Diposkan pada Haji, Jepang, Memories, Palembang, Travelling

Perjalanan Singkat ke Baitullah: Anugerah dan Kontemplasi Kehidupan

Bismillahirrahmanirrahiim….

Mama saya sering bercerita tidak pernah merasa cemburu dengan kisah perjalanan orang-orang yang pergi ke Eropa, jalan-jalan ke Jepang, atau menghabiskan uang di Amerika. Tapi mama selalu merasa cemburu jika ada yang baru pulang dari tanah haram. Sebegitu cintakkah orang-orang pada Rabb-Nya, sehingga mama saya sampai merasa seperti itu? Bahkan banyak para tukang dagang yang penghasilannya pas-pasan, seperti mati-matian menyisihkan uangnya hanya agar bisa menyempurnakan rukun islamnya. Mengapa? Selalu saya bertanya seperti itu, sampai saya akhirnya tersadar.

IMG_9366
Di halaman masjid Nabawi. Dok: pribadi

Ternyata memang benar. Perjalanan ke baitullah, yang saya dan suami rasakan di tahun 2018 lalu, singkat namun selalu terkenang. Bahkan diri ini selalu berdoa agar bisa kembali ke sana, memperbaiki setiap niatan yang kurang, memperbaiki setiap rangkaian manasik yang masih fasik. Ya Rabb, 20 hari di Tanah haram ternyata sangat sebentar. Hamba menyesal karena masih belum bisa menghindari rasa keluh kesah, amarah, dan gundah. Masih banyak hal duniawi yang memalingkan diri, di saat seharusnya khusuk beribadah nafsi.

Semoga ada kesempatan lagi untuk diri ini kembali menjadi tamu-Mu, Ya Rabb. Sampai saat itu tiba, in sya Allah setiap hal yang pernah saya jalani di sana akan menjadi kontemplasi diri untuk terus berishlah memperbaiki diri. Hamba sangat bersyukur di tahun 2018, penuh anugerah dan nikmat yang Karuniakan.

Kisah yang sempat saya bagikan bersama Mba Nurin Ainistikmalia di #CollaborativeBlogging semoga bermanfaat untuk semuanya yang membaca dan mencari info terkait haji. Berikut daftar tulisan terkait kisah saya selama collaborative blogging:

1. Prosedur Berangkat Haji dari Jepang: Apa yang harus Dipersiapkan?

2. Mengurus Vaksin Meningitis dan Influenza untuk Berhaji dari Jepang: Ribet Gak?

3. Galau Takut Haid Saat Pergi Haji dari Jepang, Pil Haid Perlukah?

4. Satu Kisah di Masjidil Haram: Saat Menanti Ismail Gate

5. Berumrah dan Haji dari Jepang, Selalu Terkenang

6. Akibat Tersasar, Akhirnya Bekunjung ke Perpustakaan di Masjidil Haram

7. Satu Kisah di Masjidil Haram: Masmuki?

8. Prosesi Haji: Mina, Arafah, Muzdalifah

9. Menjadi Lidah Arab Selama di Mekkah, Kembali Meng-Indonesia di Madinah

10. Refleksi Haji: Meneladani Pengorbanan Seorang Ibu

11. Mengenang Perjuangan Rasul: Berkunjung ke Gua Hira, Jabal Nur, dan Jabal Rahmah

12. Tempat Belanja di Mekkah dan Madinah

13. Madinah dan Pengalaman Masuk Taman Surga Raudhoh

14. Sightseeing di Madinah: Masjid Kuba, Kebun Kurma, Masjid Qiblatain, dan Jabal Uhud

Yuk, kita intip tulisan penutup Mba Nurin di sini.

