Semangat Literasi untuk Generasi Informasi No Hoax

Indonesia gawat hoax.

Itulah kira-kira gambaran bangsaku ini. Bagaimana tidak, hampir setiap berita yang sedang viral tiba-tiba menjadi semakin terkenal akibat ulah jempol yang langsung membagikan berita tanpa dicek terlebih dahulu kebenarannya. Baru setelah berita tersebar, ada berita lanjutan yang berisi klarifikasi bahwa berita sebelumnya adalah hoax.

Menyebarkan berita bohong ini bukan hal main-main. Karena akibat tersebarnya berita bohong ini bisa fatal. Kita ambil contoh ada berita yang heboh tentang adanya penyelenggaraan operasi katarak gratis dari RS A. Hampir semua yang membutuhkan operasi katarak gratis ini akan berbondong-bondong untuk mendaftar. Namun bisa kita bayangkan, bagaimana kecewa dan sedihnya orang tersebut ketika sesampainya di RS, mereka ditolak dan diberitahu bahwa tidak ada penyelenggaraan operasi tersebut.

Ini baru sebatas hoax untuk masalah sosial dan kemanusiaan. Bisa dibayangkan jika tersebar berita palsu yang isinya memecah belah kesatuan bangsa ini. Dapat dipastikan stabilitas keadaan bangsa tersebut akan terganggu. Keamanan dan ketenteramannya. Jika dulu para penjajah dan musuh bangsa kita berperang dengan menggunakan senjata di lapangan, sekarang kita harus siap memerangi kejahatan informasi ini. Perang dengan menggunakan pena dan jari kita. Untuk bisa menahan diri dalam menyebarluaskan informasi palsu, dan berusaha berliterasi terlebih dahulu dalam menyaring dan mencari kebenaran informasi sebelum menyebarluaskan.

Penyebaran hoax ini bisa berlangsung dari mulut ke mulut secara langsung, atau bahkan melalui penyebaran berita di media. Terutama media sosial yang sangat ramai digunakan orang. Dapat dipastikan ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang dengan mudahnya menyebarkan informasi palsu, terutama di media sosial. Dikutip dari pernyataan Melani Budiantara, seorang pakar budaya dari Universitas Indonesia yang memaparkan hal tersebut pada acara seminar peran kebudayaan dalam pembangunan di Bappenas tanggal 4 April 2019, faktor-faktor tersebut diantaranya adalah:

Revolusi Media Sosial

Semakin tinggi konsumsi media sosial, akan berakibat semakin tinggi juga peluang tersebarnya berita hoax. Rata-rata media sosial yang sangat rentan menyebar berita hoax ini adalah facebook. Karena aplikasi ini cukup merakyat, dan masih menjadi favorit rakyat Indonesia. Berdasarkan laporan digital tahunan oleh We are social, Indonesia dinyatakan sebagai negara pengguna FB ke-4 di dunia. Dengan karakter aplikasi yang mudah dipahami dan digunakan, serta adanya tombol bagikan yang sangat mudah dan rentan menyebar semua berita tanpa disaring terlebih dahulu.

Kurangnya Literasi

Ketidaktahuan seseorang akan kebenaran suatu informasi akan berakibat fatal. Jika dia tidak semangat berliterasi sebelum menyebarluaskan informasi, dapat dipastikan akan sangat banyak berita hoax yang beredar. Kurang kritis dan tidak ada kehati-hatian dalam membaca suatu informasi menandakan seseorang masih sangat lemah dalam berliterasi. Jangankan untuk hal seperti ini. Kita ambil contoh untuk hal yang sederhana. Seringkali ada suatu berita muncul. Di artikel berita tersebut sudah sangat lengkap informasi yang tertera. Namun saat saya baca komentar para warganet, mereka menanyakan berita yang sudah jelas tertera dalam isi artikel. Dapat dipastikan kemungkinannya adalah masyarakat terbiasa langsung bertanya, tanpa mencari atau membaca terlebih dahulu. Dari sini kita tahu semangat literasi bangsa kita masih rendah. Pantas saja berdasarkan PISA survey, survei untuk melihat tingkat literasi siswa, Indonesia tidak masuk 70 besar baik dari segi matematika, sains, ataupun reading.

Pengguna Media Sosial Menjadi Pengedar Informasi 

Menjadi pengedar biasanya tanpa mengecek kebenaran terlebih dahulu. Jari bertindak, berita tersebar. Hampir semua rata-rata seperti itu.

Era Sekarang yaitu Era Post-Truth

Era sekarang bukanlah era yang mengunggulkan kebenaran. Yang diutamakan penyebar informasi adalah yang penting para warganet lainnya akan tertarik dengan  berita yang kita unggah atau sebar.

