Diposkan pada Jepang, Memories, Overseas, Travelling, Turki, Uncategorized

Camii Mosque: Beautiful Mosque with Turkish Culture in Japan

Bismillahirrahmanirrahiim…

53352587_2330104383875538_2819830129302175744_n
Interior ruangan bagian atap masjid. Dok: Rahmi Rahmatillah

Sepertinya di tanah air, sedang rame-ramenya pemberitaan artis terkenal yang menikah di masjid Camii (東京ジャーミイ), Jepang. Nah, di postingan kali ini saya akan berbagi tentang gambaran masjid Camii ini. Masjid Camii ini terletak di Shibuya, Tokyo. Masjid terbesar di Jepang, dengan bangunan unik nan cantik ala gaya arsitek Turki. Alamat masjid ini di 1-19 Oyama-cho, Shibuya-ku, Tokyo 151-0065, JAPAN.

af51162f-b8d5-4b65-aef8-b733d0950476
Dok: Rahmi Rahmatillah

Waktu itu kami mengunjungi masjid ini saat ke Tokyo di musim panas tahun  2017 lalu. Konon pada awal berdirinya masjid ini bergabung dengan sekolah yang berdekatan dengan masjid ini yaitu pada tahun 1938 oleh para imigran Baskhir dan Tatar asal Rusia yang datang ke Jepang. Jika kita lihat gaya arsiteknya, memang khas Turki. Ornamen yang cantik dan indah dan beberapa hiasan kaligrafinya.

53152882_383559499107523_3806445758564007936_n
Di dalam masjid. Dok: Rahmi Rahmatillah

52893689_588648528265907_7660225295135277056_n52884277_638340453284489_8815845198845181952_n

53761169_538136643345371_1825310656409108480_n
Di pintu masuk ke ruang souvenir. Dok: Rahmi Rahmatillah

Saat kami ke sini, kami naik JR Lokal Chiyoda line dari stasiun Shibuya (setelah melihat hachiko) untuk kemudian berhenti di stasiun Yoyogi-uehara. Dari stasiun kami berjalan sekitar 5 menit untuk sampai ke masjid. Untuk area wudhu kami harus turun ke lantai bawah, yang dari luar penampakannya tidak seperti arah toilet. Dan untuk perempuan, tempat salatnya di lantai atas. Dilarang makan, minum, dan tidur di masjid ini. Ada hal menarik lainnya yaitu disediakannya pakaian tertutup, dan kain untuk penutup sebagaimana hijab yang harus digunakan pengunjung yang belum berbusana sesuai aturan islam.

52956293_412768952625037_8885050182979289088_n
Masjid Camii dari Seberang Jalan. Dok: Rahmi Rahmatillah
53160411_300345627293544_3710852040096743424_n
Baju yang harus dikenakan pengunjung bila berbusana minim. Dok: Rahmi Rahmatillah
53397856_361810197998739_3595785970701565952_n
Tangga ke bawahnya menuju toilet. Dok: Rahmi Rahmatillah
53323518_609811802815436_9092238778273103872_n
Tempat donasi dan kain penutup kepala. Dok: Rahmi Rahmatillah

Lalu berdekatan dengan masjid, ada tempat souvenir dan ruangan seperti perapian dengan bendera Turki dan Jepang yang dipasang berdampingan. Bahkan disediakan kumpulan doa dalam bahasa Inggris, Arab, Turki dan Jepang. Dan ada kartu pos cantik ala masjid Camii di tempat souvenir ini. Alhamdulillah, semoga bisa kembali ke tempat ini lagi nantinya.

