Hamparan Sawit di Persada Bumi Pertiwi: Tanda Subur dan Kayanya Indonesia

Hampir dua puluh tahun saya tinggal di Tanah Pasundan, dan selama itu pula saya hanya tahu kekayaan Indonesia dari satu sudut pandang Sumber Daya Alam saja. Indonesia memiliki alam yang kaya, dengan hamparan sawah dan gunung yang indah. Namun ternyata kekayaan alam Indonesia tidak hanya sebatas gunung dan sawah. Lebih dari itu, kita memiliki sumber daya alam dan potensi tanaman lokal yang sangat menjanjikan. Yaitu sawit yang merupakan bahan baku pembuatan minyak sayur dan beberapa bioetanol untuk alternatif energi. Bagi saya yang tinggal di daerah pegunungan, kurang familiar dengan sawit ini. Saya lebih akrab dengan kelapa ataupun pala. Jika ditanya, bagaimana prosesnya dari sawit bisa menjadi minyak? Saya pasti akan menggeleng tidak tahu. Wacana sawit merupakan komoditas ekspor yang menjanjikan pun hanya sekadar berita yang terbaca di gulungan surat kabar, ataupun tayangan televisi. Hingga akhirnya saat usia 22 tahun, tepat setelah kelulusan kuliah S1 ku, saya pun bertugas di pedalaman Aceh Timur. Dan disanalah saya menemui banyak hal, terutama sawit yang terhampar luas dan membuat saya sadar bahwa Indonesia bukan hanya sekadar kaya. Namun memang Indonesia ini dikaruniakan Tuhan dengan kekayaan alam yang begitu banyaknya.

Saat di bangku kuliah, saya mengenal sawit melalui mata kuliah kimia industri. Namun hanya sebatas referensi bacaan. Tibalah saat saya tinggal di Aceh selama satu tahun. Pohon kokoh yang begitu besar ini memang mirip dengan kelapa. Buahnya yang bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah.

Menjadi Lidah Arab Selama di Mekkah, Kembali Meng-Indonesia di Madinah

Bismillah…

Sudah episode berapa sekarang?

Apa temanya untuk pekan depan?

Semoga teman-teman masih setia mendengarkan kisah kami di #CollaborativeBlogging ini ya 😀 Jreng… Tema pekan ini tentang kuliner.  Wah senangnya 😀 Yup, saya sangat senang karena di Mekkah dan Madinah tentunya semua makanan halal. Saya tidak perlu harus capai-capai baca komposisi bahan dengan membuka google translate an seperti saat di Jepang. Oke, saya dan Mba Nurin akan saling bercerita tentang bagaimana makan kami selama berhaji dan saat di Madinah, juga kerinduan kami dengan masakan tertentu. Ayo, kangen apa coba? 😀

Di HIS travel Japan Hajj and Umrah, paket harga haji sudah termasuk dua kali makan yaitu sarapan dan makan malam. Sementara makan siang disediakan camilan dan buah-buahan. Seperti apa kami makan?

Tempat makan kami berada di lantai tiga, lantai paling atas di penginapan Daar El Malky. Makanan disediakan secara prasmanan dengan menu Arab, Wiih…Secara kokinya juga orang Arab asli 😀

Sayangnya saya tidak mengabadikan menu-menu tersebut dalam kamera. 😦

Menu yang saya nikmati adalah beras basmati yang biasa dimasak ala orang Arab saat di Jepang (biasanya saat Ramadhan ada jadwal pernegara masak. Dan saya suka ketika jadwalnya orang Arab, karena menunya selalu daging dan nasi dari beras basmati ini). Lauknya? Yang saya ingat adalah telur direbus dengan taburan garam di luar kulitnya. Lalu ada kari kacang merah, ayam bakar, kuah kuning ala Arab, dan salad. Ini adalah menu tersering kami. Namun suatu hari pernah juga ada ikan patin yang dimasak cukup enak menurut saya, agak Indonesia sedikit. Meskipun saya suka masakan Arab, namun ternyata terlalu rutin mengonsumsinya membuat saya rindu masakan Indonesia. Alhamdulillahnya di menu siang hari, camilan yang disediakan adalah Indomie Cup :D. Yang saya ingat adalah rasa ayam dan kari. Di setiap menu makan kami dilengkapi dengan buah madu cup, roti, keju, dan buah zaitun. Arab banget kan?