Sampai berjumpa di kisah lainnya 🙂

Diposkan pada Haji, Jepang, Memories, Palembang, Travelling

Sightseeing di Madinah: Masjid Kuba, Kebun Kurma, Masjid Qiblatain, dan Jabal Uhud

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا لَّمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى ٱلتَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُوا۟ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُطَّهِّرِينَ

Janganlah kamu shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS. At-taubah: 108)

img_9296
Di masjid Nabawi. Dok: Aa Rizal

Bismillahirrahmanirrahiim…

Assalamualaikum. Sabtu lagi… 😀 Itu artinya #CollaborativeBlogging saya dan Mba Nurin kembali hadir. 😀 Tidak terasa Kami sudah masuk episode 16. Dan untuk tema kali ini, idenya Mba Cantik yaitu sightseeing di Madinah. Yuk langsung simak aja ya, jalan-jalan rombongan HIS Japan saat di Madinah ini.

Hampir sama dengan di Mekkah, semua fasilitas sightseeing ini sudah termasuk dalam paket haji. Artinya sekarang kami tidak perlu lagi merogoh kocek untuk jalan-jalan di Madinah. Tinggal naik ke dalam bus, yang alhamdulillah nya serba baru ini bus dari HIS Japan. :D. Saya memilih bus dengan muthawwif Ustad Fatah, supaya lebih paham mendengarkan penjelasan dengan bahasa Indonesia :D.

Lalu ke mana saja kami pergi?

Masjid Kuba

Masjid kuba adalah salah satu masjid yang pasti dikunjungi saat ke Madinah. Masjid ini adalah masjid yang pertama kali Rasul bangun pada tahun 1 Hijriyah atau sekitar 622 tahun masehi. Di awal postingan tadi, masjid kuba ini disebutkan dalam Al-qur’an yaitu di surat At-taubah: 108. Masjid yang dibangun atas dasar takwa. Muthawwif kami saat itu yaitu Ustadz Fatah mengatakan standar masjid yang dibangun pertama kali ini seperti masjid kuba. Jadi sudah sepatutnya masjid-masjid sekarang bisa melihat bagaimana masjid kuba ini didirikan.

img_9319
Masjid Kuba. Dok: Aa Rizal

Apakah harus megah? Ternyata tidak. Kesederhanaan masjid kuba ini masih terpancar. Namun memang masjid kuba ini mengalami beberapa kali renovasi. Namun yang dikatakan standar masjid ini adalah berupa bangunan segi empat dan berdinding di sekelilingnya.

Saat akan memasuki masjid ini kita akan memasuki pintu yang berbeda untuk laki-laki dan perempuan. Dan disarankan kita berwudhu dari penginapan kita. Lalu mengerjakan salat sunah 2 rakaat, sebagaimana Rasul yang mengatakan:

“Barang siapa yang telah bersuci (berwudhu di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba lalu shalat di dalamnya dua rakaat, maka baginya sama dengan pahala umrah.” (Sunan ibn Majah, no 1412).

img_9318
Di depan Masjid Kuba. Dok: Rombongan HIS Japan

Kebun Kurma Abu Faisal

Dari masjid Kuba, kami menuju kebun kurma. Kabaranya kurma di Madinah lebih murah daripada di Mekkah. Oleh karena itu saya dan suami berencana membelinya di sana.

img_9322
Kebun Kurma Abu Faisal. Dok: Aa Rizal

Di sini banyak pohon kurma. Namun kami langsung menuju tokonya. Sudah bisa ditebak di dalamnya dijual aneka kurma. Selain kurma juga dijual banyak oleh-oleh dari Arab lainnya, seperti coklat, kismis, dan kacang Arab.

Kebun kurma Abu Faisal ini terletak di Alkhatim 7682. Tidak terlalu jauh dari Masjid Kuba.

Berhubung saya tidak jadi ikut tur bebayar dengan bus hop-on-hop-off Madinah, giliran Mba Nurin yang akan bercerita tentang bus berbentuk unik dan lucu itu. Yuk simak kisahnya di sini.