52918142_818296438503414_4042254843392294912_n
Masih di ruang souvenir. Dok: Rahmi Rahmatillah
53192456_372773709985330_734663690808197120_n
Bendera Jepang-Turki. Dok: Rahmi Rahmatillah
53531860_291199024908717_705245402508558336_n
Ruang perapian ala Turki di ruang souvenir. Dok: Rahmi Rahmatillah

Diposkan pada Jepang, Memories, Travelling

Menjelajah Yufuin Floral Village: The England Atmosphere Hidden in Japan

Bismillahirrahmanirrahiim…

Kali ini saya ingin berbagi kisah perjalanan ke salah satu tempat keren di daerah Yufuin, Oita. Ya, sebelum saya pulang ke Indonesia saya menjelajah daerah Kyushu menggunakan Kyushu JR Pass untuk bisa pergi ke beberapa tempat di area Kyushu dengan biaya transportasi lebih murah. Dan kali ini, saya ingin bercerita tentang Yufuin Floral Village. Sebuah desa dengan atmosfer bernuansa Inggris. Ketika berada di sini, kita berasa masuk di negeri dongeng Inggris seperti Peter Rabbit, Kiki’s bakery, dll.

W7X394dx
Yufuin Floral Village

Di manakah letaknya tempat cantik ini?

Letaknya yaitu di 湯布院町川上1503-3 (Yufuin machi) Buka dari Senin-Minggu dari jam 09.30-17.30 JST. Tepatnya Yufuin ini di daerah Oita.

Bagaimana Caranya Menuju ke Sana?

Dari Fukuoka (Hakata eki) kita harus menggunakan kereta ke arah Oita. Saat itu agar lebih murah, adik menyarankan untuk membeli JR Kyushu Rail Pass. Caranya mudah, tinggal beli di eki. Khusus untuk pelajar dan para pemegang visa turis, Sehingga saat itu saya dan adik serta mama, bisa membeli JR Kyushu rail pass ini.

Sementara untuk Afnan belum perlu karena masih berusia 2 tahun. Jika mempunyai tiket ini, kita bisa menggunakannya sepuasnya di area Kyushu selama 3 atau 5 hari, tergantung pilihan tiket kita saat membeli. Kami memutuskan untuk memilih tipe yang 3 hari, karena kemungkinan bisa berjalan-jalan sebelum pulang di 3 hari tersebut. Dan kami hanya memilih jenis tiket untuk Kyushu bagian utara saja seharga JPY 8500 atau sekitar Rp 900.000 an. Karena akan digunakan ke Mojiko, Yufuin, Huis Ten Bosch, dan di daerah sekitaran Fukuoka.

DSCF3396
Kursi di Kereta Sonic yang Harus Kami Putar Arahnya

Setelah membeli tiket tersebut, kami tinggal naik kereta. Saat itu dari Kyushukodaimae eki, stasiun terdekat dari universitas dan apato adik, kami menggunakan kereta lokal ke Kokura, dan jenis keretanya mirip sonic yang cepat. Di Kokura, kami harus membalikkan arah kursi sendiri. Baru setelah itu perjalanan panjang hingga ke Oita. Di Beppu, Oita kami berpindah ke kereta yang lebih kecil yaitu kereta lokal ke Yufuin. Sepanjang perjalanan, suasana pedesaan banyak kami temui. Banyak stasiun kecil juga yang terlihat kuno, namun antik. Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya kami sampai di Yufuin. Ternyata ada kereta antik mahal yang bisa kita gunakan juga ke Yufuin ini. Namun memang harus bayar lagi, karena tidak termasuk di tiket JR Kyushu rail pass.

Dan inilah Yufuin…

X5QenMclbd_zboBd5Tt9jQhZdqNd-RLv

Cantik

Unik

Antik…

Yuk, yang ada rencana ke Jepang. Singgah di Yufuin ini…

 

 

Diposkan pada Haji, Jepang, Memories, Palembang, Travelling

Perjalanan Singkat ke Baitullah: Anugerah dan Kontemplasi Kehidupan

Bismillahirrahmanirrahiim….

