembelajaran STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics) dan 4C (Communication, Collaborative, Critical Thinking, and Creativity).

Abad ke-21 ini merupakan era teknologi yang sebelumnya dijelaskan bahwa pada era ini diharapkan para guru mampu mengembangkan peserta didik dalam bidang literasi sains dan keterampilan 4C. Pembelajaran sains pada hakekatnya adalah mendalami kebesaran Tuhan melalui fenomena alam yang dapat teramati. Dari fenomena yang terjadi, kemudian para ilmuwan meneliti dan akhirnya mencetuskan sebuah teori pendukung terkait fenomena tersebut. Sehingga bila kita tinjau dari prosesnya, sains ini akan sangat bermakna jika dimulai dengan pengamatan fenomena yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun pada kenyataannya, kebanyakan guru menyampaikan materi berupa teori, teori, dan teori. Yang tadinya sains sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, seolah menjadi mata pelajaran yang bersifat abstrak.

Menurut Chittleborough (2007) kimia adalah salah satu rumpun mata pelajaran sains, yang bersifat abstrak dengan memadukan pengamatan fenomena yang terjadi secara makroskopik, berdasarkan penjelasan level partikulat (atom, ion molekul), yang kemudian disederhanakan melalui bahasa kimia (simbol). Saat mata pelajaran abstrak diajarkan dengan cara yang abstrak, tentulah akan membuat peserta didik semakin kebingungan dan merasa kimia adalah pelajaran yang sulit. Bahkan saat pertama kali penulis masuk di salah satu kelas X di SMAN Sumsel ada seorang peserta didik yang menyatakan sebenarnya kita belajar kimia untuk apa? Mengapa kimia itu seperti pelajaran aneh? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan negatif sejenis yang mereka ungkapkan.

Salah satu topik kimia di kelas X yang menjadi horor bagi peserta didik adalah hukum dasar kimia dan stokiometri. Karakter topik ini penuh konsep, abstrak, dan banyak perhitungan. Diperlukan kemampuan siswa untuk memahami konsep, menalar, berpikir kritis atau bisa kita sebut butuh kemampuan literasi sains dan 4C ini. Beberapa metode pembelajaran pun telah diuji cobakan. Namun hanya 10% setiap kelasnya yang melewati nilai KKM sebesar 75. Setelah dilakukan pengamatan, ternyata pemahaman konsep dasar peserta didik yang masih kurang. Mereka tahu bunyi satu hukum kimia, namun tidak paham aplikasinya. Ada juga yang sering tertukar antara satu hukum kimia dengan hukum kimia lainnya. Dari permasalahan ini penulis pun mencoba untuk menggunakan metode penugasan lagu kimia, yang dalam hal ini penulis istilahkan sebagai Si Chemong (Science Chemistry Song). Karena berdasarkan Sugiarto (2011) yang menyatakan musik/ lagu membuat suasana belajar semakin nyaman, bahkan dapat menenangkan dan menyeimbangkan kerja otak. Sehingga diharapkan konversi kimia lewat seni akan membuat peserta didik nyaman belajar, minimal senang dengan kimia.

Mengapa penulis antusias Si Chemong ini bisa menjembatani siswa untuk meningkatkan literasi sains dan keterampilan 4C? Penulis melihat dalam proses pembuatan Si Chemong ini yang ternyata memuat metode untuk meningkatkan literasi sains dan keterampilan 4C. Yaitu:

  1. Peserta didik membaca kembali konsep materi kimia sesuai penugasan masing-masing kelompok

Pada tahap ini siswa akan berliterasi dengan harus membaca dan mencari referensi. Dalam pelaksanaannya, kemampuan berkolaborasi dan berkomunikasi sangat diperlukan antar anggota kelompok.

  1. Peserta didik merancang lirik lagu dengan memuat isi materi kimia yang ditugaskan

Pada tahap ini siswa kembali menggunakan kemampuan berpikir kritis dan kreatifnya di dalam kelompok. Setiap kelompok bebas menentukan lirik, asal tidak menyimpang dari inti konsep materi kimia tersebut. Selain itu pada tahap ini keterampilan komunikasi antar anggota semakin terlatih.

  1. Peserta didik merekam lagu tersebut, yang kemudian dinyanyikan dan direkam per kelompok dan mengunggahnya di akun media social sepeti youtube

Pada tahap ini siswa berlatih secara kreatif untuk bisa menampilkan yang terbaik dari hasil perencanaan dan latihan mereka. Di sini akan terlihat mana kelompok yang anggotanya berkolaborasi dengan baik, dan mana yang kurang.

Dari ketiga tahapan pokok tadi, bisa kita lihat penugasan Si Chemong ini mengakomodasi literasi sains dan melatih 4C peserta didik. Dan secara praktis, dalam proses pembuatan lagu Si Chemong, peserta didik sudah melakukan pendekatan pembelajaran yang terintegrasi, yang sekarang terkenal dengan istilah STEAM. Berikut rincian pendekatan pembelajaran tersebut pada tiap tahapannya:

  1. Science

Topik yang dipelajari peserta didik adalah kimia yang merupakan bagian dari sains.

  1. Technology dan Engineering

Peserta didik menggunakan alat perekam video, video editor, intrumen musik, dll yang merupakan bagian dari teknologi. Serta proses unggah video tersebut ke akun media sosial seperti youtube.

  1. Art

Meskipun bukan pelajaran seni, ternyata kimia pun bisa dipadukan dengan seni. Mengonversikan konsep kimia ke dalam bentuk lagu, bisa dengan cepat membuat seseorang ingat dan tidak akan mudah lupa.

  1. Mathematics

Matematika yang menjadi konsep dasar bagi setiap disiplin ilmu, dan dalam topik stoikiometri ini dibutuhkan kemampuan matematis.

       Rincian tahapan dan pelaksanaan Si Chemong yang ternyata mencakup kemampuan literasi sains dalam STEAM dan keterampilan 4C diharapkan bisa menjadi alternatif solusi best practice untuk para guru kimia dalam menjembatani materi yang tergolong sulit, namun memerlukan hapalan dan pemahaman konsep dasar. Secara analisis kuantitatif memang diperlukan uji coba terbatas dalam penelitian pengembangan selanjutnya.

Berikut contoh video kelompok siswa yang sudah saya unggah di akun youtube:

 

Referensi:

  1. Chittleborough, G. (2004). The Role of Teaching Models and Chemical Representations in Developing Students’ Mental Models of Chemical Phenomena (Doctoral Thesis, Curtin University, Perth, WA). Retrieved from https://espace.curtin.edu.au/handle/20.500.11937/763
  2. Sugiarto, I. (2011). Cara Mengoptimalkan Daya Kerja Otak dengan Berpikir Holistik dan Kreatif. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Palembang, Juni 2019

Tulisan ini diikutsertakan dalamLomba Internal Guru SMAN Sumatera Selatan