Konflik Horizontal

Yaitu konflik yang terjadi antar individu atau kelompok organisasi yang memiliki kedudukan sama atau setara. Biasanya hal ini terjadi karena kurangnya komunikasi, adanya unsur kebencian saat penyebaran informasi, dll.

Dengan mudahnya berita hoax tersebar, bahkan sampai ada UU ITE yang mengatur bagaimana hukuman atau sanksi bagi para penyebar berita palsu ini.

Di semangat kemrdekaan, di usia Indonesia yang ke-74, gawat hoax ini semakin rentan. Perlu ada semangat kemerdekaan dan persatuan dalam melawan hoax. Karena memang memerangi hoax ini bukan hanya tanggung jawab satu orang saja. Akan sangat sulit satu orang memerangi beribu-ribu orang yang dengan mudahnya menyebarkan berita palsu. Oleh karena itu, mulai dari diri sendiri. Tingkatkan literasi terlebih dahulu, sebelum menyebarkan informasi yang belum terjamin keabsahannya. Selain mengganggu stabilitas negara, penyebaran berita palsu ini bisa menjadi dosa jariyah, yang tidak ada henti-hentinya. Sehingga ingat, kita harus saring sebelum Sharing.

Palembang, 20 Agustus 2019

 

 

Putri Kemarau: Cerita Rakyat dari Sumatera Selatan

Dari kecil saya sangat suka membaca buku. Mungkin rasa cinta terhadap buku ini semakin tumbuh karena ditanamkan orang tua. Bapak selalu menyisihkan gajinya untuk membeli buku dan majalah kesayangan kami. Saat itu majalah bobo merupakan majalah yang saya rasa terbaik untuk anak-anak. Karena konten di dalamnya yang memuat cerita anak, penanaman moral sejak dini, bahkan saya pun menjadi kenal dengan istilah sahabat pena saat itu.

Lalu beranjak remaja, semakin banyak jenis buku yang saya suka. Teteh biasa meminjam buku angkatan balai pustaka di perpustakaan sekolahnya. Hampir semua buku angkatan balai pustaka seperti NH. Dini, Ahmad Tohari, ST. Aisyahbana, dll saya ikut lahap habis jika teteh selesai membaca. Di dekat tsanawiyah tempat saya bersekolah SMP dulu pun sangat dekat dengan perpustakaan sekolah. Jadi hampir tiap hari, sepulang sekolah saya dan adik pergi ke perpustakaan daerah juga untuk membaca.

Nah, jenis buku yang juga membuat saya jatuh hati adalah buku cerita rakyat. Cerita dari suatu daerah tertentu dengan gaya khas asli daerah, serta bahasanya yang menyentuh membuat saya tidak pernah bosan membaca cerita rakyat. Jika dulu cerita rakyat yang sering saya baca adalah dari Jawa Barat, perlahan sesuai bertambahnya usia, saya pun mulai membaca cerita-cerita rakyat dari berbagai belahan nusantara lainnya.

CFT0020_Riri_Putri_Kemarau_feature

Sumber:  https://www.educastudio.com/kids-story-riri-putri-kemarau/

Di saat saya sedang tidak ada jam mengajar, saya pun pergi ke perpustakaan sekolah. Di sana ternyata banyak juga koleksi cerita rakyatnya. Dan akhirnya saya memilih buku puteri kemarau karya Ibu Yelly Kusnita sebagai buku cerita rakyat pertama yang diaca di bulan ini. Beliau adalah mantan guru bahasa Indonesia di SMAN Sumatera Selatan.

Isi dari buku cerita rakyat ini adalah tentang kisah putri Jelitani yang lahir di musim kemarau. Melalui seorang peramal dikabarkan kesulitan yang melanda negeri saat itu akibat kekeringan bisa diatasi dengan cara yang akan ditunjukkan lewat mimpi sang putri. Rupanya di dalam mimpi dikatakan bahwa harus ada seorang gadis yang berkorban. Bisa kita tebak, ternyata tidak ada satupun gadis yang rela berkorban. Akhirnya dengan keikhlasan, Putri Jelitani pun bersedia berkorban. Bagaimana akhirnya? Silakan teman-teman baca sendiri supaya lebih tertarik dan penasaran ya.

Palembang, 13 Agustus 2019

Khawatir dengan Biaya Pendidikan Anak? Yuk Ikut Asuransi Bersama Sequis

Biaya Pendidikan Anak Makin Mahal?