Mama saya sering bercerita tidak pernah merasa cemburu dengan kisah perjalanan orang-orang yang pergi ke Eropa, jalan-jalan ke Jepang, atau menghabiskan uang di Amerika. Tapi mama selalu merasa cemburu jika ada yang baru pulang dari tanah haram. Sebegitu cintakkah orang-orang pada Rabb-Nya, sehingga mama saya sampai merasa seperti itu? Bahkan banyak para tukang dagang yang penghasilannya pas-pasan, seperti mati-matian menyisihkan uangnya hanya agar bisa menyempurnakan rukun islamnya. Mengapa? Selalu saya bertanya seperti itu, sampai saya akhirnya tersadar.

IMG_9366
Di halaman masjid Nabawi. Dok: pribadi

Ternyata memang benar. Perjalanan ke baitullah, yang saya dan suami rasakan di tahun 2018 lalu, singkat namun selalu terkenang. Bahkan diri ini selalu berdoa agar bisa kembali ke sana, memperbaiki setiap niatan yang kurang, memperbaiki setiap rangkaian manasik yang masih fasik. Ya Rabb, 20 hari di Tanah haram ternyata sangat sebentar. Hamba menyesal karena masih belum bisa menghindari rasa keluh kesah, amarah, dan gundah. Masih banyak hal duniawi yang memalingkan diri, di saat seharusnya khusuk beribadah nafsi.

Semoga ada kesempatan lagi untuk diri ini kembali menjadi tamu-Mu, Ya Rabb. Sampai saat itu tiba, in sya Allah setiap hal yang pernah saya jalani di sana akan menjadi kontemplasi diri untuk terus berishlah memperbaiki diri. Hamba sangat bersyukur di tahun 2018, penuh anugerah dan nikmat yang Karuniakan.

Kisah yang sempat saya bagikan bersama Mba Nurin Ainistikmalia di #CollaborativeBlogging semoga bermanfaat untuk semuanya yang membaca dan mencari info terkait haji. Berikut daftar tulisan terkait kisah saya selama collaborative blogging:

1. Prosedur Berangkat Haji dari Jepang: Apa yang harus Dipersiapkan?

2. Mengurus Vaksin Meningitis dan Influenza untuk Berhaji dari Jepang: Ribet Gak?

3. Galau Takut Haid Saat Pergi Haji dari Jepang, Pil Haid Perlukah?

4. Satu Kisah di Masjidil Haram: Saat Menanti Ismail Gate

5. Berumrah dan Haji dari Jepang, Selalu Terkenang

6. Akibat Tersasar, Akhirnya Bekunjung ke Perpustakaan di Masjidil Haram

7. Satu Kisah di Masjidil Haram: Masmuki?

8. Prosesi Haji: Mina, Arafah, Muzdalifah

9. Menjadi Lidah Arab Selama di Mekkah, Kembali Meng-Indonesia di Madinah

10. Refleksi Haji: Meneladani Pengorbanan Seorang Ibu

11. Mengenang Perjuangan Rasul: Berkunjung ke Gua Hira, Jabal Nur, dan Jabal Rahmah

12. Tempat Belanja di Mekkah dan Madinah

13. Madinah dan Pengalaman Masuk Taman Surga Raudhoh

14. Sightseeing di Madinah: Masjid Kuba, Kebun Kurma, Masjid Qiblatain, dan Jabal Uhud

Yuk, kita intip tulisan penutup Mba Nurin di sini.

Sampai berjumpa di kisah lainnya 🙂

Diposkan pada Haji, Jepang, Memories, Palembang, Travelling

Sightseeing di Madinah: Masjid Kuba, Kebun Kurma, Masjid Qiblatain, dan Jabal Uhud

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا لَّمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى ٱلتَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُوا۟ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُطَّهِّرِينَ

Janganlah kamu shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS. At-taubah: 108)

img_9296
Di masjid Nabawi. Dok: Aa Rizal

Bismillahirrahmanirrahiim…

Assalamualaikum. Sabtu lagi… 😀 Itu artinya #CollaborativeBlogging saya dan Mba Nurin kembali hadir. 😀 Tidak terasa Kami sudah masuk episode 16. Dan untuk tema kali ini, idenya Mba Cantik yaitu sightseeing di Madinah. Yuk langsung simak aja ya, jalan-jalan rombongan HIS Japan saat di Madinah ini.