Untuk mengakali makan siang, karena biasanya saya dan suami juga jarang pulang ke penginapan, kami biasa membawa bekal. Bekal darimana?

Di Mekkah saya melihat di mana-mana orang bersedekah. Ya, setiap hari selalu ada yang membagikan makanan. Menunya? Nasi basmati dan ayam, atau terkadang malah daging. Ada juga yang membagikan roti. Air? Ngga perlu khawatir, zamzam ada di setiap penjuru di masjid. Bahkan banyak orang-orang yang berbagi air minum di sepanjang jalan menuju masjidil Haram. Masya Allah 😀

Namun ternyata tetap saja kerinduan ini datang. Kerinduan ingin jajan alias berkuliner ria. Saya sebetulnya bukan tipe pemilih makanan, tapi terkadang kalau sudah bosan sama itu-itu juga apalagi nasi, saya inginnya mengemil makanan berat seperti bakso, mie ayam, batagor, seblak, dan kawan-kawannya 😀

Akhirnya saya pun mengajak suami untuk jajan burger. Mengapa burger? Di Jepang gak ada yang halal, dan saya kangen makanan junk food ini. Harganya relatif sama, tapi saya beli yang 15 riyal, selalu 😀 Dan isinya tidak sesuai harapan, karena tidak ada sayuran. Hanya daging ayam/ sapi burger dengan kentang. Dan tidak ada saus 😦 Masih menjadi lidah Arab lagi.

Mba Nurin Berkuliner Apa ya?

Cerita Mba Nurin Ainistikmalia

Haji reguler indonesia vs kuota jepang

Foto By: Mba Nurin Ainistikmalia

Saya pun bercerita dengan teman-teman sekamar, dan kebetulan Mba Dwi yang sedang hamil pun merasakan ngidam ingin menikmati bakso. Dia bercerita bakso ada di Grapari, namun katanya dia pun belum sempat mencicipi. Saya sampai mencari di internet lokasi tempat bakso, dan hingga menuju Mina dan sekembalinya dari Mina, saya pun gagal makan bakso di Mekkah. Kalau kata suami, makanan yang disediakan saja sudah berlimpah. Harus bersyukur. 😀

IMG_7154

KFC di area Bin Dawood. Dokumentasi: Pribadi

Saat inti ibadah haji di Mina, Arafah, dan Muzdalifah, maktab kami no. 96 pun tetap sama berkoki orang Arab. Menu yang disediakan dalam bentuk kotakan aluminium. Biasanya menunya adalah pagi hari telur rebus, roti, madu, keju, dan air. Lalu siang dan malam hari nasi basmati, ayam goreng, dan alhamdulillah pernah nikmat banget ada ikan teri cabai ala Indonesia dan sambalnya nikmat :D. Saat di Mina pun selalu didistribusikan apel, Jeruk, dan minuman dingin. Karena Masya Allah panasnya. Nah, karena sering kelaparan habis subuh, saat di Mina ini saya dua kali membeli Indomie cup. Indomie di Mekkah dibandrol dengan harga 5 riyal atau sekitar Rp 20000. Dan setiap menyeduh mie ini saya selalu senyum saat ke dapur. Air panas di keran dapur tertulis Air banas… dalam huruf hijaiyah tentunya 😀

Setelah selesai ibadah haji, kami kembali ke penginapan. Hadyu dari kurban kami semua ternyata sudah diolah oleh koki kami. Baru kai ini saya menikmati olahan daging kambing ala Arab. Potongannya besar-besar, namun dagingnya empuk. Saya sampai heran, gimana cara masaknya ya? Nikmat ya Allah. Kadang takut ga kekontrol untuk nambah lagi.

IMG_7145

Salah Satu Menu Masakan Daging Hadyu Kami. Dokumentasi: Grup HIS Hajj

Yuk, pindah ke Madinah 😀

Di Madinah kami tinggal di hotel yang besar. Tempat makan kami pun lebih besar. Selama di Madinah ini makan disediakan tiga kali secara prasmanan. Dan di sini masya Allah, menu terbagi dua. Menu Indonesia banget, dan menu Arab. Di sini kerinduan saya akan menu Indonesia sangat terobati. Selalu ada sambal dan mentimun.