Sightseeing Madinah Bareng Mba Nurin

Haji reguler indonesia vs kuota jepang
Gambar: mba Nurin

Yuk lanjut lagi bareng saya dan rombongan HIS Japan. Tempat ketiga yang kami datangi adalah…

Masjid Qiblatain

Dari namanya saja sudah terlihat jelas arti masjid ini, adalah masjid dua kiblat. Kok bisa? Ustadz Fatah pun menceritakan sejarah masjid ini. Awalnya masjid ini dikenal dengan nama masjid Bani Salamah. Letaknya di tepi jalan, menuju ke arah Universitas Madinah. Pada permulaan islam, orang-orang salat menghadap kiblat ke baitul maqdis di Palestina. Baru setelah turun wahyu kepada Rasul, ada perintah memindahkan kiblat ke arah Mekkah. Saat itu Rasul sedang salat dzuhur bersama bani Salamah di masjid ini. Kemudian wahyu turun yaitu QS. Al-baarah: 144 untuk memindahkan kiblat ke Mekkah. Pintu masuk masjid ini pun dibedakan untuk laki-aki dan perempuannya, ya 😀

Jabal Uhud

Jabal Uhud merupakan bukit terbesar dan tertinggi di Madinah. Cuaca sightseeing saat itu semakin panas. Kami sampai di bukit ini saat terik matahari. Apa istimewanya bukit ini? Kelak bukit ini akan ada di surga, sebagaimana yang dikatakan dalam hadits riwayat Bukhari. Bukit ini tidak bersambungan dengan bukit lainnya. Oleh karena itu ada yang mengatakan bukit ini adalah bukit yang menyendiri.

Bukit ini pun terkenal dengan perang Uhud. Di mana pasukan muslim kalah akibat perebutan ghanimah atau harta rampasan. Di sini pula banyak dimakamkan para syuhada Uhud, seperti sayyidina Hamzah. Masya Allah T_T.

Untuk tempat-tempat lainnya seperti pemakaman baqi, saya hanya melintas. Karena suami saya sudah berpesan untuk perempuan tidak ada keharusan berziarah kubur. Dan untuk menuju baqi ini bisa kita tempuh dengan jalan kaki di sekitar kawasan masjid Nabawi. Begitupun untuk museum quran, kita bisa berjalan kaki ke arah gate 1 dan sekitarnya.

img_9329
Pemakaman Baqi di Madinah. Dok: Aa Rizal

Berziarah ke tempat-tempat sejarah, tempat dimana Rasul berjuang dengan para muslimin lainnya menjadi pengingat kita untuk selalu bersyukur bisa berada dalam keadaan islam, dan semuanya sudah mudah untuk menjalankan agama kita ini. Semoga bermanfaat 🙂

Diposkan pada Haji, Jepang, Memories, Travelling

Madinah dan Pengalaman Masuk Taman Surga Raudhoh

raudhah
Raudhoh. Sumber: https://syahrilkadir.wordpress.com/2012/06/28/umrah-orang-berdosa-bhg-9-tempat-yang-sungguh-istimewa-bernama-raudhah/

Bismillahirrahmanirrahiim… Masya Allah walhamdulillah #Collaborativeblogging saya dan Mba Nurin untuk mengisahkan pengalaman selama di Mekkah sudah selesai. Sekarang kami berlanjut untuk hijrah ke Madinah. Dan tema pertama kami di Madinah adalah tentang Raudhoh.

Tengah malam saya beserta rombongan HIS sampai di Madinah. Perjalanan Mekkah-Madinah kami tempuh selama kurang lebih 7 jam menggunakan bus. Semua rombongan HIS baik itu yang transit Filipina, yang menggunakan Ettihad, ataupun rombongan saya yang transit di Colombo Srilanka, ditempatkan di satu hotel yang sama yaitu Riadh Alzahra Hotel. Letak hotel ini tidak jauh dari Masjid Nabawi, yaitu di belakang perpustakaan King Abdul Azis. Hanya sekitar 3-5 menit kami bisa masuk ke masjid melalui pintu no. 7 atau 8.  Keadaan badan saya saat itu sangat lelah dan penat. Setelah menunaikan salat isya rasanya ingin sekali langsung baringan. Apalagi hotel yang kami tempati ini sangat nyaman. A Rizal, suami saya mengajak untuk bersegera ke masjid. Karena kami khawatir jalan ke masjid yang kami tempuh masih agak siwer alias takut nyasar. Namun melihat keadaan saya yang payah, beliau pun mempersilakan saya beristirahat dan berjanji untuk bersegera ke sana sekitar jam 3 dini hari.