Hampir sama dengan di Mekkah, semua fasilitas sightseeing ini sudah termasuk dalam paket haji. Artinya sekarang kami tidak perlu lagi merogoh kocek untuk jalan-jalan di Madinah. Tinggal naik ke dalam bus, yang alhamdulillah nya serba baru ini bus dari HIS Japan. :D. Saya memilih bus dengan muthawwif Ustad Fatah, supaya lebih paham mendengarkan penjelasan dengan bahasa Indonesia :D.

Lalu ke mana saja kami pergi?

Masjid Kuba

Masjid kuba adalah salah satu masjid yang pasti dikunjungi saat ke Madinah. Masjid ini adalah masjid yang pertama kali Rasul bangun pada tahun 1 Hijriyah atau sekitar 622 tahun masehi. Di awal postingan tadi, masjid kuba ini disebutkan dalam Al-qur’an yaitu di surat At-taubah: 108. Masjid yang dibangun atas dasar takwa. Muthawwif kami saat itu yaitu Ustadz Fatah mengatakan standar masjid yang dibangun pertama kali ini seperti masjid kuba. Jadi sudah sepatutnya masjid-masjid sekarang bisa melihat bagaimana masjid kuba ini didirikan.

img_9319
Masjid Kuba. Dok: Aa Rizal

Apakah harus megah? Ternyata tidak. Kesederhanaan masjid kuba ini masih terpancar. Namun memang masjid kuba ini mengalami beberapa kali renovasi. Namun yang dikatakan standar masjid ini adalah berupa bangunan segi empat dan berdinding di sekelilingnya.

Saat akan memasuki masjid ini kita akan memasuki pintu yang berbeda untuk laki-laki dan perempuan. Dan disarankan kita berwudhu dari penginapan kita. Lalu mengerjakan salat sunah 2 rakaat, sebagaimana Rasul yang mengatakan:

“Barang siapa yang telah bersuci (berwudhu di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba lalu shalat di dalamnya dua rakaat, maka baginya sama dengan pahala umrah.” (Sunan ibn Majah, no 1412).

img_9318
Di depan Masjid Kuba. Dok: Rombongan HIS Japan

Kebun Kurma Abu Faisal

Dari masjid Kuba, kami menuju kebun kurma. Kabaranya kurma di Madinah lebih murah daripada di Mekkah. Oleh karena itu saya dan suami berencana membelinya di sana.

img_9322
Kebun Kurma Abu Faisal. Dok: Aa Rizal

Di sini banyak pohon kurma. Namun kami langsung menuju tokonya. Sudah bisa ditebak di dalamnya dijual aneka kurma. Selain kurma juga dijual banyak oleh-oleh dari Arab lainnya, seperti coklat, kismis, dan kacang Arab.

Kebun kurma Abu Faisal ini terletak di Alkhatim 7682. Tidak terlalu jauh dari Masjid Kuba.

Berhubung saya tidak jadi ikut tur bebayar dengan bus hop-on-hop-off Madinah, giliran Mba Nurin yang akan bercerita tentang bus berbentuk unik dan lucu itu. Yuk simak kisahnya di sini.