IMG_7155

Ada McD di Area Bin Dawood Mekkah. Dokumentasi: Pribadi

Tapi kembali, saya tergoda ingin makan bakso karena postingan beberapa teman di grup. Saya sampai niat mengajak suami ke arah pintu 16 untuk menikmati bakso itu. Dan..ketemu. Plangnya terlihat. Bakso Si Doel di dekat Restoran Indonesia. Ya, di Madinah ini lebih banyak katanya Restoran Indonesianya. Namun saya dan suami agak bingung pintu masuknya. Katanya naik ke lantai atas. Kami coba masuk dulu, tapi kok ini hotel tempat menginap orang-orang negara lain. Suami membujuk saya untuk menyerah. Dan, ya sudahlah. Saya pun menyerah. Tapi ternyata rezeki gak kemana. Saat makan siang menu di hotel adalah bakso. Ya Allah. Kata orang-orang juga rasa baksonya sama dengan bakso si Doel itu. Alhamdulillah.

Jadi selama di Mekkah dan Madinah ini saya hanya jajan di pinggir jalan, yaitu burger , pizza dan jus. Makanan junk food yang selama di Jepang saya impikan 😀 Untuk bakso? alhamdulillah nya di Jepang suka buat, meskipun ala kadarnya 😀

39956110_2191150941166123_150008037824790528_n

Rombongan HIS Japan di Jamarat. Dokumentasi: HIS Japan

 

 

Keren! Buah Unik Ini Hanya Ada di Indonesia dan Bikin Negara Lain Iri

Negara Indonesia memang terkenal dengan kekayaan alamnya. Sumber Daya Alam yang melimpah, terutama bahan pangan dan buah-buahan. Indonesia memang beriklim tropis, sehingga banyak buah dapat tumbuh dengan baik di tanah air ini. Ternyata ada beberapa buah langka juga di Indonesia, yang sulit kita temukan di negara lain. Apa sajakah buah unik tersebut? Dikutip dari idntimes.com (20/10/2017) berikut buah-buah unik di Indonesia:

Buah Lobi-lobi

Saya masih ingat buah ini dulu ada di halaman rumah nenek, namun sekarang sudah ditebang dan sangat sulit ditemukan. Rasa buah ini cenderung asam. Biasanya buah ini kita temukan dalam campuran rujak uleg atau rujak tumbuk. Lobi-lobi ini sangat baik untuk diare dan mencegah kencing darah.

Buah Manau

Buah ini berasal dari pohon rotan dan banyak kita temukan di sekitar pulau Kalimantan. Rasanya cenderung pahit. Kalau dilihat sekilas mirip dengan buah salak.

Buah Lay

Sekilas buah ini seperti durian, karena memang masih satu kerabat dengan durian. Namun baunya tidak semenyengat durian. Buah ini mudah kita jumpai di daerah Kalimantan.

Buah Kecapi

Buah ini tumbuh baik di dataran tinggi. Sekilas seperti dukuh, namun ukurannya lebih besar. Buah ini sangat baik untuk kesehatan, sebagai antioksidan dan pencegah kanker.

Buah Cempedak

Buah ini masih satu keluarga dengan buah nangka. Rasanya manis dan bisa kita olah menjadi berbagai bahan makanan. Cempedak sangat berguna untuk menurunkan kolesterol dan mengobati malaria.

Buah Kedondong

Dulu buah ini pun ada di halaman rumah nenek. Biasa kami menikmatinya dengan dicocol garam. Biasanya buah kedondong ini banyak seratnya. Buah ini berguna untuk mengatasi diare, mencegah kanker dan penyakit jantung.

Sedap…itulah beberapa buah unik yang hanya ada di Indonesia. Buah sejuta manfaat yang tidak bisa kita temukan ketika pergi ke luar negeri. Alhamdulillah kita bisa menikmatinya di negeri kita tercinta. Adakah yang belum pernah kalian coba?

Ternyata Minuman Bersoda Memiliki Banyak Manfaat Juga Loh

Minuman bersoda memang sangat populer, terutama di kalangan anak muda. Namun banyak fakta mengerikan tentang bahaya minuman bersoda untuk kesehatan jika dikonsumsi terlalu berlebihan. Kandungan gulanya yang tinggi pun sangat harus kita waspadai. Namun siapa sangka minuman bersoda ini ternyata banyak mengandung manfaat juga loh. Apa sajakah manfaatnya?