Simak Kisah Mba Nurin Ainistikmalia di Sini

Haji reguler indonesia vs kuota jepang
Foto by: Mba Nurin

Masjid Nabawi berbeda dengan Masjidil Haram. Posisi salat ikhwan dan akhwat sudah terpisah. Letak toilet dan kamar mandi berada di luar pelataran masjid, namun jaraknya tidak sejauh di masjidil haram. Ba’da subuh A Rizal cerita bahwa semalam dia jadi ke Masjid bersama rombongan ikhwan untuk bersegera ke Raudhoh. Masya Allah, saya pun ingin ke sana. Saya menyimak cerita dari suami saya ini bagaimana mereka masuk ke makam Rasul dan para sahabat. Mungkin berbeda dengan ikhwan, khusus untuk akhwat ternyata ada jam-jam tertentu untuk masuk ke sana.

img_9239
Saat Aa akan mengantri masuk Raudhoh. Dok: A Rizal

Ingat Jadwal Masuk dan Pintu Masuknya untuk Akhwat

Khusus jam akhwat saya lihat papan pengumuman di LCD depan masjid yang mengatakan khusus akhwat pintu Raudhoh dibuka setelah waktu duha, setelah dzuhur dan setelah isya. Kemudian hanya dua pintu menuju Raudhoh bagi akhwat yaitu pintu nomor 25 dan 29.

Jika kita berada di dalam Raudhah, berdirilah menghadap kiblat. Kita dapat melihat di sebelah kiri ada sebuah bangunan berbentuk segi empat berwarna hijau tua yang dulunya adalah rumah Rasulullah SAW dan Siti Aisyah, dan di situlah juga letak makam Rasulullah SAW serta para sahabat (Abu Bakar, Umar, dan Utsman). Di atasnya terdapat kubah berwarna hijau tua yang menjadi tanda letaknya makam Rasulullah SAW. Kubah ini bisa dilihat dengan jelas dari luar Masjid Nabawi bagian depan.

img_9251
Dok: Aa Rizal

Dan ternyata untuk masuk ke sana butuh perjuangan. Tempat yang padat dan dibatasi waktu. Namun saya bersemangat untuk bisa salat sunnah di sana, minimal sekali. Raudhoh yang berarti taman menjadi salah satu tempat yang diincar para jamaah saat ke masjid Nabawi. Tempat ini selalu padat sepanjang waktu, sebagaimana sabda Rasul:

“Antara Rumahku dan mimbarku terdapat taman di antara taman surga…” (HR. Bukhari Muslim).

Beberapa mufassir dan ulama mengatakan ada sedikitnya tiga keutamaan Raudhoh ini, tak heran banyak orang yang rela antri menunggu untuk bisa salat di sana. Keutamaan tersebut adalah:

  1. Tempat yang menjadi gambaran taman surga. Bagi siapapun yang masuk ke sana, akan merasa bahagia
  2. Beribadah di tempat ini bisa menjadi jalan masuk surga
  3. Secara harfiah, tempat ini bermakna tempat yang akan diangkat ke surga

Letak Raudhoh di masjid Nabawi inilah juga yang menjadi penyemangat untuk berburu pahala. Karena sesuai sabda Rasul berikut:

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom.” (HR. Bukhari no. 1190 dan Muslim no. 1394, dari Abu Hurairah)