Sightseeing Madinah Bareng Mba Nurin

Haji reguler indonesia vs kuota jepang
Gambar: mba Nurin

Yuk lanjut lagi bareng saya dan rombongan HIS Japan. Tempat ketiga yang kami datangi adalah…

Masjid Qiblatain

Dari namanya saja sudah terlihat jelas arti masjid ini, adalah masjid dua kiblat. Kok bisa? Ustadz Fatah pun menceritakan sejarah masjid ini. Awalnya masjid ini dikenal dengan nama masjid Bani Salamah. Letaknya di tepi jalan, menuju ke arah Universitas Madinah. Pada permulaan islam, orang-orang salat menghadap kiblat ke baitul maqdis di Palestina. Baru setelah turun wahyu kepada Rasul, ada perintah memindahkan kiblat ke arah Mekkah. Saat itu Rasul sedang salat dzuhur bersama bani Salamah di masjid ini. Kemudian wahyu turun yaitu QS. Al-baarah: 144 untuk memindahkan kiblat ke Mekkah. Pintu masuk masjid ini pun dibedakan untuk laki-aki dan perempuannya, ya 😀

Jabal Uhud

Jabal Uhud merupakan bukit terbesar dan tertinggi di Madinah. Cuaca sightseeing saat itu semakin panas. Kami sampai di bukit ini saat terik matahari. Apa istimewanya bukit ini? Kelak bukit ini akan ada di surga, sebagaimana yang dikatakan dalam hadits riwayat Bukhari. Bukit ini tidak bersambungan dengan bukit lainnya. Oleh karena itu ada yang mengatakan bukit ini adalah bukit yang menyendiri.

Bukit ini pun terkenal dengan perang Uhud. Di mana pasukan muslim kalah akibat perebutan ghanimah atau harta rampasan. Di sini pula banyak dimakamkan para syuhada Uhud, seperti sayyidina Hamzah. Masya Allah T_T.

Untuk tempat-tempat lainnya seperti pemakaman baqi, saya hanya melintas. Karena suami saya sudah berpesan untuk perempuan tidak ada keharusan berziarah kubur. Dan untuk menuju baqi ini bisa kita tempuh dengan jalan kaki di sekitar kawasan masjid Nabawi. Begitupun untuk museum quran, kita bisa berjalan kaki ke arah gate 1 dan sekitarnya.

img_9329
Pemakaman Baqi di Madinah. Dok: Aa Rizal

Berziarah ke tempat-tempat sejarah, tempat dimana Rasul berjuang dengan para muslimin lainnya menjadi pengingat kita untuk selalu bersyukur bisa berada dalam keadaan islam, dan semuanya sudah mudah untuk menjalankan agama kita ini. Semoga bermanfaat 🙂

Diposkan pada Haji, Jepang, Memories, Travelling

Madinah dan Pengalaman Masuk Taman Surga Raudhoh

raudhah
Raudhoh. Sumber: https://syahrilkadir.wordpress.com/2012/06/28/umrah-orang-berdosa-bhg-9-tempat-yang-sungguh-istimewa-bernama-raudhah/

Bismillahirrahmanirrahiim… Masya Allah walhamdulillah #Collaborativeblogging saya dan Mba Nurin untuk mengisahkan pengalaman selama di Mekkah sudah selesai. Sekarang kami berlanjut untuk hijrah ke Madinah. Dan tema pertama kami di Madinah adalah tentang Raudhoh.

Tengah malam saya beserta rombongan HIS sampai di Madinah. Perjalanan Mekkah-Madinah kami tempuh selama kurang lebih 7 jam menggunakan bus. Semua rombongan HIS baik itu yang transit Filipina, yang menggunakan Ettihad, ataupun rombongan saya yang transit di Colombo Srilanka, ditempatkan di satu hotel yang sama yaitu Riadh Alzahra Hotel. Letak hotel ini tidak jauh dari Masjid Nabawi, yaitu di belakang perpustakaan King Abdul Azis. Hanya sekitar 3-5 menit kami bisa masuk ke masjid melalui pintu no. 7 atau 8.  Keadaan badan saya saat itu sangat lelah dan penat. Setelah menunaikan salat isya rasanya ingin sekali langsung baringan. Apalagi hotel yang kami tempati ini sangat nyaman. A Rizal, suami saya mengajak untuk bersegera ke masjid. Karena kami khawatir jalan ke masjid yang kami tempuh masih agak siwer alias takut nyasar. Namun melihat keadaan saya yang payah, beliau pun mempersilakan saya beristirahat dan berjanji untuk bersegera ke sana sekitar jam 3 dini hari.