Membuat Kita Mudah Bersendawa dan Menghilangkan Gas di Perut

Pasti sesaat setelah kita mengonsumsi minuman bersoda tidak terasa kita akan bersendawa. Hal ini berkaitan dengan kandungan minuman bersoda yang memiliki zat karbonasi yang mampu melepaskan gas di dalam perut. Jika kita merasa megah atau terasa perut kembung, sesaat setelah minum minuman ini akan mampu melepaskan gas dalam perut tadi dalam bentuk sendawa. Hal ini sangat melegakan dan membuat perut kita pun nyaman. Olehh karena itu, tidak jarang banyak juga yang memanfaatkan minuman soda ini untuk penangkal masuk angin.

Minuman Bersoda Mengurangi Rasa Enek

Saat kita terlalu banyak mengonsumsi daging atau sesuatu yang terlalu gurih, biasanya akan timbul rasa enek bahkan mual. Dibandingkan air putih, minuman soda ini ampuh membuang rasa enek tadi karena kandungan gula di dalamnya. Sesekali minuman bersoda ini bisa kita nikmati jika kita merasa mual makan makanan tertentu.

Mampu Membersihkan Karat pada Alat Masak

Kegunaan inilah yang menjadi pro kontra mengapa minuman bersoda disarankan tidak sering dikonsumsi. Ternyata karat pada alat masak saja bisa hilang. Ini mengindikasikan bahwa minuman bersoda memiliki zat aktif yang sangat keras dan bersifat korosif. Sehingga sangat jelek bila kita minum setiap saat. Sebaliknya, jika kita ingin membersihkan karat dan noda membandel pada wajan, ternyata cukup mudah. Kita tinggal tuang minuman bersoda ini pada wajan sambil dipanaskan, dan sesekali diaduk. Ternyata karat dan noda membandel pun dapat menghilang.

Membuat Daging Cepat Empuk

Konon daging agar cepat empuk harus kita rendam dengan minuman bersoda. Mengapa? Ternyata minuman soda ini memiliki fungsi sama seperti soda kue yaitu memecah kolagen daging, sehingga daging cepat empuk.

Menghilangkan Rasa Nyeri Saat Tersengat Ubur-ubur

Ternyata minuman bersoda pun bisa membantu meredakan nyeri saat tersengat ubur-ubur. Seperti dikutip dari food.detik.com (16/1/2018) menyatakan sebuah penelitian di Australia yang mengatakan minuman bersoda seperti cola dapat mengurangi rasa nyeri tersengat ubur-ubur 25-75%.

Itulah beberapa manfaat dari minuman bersoda. Selain menyegarkan ternyata banyak kegunaan lainnya. Tapi tetap harus bijak jika ingin diminum.

Keren! Ternyata Bahan Dapur Ini Bisa Melebatkan Buah Cabai

Bagi para ibu rumah tangga, terkadang kita memiliki hobi bercocok tanam di sekitar rumah. Pekarangan pun disulap menjadi penghasil beberapa bumbu masakan. Seperti bercocok tanam tomat ataupun cabai. Namun ternyata hasil yang kita peroleh biasanya tidak sesuai harapan. Buah tanaman yang dihasilkan hanya sedikit. Ternyata ada cara yang bisa kita gunakan untuk merangsang cabai berbuah lebat. Dan hanya mengandalkan bumbu dapur. Selain aman, tentunya mudah kita buah. Bahan dapur apa sajakah yang bisa melebatkan buah cabai?

Pupuk Organik dari Telur dan Susu

Ternyata dengan mudah kita bisa membuat pupuk organik dari telur ayam kampung. Ambil tiga kuning telur ayam kampung, lalu campur dengan susu murni sebanyak 1 liter. Kocok dan diamkan hingga 24 jam. Setelah itu pupuk organik dapat kita gunakan.

Micin untuk Pelebat Buah Cabai

Menarik, ternyata bumbu dapur seperti micin yang biasa ibu-ibu gunakan untuk penyedap masakan mampu melebatkan buah cabai. Mengapa demikian? Micin mengandung Msg (monosodium glutamat) yang berfungsi seperti pupuk. Kandungan natrium (Na) dan kalium (K) pada Msg berguna untuk menyuburkan tanah. Selain itu kedua unsur tersebut mampu merangang perkembangan bunga cabai. Cara menggunakannya cukup mudah. Ambil 5 gram micin, lalu campurkan dengan 1 liter air hingga rata. Semprotkan ke bagian akar tanaman cabai.