Iniah yang menjadi penyemangat saya. Oleh karena itu, ba’da dzuhur saya putuskan untuk berusaha bisa ke Raudhoh. Saat itu saya sendirian. Belum bilang pada suami, dan saya tidak pulang dulu ke Hotel. Saya pun bergegas ke pintu no. 25, yang lebih dekat dengan posisi saya salat dzuhur tadi. Namun di luar perkiraan, pintu no. 25 sudah padat dan ada pengumuman waktu untuk masuk ke Raudhoh siang itu sudah habis. Saya pun kembali mencoba ba’da isya. Saat itu saya sendiri lagi, karena kondisi teman sekamar sedang tidak fit untuk salat ke masjid. Alhamdulilah saya berhasil masuk pintu no. 25. Di dalam ternyata kami harus menunggu kembali. Kami dikelompokkan berdasarkan negara. Kondisi saat itu adalah jama’ah Indonesia sangat sedikit, karena kebanyakan mereka sudah ke Madinah terlebih dahulu sebelum berhaji. Berbeda dengan rombongan kami yang langsung ke Mekkah. Saya menggunakan rompi HIS yang ada simbol negara Jepangnya. Makin lah saya tidak ada teman. Karena hanya ada sedikit rombongan kami. Lalu saya pun bertanya kepada askar harus ikut kelompok mana saya? Askarnya perempuan tentunya.

Saya pun bergabung bersama negara Turki dan Afrika. Namun ternyata terjadi keributan kecil. Jama’ah Afrika yang terlebih dahulu di kelompok lingkaran itu merasa didahului oleh jama’ah Turki yang baru bergabung. Kami disuruh ke barisan belakang. Saat itu alhamdulillah ada salah satu rombongan HIS yang muncul. Saya pun memanggilnya untuk bergabung. Kami menunggu semakin larut, dan sepertinya giliran kami masih lama. Sementara Mba yang bareng saya ini ditunggui suaminya. Dan saya pun khawatir suami saya di hotel kebingungan mencari, karena saya belum bilang sama beliau dan teman sekamar. Akhirnya saya dan Mba Vi pun memutuskan menyerah pulang.

Dari cerita Ibu Devi, teman sekamar saya memang sulit untuk masuk ke Raudhoh ini. Apalagi saat haji. Beliau mengatakan saat umrah masih agak lengang. Sepertinya harapan saya untuk salat di sana harus saya kubur dalam-dalam. Ba’da subuh saat mengaji, ada seorang ibu dari Kalimantan yang mengajak mengobrol. Saya pun bercerita belum sempat ke Raudhoh. Ibu itu pun memberi nasihat agar saya banyak berdoa supaya bisa dimudahkan masuk ke dalamnya, dan dimudahkan pula orang lain yang ingin masuk juga ke sana. Yang utama katanya niat, dan beliau sudah 3 kali masuk ke Raudhoh. Keyakinan saya pun kembali. Dan saya pun berniat ba’da isya untuk bersiap. Sehingga dari maghrib saya sudah salat di pintu no. 25.

Alhamdulilah saya berhasil masuk dengan bantuan dua teman lainnya. Kami bertiga saling bekerja sama untuk melindungi saat salat. Mereka adalah orang Indonesia yang ada di London, dan satu orang Malaysia. Saran dari mereka adalah lamakan sujud terakhir, berdoa saat sujud. Karena jika kita berdoa setelah salat biasanya akan segera diusir orang lain yang ingin salat di sana.

Lokasi Raudhoh dan Ciri-cirinya

raudah+
Karpet Raudhoh Berwarna Hijau. Sumber: http://catatanhajikoe.blogspot.com/2013/03/tips-mengunjungi-raudhah-untuk-muslimah.html

Oh iya, karpet Raudhoh berwarna hijau. Jadi kita salat di karpet hijau tersebut. Jangan lupa bawa perbekalan saat menunggu lumayan lama. Bawalah air zamzam dan camilan. Juga bersabarlah, banyak berdoa, dan dengarkan instruksi askar. Jangan sampai kita mendzalimi orang lain dan berbuat hal tidak baik. Semoga bermanfaat. 🙂

tempirai, 12 Januari 2019

 