Suatu hari saat sedang asyik melihat postingan salah seorang teman di instagram terkait biaya pendidikan anak, seketika saya tersadar bahwa hari demi hari biaya pendidikan anak semakin mahal. Dan itu bukan hanya sekadar postingan satu teman. Beberapa teman lain yang tinggal di kota lain seperti di Yogyakarta, Bandung, dll pun ternyata mengungkapkan hal yang sama. Padahal rata-rata usia anaknya masih bersekolah di level PAUD dan TK. Hal itu pun akhirnya saya alami. Saat pulang ke Indonesia dan pindah ke kota Palembang, saya harus mencari PAUD atau daycare untuk Afnan. Berhubung saya dan suami sama-sama bekerja dari pagi hingga siang, dan kami di Palembang ini benar-benar merantau, tidak ada saudara atau kerabat. Akhirnya saya pun berusaha mencari informasi terkait daycare ini, dan hasilnya membuat saya syok. Biaya pendidikan untuk sekolah Afnan bisa mencapai Rp 10.000.000,00 dalam setahun. Itu pun hanya mencakup biaya SPP sekolah. Belum termasuk biaya makan, wisata, wisuda, dan transportasi untuk mengantar dan menjemput Afnan.

Saya dan suami pun sempat tidak percaya, sebegitu mahalkah biaya pendidikan sekarang ini? Apakah memang pendidikan semakin komersial? Ataukah ini sebuah kewajaran jika ingin mendapatkan pendidikan yang berkualitas? Ini baru PAUD. Belum lagi pendidikan SD, SMP, SMA, bahkan hingga kuliahnya Afnan. Ini baru Afnan, anak pertama saya. Belum lagi biaya pendidikan untuk adik-adiknya kelak. Bagaimanapun saya dan suami berharap Afnan dan adik-adiknya kelak bisa bersekolah setinggi-tingginya.

30706197_10210787703917972_2946802244587500775_n

Sekolah Afnan: Makin Tinggi, Makin Mahal. Dokumentasi: Pribadi

Merencanakan Pendidikan Anak

Mungkin sebagian dari teman-teman akan bilang, kan ada program beasiswa dan Kartu Pintar Indonesia (KIP)? Ya, betul. Tapi kita harus ingat tidak setiap anak memenuhi program ini, dan bisa jadi program KIP tiba-tiba dihentikan. Apalagi banyak hal tidak terduga yang bisa saja terjadi. Seperti tiba-tiba salah satu dari pasangan kita meninggal, dan akhirnya susah untuk urus-urus berbagai program tersebut. Berkaca dari Ibu, yang berusaha dan berjuang keras agar anak-anaknya bisa tetap bersekolah dan hanya mengandalkan uang pensiun. Rasanya sangat berat melihat ibu yang membanting tulang untuk bisa menyekolahkan ketiga anaknya tanpa suami. Apalagi zaman dulu tidak ada beasiswa dan KIP.

Oleh karena itu penting untuk merencanakan sesuatu jauh-jauh hari. Bisa jadi kita menabung di bank, ataupun berinvestasi. Namun berdasarkan pengalaman, jika kita menyimpan uang dalam bentuk tabungan biasanya sering terkuras dan rasanya sangat mudah untuk menarik uang. Akhirnya tabungan yang tersimpan harus dikeluarkan untuk keperluan lainnya, yang mungkin tidak urgen saat itu. Uang pun ludes, dan seperti biasa kita kembali kebingungan saat anak kita menagih uang untuk bayaran ini-itu di sekolah. Bagaimana dengan investasi? Cara ini bisa jadi sebagai bentuk tabungan aman. Seperti berinvestasi dalam bentuk logam mulia, dll. Namun ada juga yang masih belum familiar dengan tata cara investasi ini. Cara lainnya adalah kita bisa menyusunnya melalui program asuransi pendidikan. Mungkin banyak yang bertanya, apakah itu aman?

Banyak orang yang memang belum terlalu kenal dan paham mekanisme asuransi ini. Kebanyakan merasa takut rugi dan uang tidak kembali. Namun setelah saya amati bagaimana ibu saya beberapa tahun ke belakang ikut program asuransi pendidikan, saya pun mulai tertarik. Beliau mengalokasikan sebagian tabungannya untuk setor premi asuransi tiap bulannya dengan harga tertentu yang sudah disepakati saat awal pembukaan polis asuransi. Kemudian dilakukan kesepakatan jangka waktu penyimpanan asuransi juga, untuk berapa lama. Sehingga dalam kurun waktu tersebut, uang asuransi tidak bisa diambil. Beda kan dengan tabungan? Jika menabung biasanya kita gatal ingin mengambil dan menghabiskan uang tersebut.

Asuransi Pendidikan, Bisakah Jadi Solusi?