Simak Kisah Mba Nurin Ainistikmalia di Sini

Haji reguler indonesia vs kuota jepang
Foto by: Mba Nurin

Masjid Nabawi berbeda dengan Masjidil Haram. Posisi salat ikhwan dan akhwat sudah terpisah. Letak toilet dan kamar mandi berada di luar pelataran masjid, namun jaraknya tidak sejauh di masjidil haram. Ba’da subuh A Rizal cerita bahwa semalam dia jadi ke Masjid bersama rombongan ikhwan untuk bersegera ke Raudhoh. Masya Allah, saya pun ingin ke sana. Saya menyimak cerita dari suami saya ini bagaimana mereka masuk ke makam Rasul dan para sahabat. Mungkin berbeda dengan ikhwan, khusus untuk akhwat ternyata ada jam-jam tertentu untuk masuk ke sana.

img_9239
Saat Aa akan mengantri masuk Raudhoh. Dok: A Rizal

Ingat Jadwal Masuk dan Pintu Masuknya untuk Akhwat

Khusus jam akhwat saya lihat papan pengumuman di LCD depan masjid yang mengatakan khusus akhwat pintu Raudhoh dibuka setelah waktu duha, setelah dzuhur dan setelah isya. Kemudian hanya dua pintu menuju Raudhoh bagi akhwat yaitu pintu nomor 25 dan 29.

Jika kita berada di dalam Raudhah, berdirilah menghadap kiblat. Kita dapat melihat di sebelah kiri ada sebuah bangunan berbentuk segi empat berwarna hijau tua yang dulunya adalah rumah Rasulullah SAW dan Siti Aisyah, dan di situlah juga letak makam Rasulullah SAW serta para sahabat (Abu Bakar, Umar, dan Utsman). Di atasnya terdapat kubah berwarna hijau tua yang menjadi tanda letaknya makam Rasulullah SAW. Kubah ini bisa dilihat dengan jelas dari luar Masjid Nabawi bagian depan.

img_9251
Dok: Aa Rizal

Dan ternyata untuk masuk ke sana butuh perjuangan. Tempat yang padat dan dibatasi waktu. Namun saya bersemangat untuk bisa salat sunnah di sana, minimal sekali. Raudhoh yang berarti taman menjadi salah satu tempat yang diincar para jamaah saat ke masjid Nabawi. Tempat ini selalu padat sepanjang waktu, sebagaimana sabda Rasul:

“Antara Rumahku dan mimbarku terdapat taman di antara taman surga…” (HR. Bukhari Muslim).

Beberapa mufassir dan ulama mengatakan ada sedikitnya tiga keutamaan Raudhoh ini, tak heran banyak orang yang rela antri menunggu untuk bisa salat di sana. Keutamaan tersebut adalah:

  1. Tempat yang menjadi gambaran taman surga. Bagi siapapun yang masuk ke sana, akan merasa bahagia
  2. Beribadah di tempat ini bisa menjadi jalan masuk surga
  3. Secara harfiah, tempat ini bermakna tempat yang akan diangkat ke surga

Letak Raudhoh di masjid Nabawi inilah juga yang menjadi penyemangat untuk berburu pahala. Karena sesuai sabda Rasul berikut:

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom.” (HR. Bukhari no. 1190 dan Muslim no. 1394, dari Abu Hurairah)