Diposkan pada Haji, Jepang, Memories, Travelling

Tempat Belanja di Mekkah dan Madinah

Bismillahirrahmanirrahiim…

img_7126
Suasana Mekkah Malam Hari. Dok: Pribadi

Perjalanan mudik luar biasa dari Jakarta ke Palembang via darat dan laut. Akhirnya tulisan #CollaborativeBlogging ini harus tertunda hingga berhari-hari. Tema kali ini yang akan kami bahas adalah tentang belanja. Hayo wanita mana yang nggak suka belanja? Meskipun hanya singgah sebentar, para wanita biasanya tetap memikirkan bawa oleh-oleh apa ya? Nah, itu juga yang saya pikirkan saat berhaji kemarin. Padahal di tanah Abang, yang jualan oleh-oleh haji banyak banget. Tapi rasanya ya kurang bumbu gimana gitu kalau saya tidak bawa oleh-oleh Arab langsung dari tempatnya. Lalu di man saja saya berbelanja, dan apa sajakah oleh-oleh yang saya pilih untuk belanja? Cekidot di postingan kali ini ya 😀

Belanja Sesuaikan Anggaran

Berhubung saya pergi dari Jepang, kemungkinan untuk membawa oleh-oleh menjadi dua kali lipat. Yaitu untuk teman-teman dan tetangga di Jepang, juga untuk saudara dan tetangga di Indonesia. 😀 Saya dan suami sepakat untuk membeli kurma, kue olahan kurma, dan beberapa souvenir seperti tasbih, dompet, dan sajadah beberapa saja. Berhubung keterbatasan bagasi dari Mekkah ke Tokyo dengan Srilanka air hanya 30 kg, dan pesawat Spring air dari Tokyo ke Hiroshima yang hanya memuat 20kg.

Untuk beberapa oleh-oleh lainnya untuk saudara di Indonesia, kami berencana beli di Indonesia saja 😀

Di Mana Kami Berbelanja?

Hampir semua kami beli di Mekkah. Beberapa hari setelah selesai rangkaian ibadah haji, kami memutuskan mencari oleh-oleh. Namun untuk kurma kami sepakat membeli di Madinah, karena harganya relatif lebih murah.

Pasar Murah Jaafaria

img_7149
Dok: Grup HIS

Pasar Jaafaria bisa disebut sebagai pengganti pasar Seng yang biasanya ramai pembeli, namun harus dibongkar karena perluasan Masjidil Haram. Letaknya sekitar 1 Km dari Masjidil Haram. Penginapan kami berada di belakang deretan area pasar Jaafaria ini. Lokasinya sangat strategis karena terletak memanjang ke arah pintu Masjidil Haram. Suasananya mirip dengan Tanah Abang. Banyak jamaah yang memborong aneka barang di sini. Bahkan banyak barang yang dijual 2 riyal atau seharga Rp 8000. Harganya yang murah meriah ini membuat Jaafaria jadi favorit para jama’ah untuk berbelanja. Pasar ini disebut juga pasar borong, karena pada borong belanjaan :D.

Pertokoan Sepanjang Jalan Misfalah hingga Bakhutmah

Pertokoan ini sangat strategis juga karena berada di sepanjang jalan menuju pintu utama Masjidil Haram. Jika akan ke masjid, pasti kami melintasi area pertokoan ini. Di pasar ini saya beli mobil-mobilan yang bertalbiyah untuk Afnan, gamis suami, dan beberapa gantungan mobil bergambar ka’bah, dll.

Para pedagang di pasar ini pun pandai berbahasa Indonesia. Kalau kita tanya berapa atau kam dalam bahasa arab, mereka pasti jawab dalam bahasa Indonesia. Bahkan mereka sampai teriak-teriak, murah…murah….harga Tanah Abang :D. Hati-hati, kalau kita terlalu murah menawar para pedagang suka bilang P.E.L.I.T :d

Mba Nurin belanja di mana saja ya? Simak kisahnya di sini yuk!