Salah satu lembaga asuransi terlengkap yang membuka asuransi kesehatan hingga pendidikan adalah sequis. dengan mottonya yaitu your better tomorrow, sequis hadir seolah menjawab keresahan orang tua tentang biaya pendidikan anak yang semakin mahal. Melalui sequis kita bisa menyiapkan masa depan anak-anak kita dengan kepastian dana pendidikan.

Di sequis ada beberapa jenis program asuransi pendidikan. Yaitu: Telepro beasiswa berjangka, Edu Plus, Sequis Edu Pan Insurance, Sequis EduPlan, dan Sequis Global EduPlan Insurance. Apa beda dari kelima jenis program asuransi tersebut?

1. TelePro Beasiswa Berjangka

Program asuransi ini adalah penawaran khusus bagi para nasabah BRI Britama, dengan pembayaran premi yang lebih singkat namun masa pertanggungan asuransi lebih panjang. Harga preminya sangat terjangkau. Hanya sekitar Rp 6500 per hari. Murah kan? Masih sangat murah jika dibandingkan dengan jajan kita sehari-hari. Masa pertanggungan asuransi bisa sampai 18 tahun, dan kita cukup hanya membayar 8 tahun. Bagaimana syarat dan ketentuannya? Bagi yang tertarik dengan produk asuransi ini bisa menghubungi sequis care atau bisa dibaca terlebih dahulu informasi yang detailnya di web berikut https://www.sequis.co.id/id/asuransi-jiwa/individu/asuransi-pendidikan/Telepro-Beasiswa-Berjangka

2. Edu Plus

Program asuransi ini merupakan kerja sama antara sequis dengan BRI. Bedanya dengan program sebelumnya adalah produk ini memberikan manfaat plus sesuai namanya, yaitu memberikan dana pendidikan terjadwal dan manfaat meninggal dunia. Masa pertanggungan asuransi adalah 16 tahun dan masa pembayaran premi adalah 10 tahun. Tertarik? Silakan langsung baca detailnya di https://www.sequis.co.id/id/asuransi-jiwa/individu/asuransi-pendidikan/Eduplus

3. Sequis EduPlan Insurance

Kita tahu biaya pendidikan tiap harinya makin mahal. Nah bagi yang ingin menyiapkan dana pendidikan dengan perencanaan yang tepat dan optimal untuk mengimbangi inflasi keuangan setiap tahunnya. Dan di produk ini kita bisa memilih masa pembayaran premi sesuai dengan yang diingginkan. Bisa 3, 6, 9, 12, atau 15 tahun. Bagi yang tertarik dengan program produk ini bisa membaca informasi lebih lanjut di https://www.sequis.co.id/id/asuransi-jiwa/individu/asuransi-pendidikan/Sequis-Eduplan-Insurance

4. Sequis EduPlan

Bagi yang menginginkan dana tahapan/ dana pendidikan multiguna, dengan plus adanya perlindungan jiwa dengan besar pembayaran premi sesuai pilihan kita. Produk ini hampir mirip dengan TelePro Beasiswa Berjangka, namun besaran premi sedikit berbeda yaitu sekitar Rp 8500 per hari. Nah, masih lebih murah kan dibandingkan dengan jajan kita sehari-hari? Bagi yang tertarik dengan produk beasiswa ini, bisa cek informasinya di sini https://www.sequis.co.id/id/asuransi-jiwa/individu/asuransi-pendidikan/Asuransi-Sequis-Eduplan

5. Sequis Global EduPlan Insurance

Produk kelima asuransi ini adalah mirip dengan sequis eduplan insurance. Bedanya, jika kita merencanakan pendidikan anak nantinya ingin bersekolah keluar negeri, bisa memilih produk asuransi ini. Massa pembayaran premi adalah 3, 6, dan 9 tahun. Untuk informasi lebih lanjut bisa dicek di https://www.sequis.co.id/id/asuransi-jiwa/individu/asuransi-pendidikan/Sequis-Global-Eduplan-Insurance

WhatsApp Image 2018-09-20 at 17.51.02

Merencanakan Pendidikan Terbaik Anak Hingga ke Luar negeri. Dokumentasi: Pribadi

Bagaimana Cara Mendaftar Asuransi Ini?

Teman-teman mungkin setelah membaca uraian beraneka produk asuransi di atas merasa tertarik dan ingin mendaftar. Lalu bagaimana cara mendaftar asuransi ini? Sangat mudah. Kita bisa menghubungi langsung sequiscare, dan mereka akan memandu kita untuk daftar langsung di kantor sequis terdekat.