Iniah yang menjadi penyemangat saya. Oleh karena itu, ba’da dzuhur saya putuskan untuk berusaha bisa ke Raudhoh. Saat itu saya sendirian. Belum bilang pada suami, dan saya tidak pulang dulu ke Hotel. Saya pun bergegas ke pintu no. 25, yang lebih dekat dengan posisi saya salat dzuhur tadi. Namun di luar perkiraan, pintu no. 25 sudah padat dan ada pengumuman waktu untuk masuk ke Raudhoh siang itu sudah habis. Saya pun kembali mencoba ba’da isya. Saat itu saya sendiri lagi, karena kondisi teman sekamar sedang tidak fit untuk salat ke masjid. Alhamdulilah saya berhasil masuk pintu no. 25. Di dalam ternyata kami harus menunggu kembali. Kami dikelompokkan berdasarkan negara. Kondisi saat itu adalah jama’ah Indonesia sangat sedikit, karena kebanyakan mereka sudah ke Madinah terlebih dahulu sebelum berhaji. Berbeda dengan rombongan kami yang langsung ke Mekkah. Saya menggunakan rompi HIS yang ada simbol negara Jepangnya. Makin lah saya tidak ada teman. Karena hanya ada sedikit rombongan kami. Lalu saya pun bertanya kepada askar harus ikut kelompok mana saya? Askarnya perempuan tentunya.

Saya pun bergabung bersama negara Turki dan Afrika. Namun ternyata terjadi keributan kecil. Jama’ah Afrika yang terlebih dahulu di kelompok lingkaran itu merasa didahului oleh jama’ah Turki yang baru bergabung. Kami disuruh ke barisan belakang. Saat itu alhamdulillah ada salah satu rombongan HIS yang muncul. Saya pun memanggilnya untuk bergabung. Kami menunggu semakin larut, dan sepertinya giliran kami masih lama. Sementara Mba yang bareng saya ini ditunggui suaminya. Dan saya pun khawatir suami saya di hotel kebingungan mencari, karena saya belum bilang sama beliau dan teman sekamar. Akhirnya saya dan Mba Vi pun memutuskan menyerah pulang.

Dari cerita Ibu Devi, teman sekamar saya memang sulit untuk masuk ke Raudhoh ini. Apalagi saat haji. Beliau mengatakan saat umrah masih agak lengang. Sepertinya harapan saya untuk salat di sana harus saya kubur dalam-dalam. Ba’da subuh saat mengaji, ada seorang ibu dari Kalimantan yang mengajak mengobrol. Saya pun bercerita belum sempat ke Raudhoh. Ibu itu pun memberi nasihat agar saya banyak berdoa supaya bisa dimudahkan masuk ke dalamnya, dan dimudahkan pula orang lain yang ingin masuk juga ke sana. Yang utama katanya niat, dan beliau sudah 3 kali masuk ke Raudhoh. Keyakinan saya pun kembali. Dan saya pun berniat ba’da isya untuk bersiap. Sehingga dari maghrib saya sudah salat di pintu no. 25.

Alhamdulilah saya berhasil masuk dengan bantuan dua teman lainnya. Kami bertiga saling bekerja sama untuk melindungi saat salat. Mereka adalah orang Indonesia yang ada di London, dan satu orang Malaysia. Saran dari mereka adalah lamakan sujud terakhir, berdoa saat sujud. Karena jika kita berdoa setelah salat biasanya akan segera diusir orang lain yang ingin salat di sana.

Lokasi Raudhoh dan Ciri-cirinya

raudah+
Karpet Raudhoh Berwarna Hijau. Sumber: http://catatanhajikoe.blogspot.com/2013/03/tips-mengunjungi-raudhah-untuk-muslimah.html

Oh iya, karpet Raudhoh berwarna hijau. Jadi kita salat di karpet hijau tersebut. Jangan lupa bawa perbekalan saat menunggu lumayan lama. Bawalah air zamzam dan camilan. Juga bersabarlah, banyak berdoa, dan dengarkan instruksi askar. Jangan sampai kita mendzalimi orang lain dan berbuat hal tidak baik. Semoga bermanfaat. 🙂

tempirai, 12 Januari 2019