CERITA MBA NURIN TENTANG TEMPAT BERBELANJA DI MEKKAH DAN MADINAH

Haji reguler indonesia vs kuota jepang
Dok: Mba Nurin Ainistikmalia

Bin Dawood 

3.-tempat-belanja-mekkah
Bin Dawood. Dok: https://www.syakirawisata.com/tempat-berbelanja-murah-di-kota-mekkah-al-mukarramah/

Awalna saya tidak tahu dimana letak bin Dawood ini. Bener-bener kudet. Karena suami jarang mengajak belanja saat di sana, katanya fokus ibadah dulu dan saya pun agak kurang senang terlalu lama berputar-putar kalau tidak ada tujuan. Namun karena penasaran, saya pun minta suami untuk menemani ke bin Dawood. Kata teman sekamar letaknya yaitu di dekat zamzam tower. Saya dan suami pun berjalan ke arah sana selepas dzuhur. Awalnya agak kebingungan, karena memang sangat ramai di area sana. Kata suami kayak banyak orang thawaf aja. Namun akhirnya kami menemukan tulisan bin Dawood ini dengan mudah.

download
Biskuit Maamoul

Bin Dawood ini seperti supermarket. Banyak makanan, minuman, sampai beberapa peralatan dijual di sini. Kalau di Bandung mirip Borma, Carrefour, atau Yogya di Sukabumi. Banyak made in China, Turki, bahkan Indonesia dijual di sini. Di Bin Dawood saya dan suami berbelanja kue olahan kurma atau biskuit Maamoul, Kinderjoy untuk Afnan (penasaran, selama di Indonesia atau di Jepang belum pernah beli, karena halal tidaknya belum jelas), dan permen Jerman yang terkenal yaitu Haribo. Namun saya membeli Haribo made in Turki yang halal, dan alhamdulillahnya di Arab ini semua halal. Senang bangettt…

61f1ywlbfxl
Haribo Berry. Dok: https://weshop.co.id/amazon/item/haribo-gummi-candy-berries-5-pound-bag-B000EVMNP0.html?seller=QW1hem9uLmNvbS1OZXctMTYuOTk=&sid=B000EVMNP0

Masih ada beberapa pertokoan lainnya, ada juga yang berbelanja di Zamzam tower. Namun saya tidak membeli di sana, karena harganya yang lumayan 😀

Sementara untuk di Madinah saya berbelanja kurma di pasar kurma, yang ternyata masih murah harga kurma di sekitaran masjid Nabawie :D. Dan beberapa oleh-oleh lainnya saya beli di Bin Dawood Madinah dan pedagang-pedagang yang bukalapak di sekitaran masjid Nabawie.

Intinya berbelanja itu bagi saya dan suami adalah sampingan. Apalagi untuk suami saya :D. yang pentingnya adalah beribadahnya, itu pesan Aa :D. semoga bermanfaat dan luruskan niat jangan keasyikan belanja.

Diposkan pada Haji, Jepang, Memories, Travelling

Mengenang Perjuangan Rasul: Berkunjung ke Gua Hira, Jabal Nur, dan Jabal Rahmah

Bismillahirrahmanirrahim…

Tidak terasa sudah Sabtu lagi. Pekan ini saya dan Mba Nurin sepakat untuk berbagi kisah kami mengunjungi beberapa tempat bersejarah di Makkah. Di sela masa tunggu haji pasca umrah, rombongan kami yaitu HIS Jepang, melakukan sightseeing di Makkah. Tempat-tempat bersejarah ini biasanya saya dengar saat belajar Tarikh islam dan Sejarah Kebudayaan Islam saat Ibtidaiyah sampai Aliyah. Namun saat berhaji kemarin, alhamdulillah kami diberi kesempatan untuk berkunjung ke beberapa tempat bersejarah yang merupakan tempat perjuangan Rasul.

FB_IMG_1546073553325

Saat itu panas terik di waktu dzuhur tidak menyurutkan semangat rombongan HIS Japan grup Kolombo. Grup HIS yang transit di Kolombo ini kebagian jadwal ba’da dzuhur untuk mengunjungi tempat-tempat perjuangan nabi.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Jabal Nur. Di sini Mr. Tamer selaku pimpinan rombongan dari pihak HIS menjelaskan sejarah dari tempat ini dalam bahasa Jepang dan Inggris. Kemudian Ust. Fatah pun memberikan penerangan dengan detail tentang tempat-tempat ini dalam bahasa Indonesia dan Arab.