Dengan hadirnya lembaga asuransi sequis dengan berbagai keunggulan produk asuransi pendidikannya, bisa menjawab keresahan para orang tua tentang masa depan pendidikan anaknya. Saya dan suami pun sekarang bisa tersenyum lega ketika membaca brosur tentang sequis ini. Rasa khawatir hilang, pikiran tenang. Nah, bagaimana dengan teman-teman semua? Apakah sudah merencanakan tabungan pendidikan anak melalui program asuransi? Yuk rencanakan pendidikan terbaik untuk anak-anak kita.

Palembang, 29 Juli 2019

Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes menulis blog bersama sequis.

 

Menjadi pribadi Lebih Baik: Referensi dari Buku Tazkiyatun Nafs

Pernah tidak teman-teman merasa diri seperti hampa, tidak bahagia? Atau terkadang teman-teman merasa seperti makin bertambah usia, semakin sering menganggap suatu hal tidak penting? Atau malah kita merasa semakin bertambah sifat buruk kita? Su’udzan sama orang, mulut makin tidak terkendali menggosip, dll?

Saya sering merasa seperti itu. Saat sendiri, berkontemplasi. Apa sebetulnya inti hidup di dunia ini? Mengapa harus iri dengan rezeki orang? Mengapa kadang merasa sedih mendadak? Apalagi yang kurang? Selidik punya selidik ternyata hal ini berkaitan dengan masalah hati. Dan saat itu pasti kita langsung ngeh, nah ini…hatinya bermasalah. Benar jika ada suatu hadits yang menyatakan segumpal daging bernama hati ini memiliki pengaruh yang luar biasa. Jika hatinya baik, baiklah seluruhnya. Namun jika hati kita kotor, sudah pasti akan mempengaruhi semua aktifitas kita. Dalam kitab ihya Ulumuddin hal ini banyak dibahas. Namun karena panjang dan tebal berjidil, alhamdulillah ada buku yang berjudul tazkiyatun nafs yang membuat inti sari hal ini, untuk meningkatkan diri dan membersihkan hati.

“Ketahuilah bahwa hati manusia tidak mungkin terus dalam keadaan bersih, akan tetapi suatu saat mesti akan bernoda karena dosa dan maksiat, maka pada waktu itu dibutuhkan pembersih hati dan pembersih hati itu adalah menelaah kitab-kitab ilmu agama untuk memahami dan mengamalkannya.” (Kitab Talbisu Ibliis, hal.398).

Kutipan tersebut sangat mengena. Yes, manusia itu bukan malaikat yang hatinya akan selamanya bersih. Ditambah interaksi dengan orang lain setiap harinya. Namun bukan tidak mungkin kita bisa mengontrol hati ini. Beberapa inti untuk meningkatkan diri, agar pribadi semakin baik menurut buku tazkiyatun nafs adalah:

Dimulai dari niat dan hati ikhlas. Dan sebelum memulai penyucian diri, dimulai dengan taubat nasuha, yang merupakan bagian dari penyucian jiwa. Setelah itu memasuki fase tahaqquq yaitu menghiasi jiwa yang seharusnya ada dengan hal-hal positif, seperti meningkatkan ibadah kita, ikhlas, tawakkal, wara’, dll. Dan yang terakhir berakhlak dengan nama Allah.

Dan mungkin pepatah yang sering saya ingat adalah, ingat hidup di dunia ini sementara. JANGAN biarkan diri ini menanggung dosa yang sangat berat dengan membenci seseorang terlalu berlebihan, menghiasi diri dengan mengotori hati, dll. Berbuat sebaik-baiknya, meskipun mungkin tidak semua orang akan menyukai kita. karena kita tidak bisa memaksakan semua orang untuk suka sama kita. Namun yang penting kita selalu berusaha ber-ahsanu amali. Mungkin jika kita sadar akan hal ini, akan sangat damai dan tenteram hati ini. In sya Allah, saya pun sedang belajar untuk berbuat hal ini. Semoga istiqamah. Aamiin.

Palembang, 19 Juli 2019

 

 

Tips Menyapih dan Toilet Training Ala Abu Afnan

Assalamualaikum wr.wb,

Teman-teman pasti heran, loh kok tips parentingnya ala Abinya Afnan? Biasanya ibu-ibu yang punya tips parenting kan… Nah, karena biasanya untuk ilmu parenting saya suka baca dan aplikasikan dari artikel parenting, ternyata apa yang tertulis dan terealisasi di lapangan seringkali berbeda. Dan malah yang manjur adalah tips dari Aa, alias abu Afnan. Seperti apa tips parentingnya?

IMG_6862

Abu Afnan dan Sang Jagoan Cilik 

Menyapih Ala Ummu VS Abu Afnan

Berhubung saya sering banget baca artikel tentang menyapih dengan cinta alias WWL, akhirnya saya pun terinspirasi untuk melakukan hal itu. Melakukan sounding, jauh sebelum waktu menyapih. Saya dan suami sepakat untuk menyapih pas di dua tahun Afnan. Saya pun mengikuti saran artikel tersebut. Namun dekat di 2 bulannya Afnan, sepertinya belum ada hasil apapun. Saya pun bertanya pada mama, kalau dulu kami disapih seperti apa? Mama bilang, mama olesin betadine di putingnya. Jadi kami otomatis berhenti menyusui. Hm, tapi yang saya baca itu bukan menyapih dengan cinta.

Suami pun menyarankan hal lain. Karena kami akan segera berangkat haji beberapa bulan lagi, otomatis Afnan harus segera disapih di 2 tahunnya ini. Suami menyarankan untuk mengolesi puting dengan minyak telon. Awalnya saya ragu dan gak mau. kata saya takut gak WWL, bi… Cuma abu Afnan keukeuh dan bilang kalau kayak gitu bakal lama. Akhirnya saya pun mengikuti sarannya, dan saya olesi minyak telon sedikit. Hasilnya? Afnan ternyata berhenti menyusu dan langsung menunjukkan ekspresi kepedesan, hah hah hah. Setelah itu, setiap dia melihat ‘nenen’, Afnan akan bilang nenen pedes… 😀 Dan teknik ini berhasil. Maafkan lah kalau kami tidak menuruti artikel dari para ahli parenting. Tapi ternyata dengan minyak telon tidak membuat anak ketakutan. Afnan masih senyum-senyum juga, dan paham kalau jatahnya sudah selesai.

Toilet training Abu Afnan yang Sangat Ringkas

Jika saya butuh waktu lama untuk mengenalkan aktifitas di toilet, seperti BAK dan BAAB, ternyata bagi Abu Afnan hanya butuh beberapa hari. Kalau saya hanya melepas popok saat siang hari, namun Abu Afnan langsung ekstrem malam hari pun harus dibuka. Dan ternyata mempan. Afnan pipis sebelum tidur, dan dia akan terbangun jika akan pipis. Akhirnya pas di 2 tahun juga, kami sudah berhenti membeli popok. 😀

Ternyata tidak selamanya tips parenting yang saya baca di artikel bisa terlaksana dengan baik dan cepat. Malah ide ekstrem dan Abu Afnan lah yang berhasil diterapkan. Jazakallah Aa… 😀

Palembang, 18 Juli 2019

Tips Bijak Bersosial Media

Perkembangan abad ke-21 tidak terlepas dengan perkembangan teknologi informasi. Dunia internet dan perkembangannya menjadi fokus utama yang tidak terelakkan. Dan pastinya yang paling sering kita pakai di internet tiap harinya adalah media sosial. Mulai dari facebook, instagram, whattsapp, dll. Ketiga media sosial ini seperti menjadi kebutuhan bagi warga Indonesia, loh. Terutama untuk facebook. Sampai-sampai saat di Jepang dulu, saat ngobrol dengan Saga san di Bomb Dome Hiroshima, dia bilang orang Indonesia ini pasti ada facebooknya. Nggak mungkin orang Indonesia kalau tidak punya facebook. Saya pikir betul juga sih. Jika dibandingkan teman-teman dari negara lain, saat saya tanya biasanya mereka akan bilang tidak punya akun fb. Kalaupun ada jarang aktif, jarang memperbarui status beranda ataupun postingan ceritanya. Dari sini semakin menarik, kok bisa ya orang Indonesia senang banget facebook-an? Dipakai untuk apa media sosial mereka, terutama fb ini? Setelah saya cermati, ada beberapa tipe pengguna media sosial ini. Yaitu:

Tipe yang sering memperbarui status

Banyak teman-teman yang termasuk tipe ini. Statusnya bisa berisi curhatan, berbagi kisah/ artikel inspiratif, ataupun dipakai untuk berjualan.

Tipe yang hanya tarik ulur beranda

Tipe ini paling suka tarik ulur saja, untuk mengecek berita terbaru di beranda. Tipe yang sepintas baca status temannya, namun biasanya jarang memperbarui status. Jadi tipe ini biasanya lebih sering menggunakan media sosial hanya untuk mengetahui kabar terbaru.

Tipe pasif

Tipe ini biasanya hanya muncul untuk memberi jempol atau komentar sesekali. Dan biasanya akan jarang memperbarui status.

Kalian tipe yang manakah?