Jabal Nur dan Gua Hira

FB_IMG_1546073572444

Jabal Nur yang berarti bukit bercahaya dan gua hira adalah tempat bersejarah yang menjadi saksi turunnya wahyu pertama Nabi Muhammad saw. Saat mendengar penjelasan tempat ini saya kembali teringat tentang Rasul yang menerima perintah untuk membaca (iqra). Nabi Muhammad kedinginan, bergemetar seluruh tubuhnya. Ketika pulang ke rumah, istrinya yaitu Khadijah lah yang berperan menenangkan suaminya saat itu. Nabi meminta istrinya itu untuk menyelimutinya…zamiluuni…zamiluuni. Peristiwa ini merupakan penanda dimulainya periode kenabiannya.

Kami diperlihatkan posisi gua hira. Sayang kami tidak sempat untuk melihat ke dalamnya, karena keterbatasan waktu. Gua Hira ini terletak di puncak Jabal Nur. Tepatnya terletak di Kota Hijaz, Saudi Arabia. Kami mengendarai bus untuk menempuh jarak 6Km menuju tempat ini. Subhanallah saat pertama turun dari bus, melihat bukit yang berbatu, kering, anas, dan terjal saya teringat dengan perjuangan Rasul saat itu.

Gua Hira ini keadaan di dalamnya sangat sempit. Hanya masuk satu orang saja. Dari pelajaran yang saya terima, Nabi Muhamamad biasa beruzlah/ bertahannuts (berdiam menyendiri untuk berdzikir kepada Allah) di dalam gua ini.

Jika kita berdiri di puncak gua, maka dengan mudah kita akan melihat baitullah. Nah di dekat Jabal Nur ini katanya Jabal Jibril. Yaitu tempat dimana malaikat Jibril biasa memerhatikan Nabi Muhammad saat berdzikir di gua hira.

Memandangi terjalnya bukit terbayang bagaimana perjuangan Rasul untuk mendakinya manakala beliau ingin menyendiri di sana. Beberapa jamaah ada yang memanjat ke atas. Sekitar 1 jam waktu perjalanan yang harus ditempuh, dan sekarang sudah dipeemidah dengan dibamgunnya anak tangga untuk mencapai tempat ini.

Kalau Mba Nurin, gimana kisahnya saat berkunjung ke tempat ini ya? Kita simak di sini ceritanya.

Cerita Mba Nurin Ainistikmalia

Haji reguler indonesia vs kuota jepang

Kemudian tempat berikutnya yang kami kunjungi adalah Jabal Rahmah.

Jabal Rahmah

FB_IMG_1546073594045

Berbeda dengan tempat sebelumnya, Jabal Rahmah ini mengisahkan Nabi Adam as. Dan Hawa saat dipertemukan kembali di dunia pasca keluar dari surga. Untuk itulah nama Jabal Rahmah yang berarti bukit kasih sayang. Bayangkan Nabi Adam as. Dan Hawa bukan LDR an selama beberapa bulan. Di beberapa riwayat dikatakan mereka terpisah selama berpuluh bahkan beratus-ratus tahun. Masya Allah, tidak terbayang bagaimana rasanya. Saya aja yang harus LDR dua tahun kurang, Jepang-Indonesia berasa gimana gitu ya Rabb :D.

Saat berkeliling untuk Jabal Rahmah ini kami hanya diceritakan di dalam bus dan berhenti sebentar untuk melihatnya. Kami tidak sempat turun atau mendakinya. Oh iya lokasi Jabal Rahmah ini di sekitaran padang Arafah. Jadi kami melihatnya sekaligus diperlihatkan padang Arafah untuk wukuf nantinya :).

Karena waktunya hampir Ashar, rombongan kami pun segera kembali ke sekitar Masjidil Haram untuk segera bergegas kembali beribadah di Masjid.

Itulah dua tempat bersejarah yang kami kunjungi di Mekkah. Untuk bukit lainnya seperti Jabal Tsur, Jabal Kurban, dan Jabal Qubais kami tidak sempat ke sana. Semoga bermanfaat :).