Mungkin kita harus mengevaluasi apakah kita tipe yang bijak dalam bermedia sosial atau tidak. Jangan sampai ada yang enek karena postingan kita. Misalnya kita sering memperbaharui status tiap satu jam, cobalah dikurangi dengan batasan minimal 1 postingan tiap hari, dll. Karena bagaimanapun media sosial itu interaksi dengan banyak tipe orang. Mungkin bagi kita biasa, namun bagi orang lain yang sering melihat status kita ada yang sebal/ perasaan jelek lainnya.

Bagi teman-teman yang suka jualan, saya apresiasi luar biasa. Memanfaatkan media sosial untuk mencari penghasilan tambahan adalah hal yang keren, yang tidak semua orang mau melakukannya. Saya sangat senang melihat teman-teman yang berjualan di media sosial. Selain bisa menjalin silaturahim, mempermudah kita juga untuk mencari dan menemukan barang yang diinginkan.

Kalau saya sendiri adalah tipe yang mungkin tidak terlalu sering memperbarui status. Namun saya bukan pula yang pasif. Terkadang saya butuh media sosial untuk mempromosikan tulisan di blog, untuk mengikuti informasi di beberapa komunitas, dll.

Satu catatan bagi saya ketika bermedsos adalah yang penting jangan curhat masalah, aib, ataupun memfilter postingan yang kira-kira bikin enek orang. 😀

Nah, bagaimana dengan teman-teman?

Palembang, 17 Juli 2019

Si Chemong dalam Pendekatan Pembelajaran STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics) untuk Meningkatkan Literasi dan Keterampilan 4C Peserta Didik di SMA Negeri Sumatera Selatan

Bertugas di sekolah unggulan seperti SMAN Sumatera Selatan memberikan tanggung jawab moril pada diri pribadi sebagai seorang guru baru di sekolah tersebut. Apakah penulis mampu memberikan yang terbaik? Apakah para peserta didik bisa menerima pembelajaran dengan menyenangkan? Apalagi mata pelajaran yang penulis ampu adalah kimia, yang merupakan mata pelajaran tergolong baru dan kurang familiar bagi para siswa kelas X. Karena selama ini, di SMP kimia masih terintegrasi dalam IPA dan porsi materinya masih sedikit. Namun ini menjadi PR besar bagi kami, para guru kimia untuk senantiasa bisa menyelenggarakan pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan abad ke-21 yaitu kecakapan literasi sains melalui pendekatan pembelajaran STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics) dan 4C (Communication, Collaborative, Critical Thinking, and Creativity).

Abad ke-21 ini merupakan era teknologi yang sebelumnya dijelaskan bahwa pada era ini diharapkan para guru mampu mengembangkan peserta didik dalam bidang literasi sains dan keterampilan 4C. Pembelajaran sains pada hakekatnya adalah mendalami kebesaran Tuhan melalui fenomena alam yang dapat teramati. Dari fenomena yang terjadi, kemudian para ilmuwan meneliti dan akhirnya mencetuskan sebuah teori pendukung terkait fenomena tersebut. Sehingga bila kita tinjau dari prosesnya, sains ini akan sangat bermakna jika dimulai dengan pengamatan fenomena yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun pada kenyataannya, kebanyakan guru menyampaikan materi berupa teori, teori, dan teori. Yang tadinya sains sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, seolah menjadi mata pelajaran yang bersifat abstrak.

Menurut Chittleborough (2007) kimia adalah salah satu rumpun mata pelajaran sains, yang bersifat abstrak dengan memadukan pengamatan fenomena yang terjadi secara makroskopik, berdasarkan penjelasan level partikulat (atom, ion molekul), yang kemudian disederhanakan melalui bahasa kimia (simbol). Saat mata pelajaran abstrak diajarkan dengan cara yang abstrak, tentulah akan membuat peserta didik semakin kebingungan dan merasa kimia adalah pelajaran yang sulit. Bahkan saat pertama kali penulis masuk di salah satu kelas X di SMAN Sumsel ada seorang peserta didik yang menyatakan sebenarnya kita belajar kimia untuk apa? Mengapa kimia itu seperti pelajaran aneh? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan negatif sejenis yang mereka ungkapkan.

Salah satu topik kimia di kelas X yang menjadi horor bagi peserta didik adalah hukum dasar kimia dan stokiometri. Karakter topik ini penuh konsep, abstrak, dan banyak perhitungan. Diperlukan kemampuan siswa untuk memahami konsep, menalar, berpikir kritis atau bisa kita sebut butuh kemampuan literasi sains dan 4C ini. Beberapa metode pembelajaran pun telah diuji cobakan. Namun hanya 10% setiap kelasnya yang melewati nilai KKM sebesar 75. Setelah dilakukan pengamatan, ternyata pemahaman konsep dasar peserta didik yang masih kurang. Mereka tahu bunyi satu hukum kimia, namun tidak paham aplikasinya. Ada juga yang sering tertukar antara satu hukum kimia dengan hukum kimia lainnya. Dari permasalahan ini penulis pun mencoba untuk menggunakan metode penugasan lagu kimia, yang dalam hal ini penulis istilahkan sebagai Si Chemong (Science Chemistry Song). Karena berdasarkan Sugiarto (2011) yang menyatakan musik/ lagu membuat suasana belajar semakin nyaman, bahkan dapat menenangkan dan menyeimbangkan kerja otak. Sehingga diharapkan konversi kimia lewat seni akan membuat peserta didik nyaman belajar, minimal senang dengan kimia.

Mengapa penulis antusias Si Chemong ini bisa menjembatani siswa untuk meningkatkan literasi sains dan keterampilan 4C? Penulis melihat dalam proses pembuatan Si Chemong ini yang ternyata memuat metode untuk meningkatkan literasi sains dan keterampilan 4C. Yaitu:

  1. Peserta didik membaca kembali konsep materi kimia sesuai penugasan masing-masing kelompok

Pada tahap ini siswa akan berliterasi dengan harus membaca dan mencari referensi. Dalam pelaksanaannya, kemampuan berkolaborasi dan berkomunikasi sangat diperlukan antar anggota kelompok.

  1. Peserta didik merancang lirik lagu dengan memuat isi materi kimia yang ditugaskan

Pada tahap ini siswa kembali menggunakan kemampuan berpikir kritis dan kreatifnya di dalam kelompok. Setiap kelompok bebas menentukan lirik, asal tidak menyimpang dari inti konsep materi kimia tersebut. Selain itu pada tahap ini keterampilan komunikasi antar anggota semakin terlatih.

  1. Peserta didik merekam lagu tersebut, yang kemudian dinyanyikan dan direkam per kelompok dan mengunggahnya di akun media social sepeti youtube

Pada tahap ini siswa berlatih secara kreatif untuk bisa menampilkan yang terbaik dari hasil perencanaan dan latihan mereka. Di sini akan terlihat mana kelompok yang anggotanya berkolaborasi dengan baik, dan mana yang kurang.

Dari ketiga tahapan pokok tadi, bisa kita lihat penugasan Si Chemong ini mengakomodasi literasi sains dan melatih 4C peserta didik. Dan secara praktis, dalam proses pembuatan lagu Si Chemong, peserta didik sudah melakukan pendekatan pembelajaran yang terintegrasi, yang sekarang terkenal dengan istilah STEAM. Berikut rincian pendekatan pembelajaran tersebut pada tiap tahapannya:

  1. Science

Topik yang dipelajari peserta didik adalah kimia yang merupakan bagian dari sains.

  1. Technology dan Engineering

Peserta didik menggunakan alat perekam video, video editor, intrumen musik, dll yang merupakan bagian dari teknologi. Serta proses unggah video tersebut ke akun media sosial seperti youtube.

  1. Art

Meskipun bukan pelajaran seni, ternyata kimia pun bisa dipadukan dengan seni. Mengonversikan konsep kimia ke dalam bentuk lagu, bisa dengan cepat membuat seseorang ingat dan tidak akan mudah lupa.

  1. Mathematics

Matematika yang menjadi konsep dasar bagi setiap disiplin ilmu, dan dalam topik stoikiometri ini dibutuhkan kemampuan matematis.

       Rincian tahapan dan pelaksanaan Si Chemong yang ternyata mencakup kemampuan literasi sains dalam STEAM dan keterampilan 4C diharapkan bisa menjadi alternatif solusi best practice untuk para guru kimia dalam menjembatani materi yang tergolong sulit, namun memerlukan hapalan dan pemahaman konsep dasar. Secara analisis kuantitatif memang diperlukan uji coba terbatas dalam penelitian pengembangan selanjutnya.

Berikut contoh video kelompok siswa yang sudah saya unggah di akun youtube:

 

Referensi:

  1. Chittleborough, G. (2004). The Role of Teaching Models and Chemical Representations in Developing Students’ Mental Models of Chemical Phenomena (Doctoral Thesis, Curtin University, Perth, WA). Retrieved from https://espace.curtin.edu.au/handle/20.500.11937/763
  2. Sugiarto, I. (2011). Cara Mengoptimalkan Daya Kerja Otak dengan Berpikir Holistik dan Kreatif. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Palembang, Juni 2019

Tulisan ini diikutsertakan dalamLomba Internal Guru SMAN Sumatera Selatan