Itulah beberapa bumbu dapur yang bisa kita gunakan untuk merangsang buah cabai berbuah lebat. Silakan dicoba!

Sumber: inspirasipertanian.com

Kue Ali dan Dodongkal: Dua Kue Tradisional Khas Sunda yang Super Lezat

Kembali lagi di postingan kali ini, saya membahas tentang kuliner. Kalau membayangkan dua kue ini selalu berasa ngiler. Dulu saat kecil, Bapak paling sering beli dodongkal di Pasar Cisaat sepulang dari sekolah. Sementara untuk kue ali, selalu tersedia di jajanan pasar. Kedua kue ini enak, namun lambat laun jarang saya temukan.  T_T. Padahal dua kue ini berasal dari daerah Sunda. Di beberapa daerah menyebut nama dodongkal ini dengan dongkal atau awug. Seperti saat kuliah di Bandung, saya kembali bertemu dodongkal di belokan jalan DT. Namun dengan nama yang lain, yaitu awug. Sementara kue ali, karena mirip dengan cincin, banyak juga yang menyebutnya kue cincin. Kue ali ini sering juga jadi pilihan ibu-ibu ketika membungkus kue di acara maulid nabi di kampungnya. Seperti di masjid rumah kami di Sukabumi, selalu ada kue ali di setiap acara peringatan maulid dan isra mi’raj. 😀

Apa istimewanya kedua makanan ini?

Istimewanya…rasanya yang nikmat. Jarang-jarang saya suka makanan manis. Tapi karena rasa kedua kue ini tidak terlalu manis, membuat saya ketagihan. Saya lebih senang makan kue yang manis jambu, tidak terlalu manis. Kedua kue lebih saya sukai daripada kue tart atau brownies. 😀

Yuk, intip resep kue ali nya 😀

Dulu saat di awal pernikahan, saya coba untuk membuat kue ali ini. Dan…. G-A-G-A-L :p

Saya memang belum pernah membuatnya. (ampun, belum pernah nekad nyoba). Yang saya tahu adalah tepung beras yang nantinya dicampur dengan gula merah. Ternyata tetap saja gagal. Akhirnya saya tanya mama. Oalah ternyata tepung berasnya harus dengan beras yang kita tumbuk sendiri baru dijadikan tepung supaya berhasil. Ini dia resep kue ali dari  www.masakandapurku.com, resepdapur20.blogspot.com :

Kue-Cincin-Betawi-

Kue Ali. Sumber: http://dishubkominfo.karawangkab.go.id/berita/ali-agrem-khas-karawang

Bahan – bahan yang diperlukan untuk kue ali:

  • 1 buah Kelapa setengah tua, kupas, parut kasar, terus sangrai sampai berwarna coklat
  • 75 gra Gula Merah
  • 150 ml Air
  • 250 gr Tepung Beras
  • 75 gr Gula pasir
  • 1/4 sendok teh Garam
  • Minyak untuk menggoreng

Cara Membuat kue ali:

  1. Campurkan bahan-bahan seperti tepung ketan, tepung beras, garam dan parutan kelapa, lalu tambahkan air dan aduk-aduk adonan hingga rata dan adonan bisa dibentuk.
  2. Ambilah 1 sendok teh adonan, lalu buatlah bentuk bulat, selanjutnya tekan bagian tengah adonan hingga membentuk lubang. Selanjutnya goreng adonan yang sudah dibentuk tadi menggunakan minyak panas hingga warna menjadi berubah kuning kecoklat-coklatan.
  3. Masukan kue cincin ke dalam larutan gula dan segera diaduk dan kue siap dinikmati.
    Enak…… 😀

Dan ini resep untuk dodongkalnya dari http://widhiaanugrah.com/resep-kue-dodongkal-manis-dan-enak/:

Bahan Kue Dodongkal :
• ½ kg tepung beras yang sudah diolah ½ matang
• 500 gr gula merah, sisir halus
• 500 ml air
• 2 sendok teh garam
• ½ butir kelapa setengah tua, diparut
• Daun pandan secukupnya

7629-dodongkal-kue-putu-berbentuk-tumpeng

Dodongkal. Sumber: http://bobo.grid.id/Sejarah-Dan-Budaya/Budaya/Dodongkal-Kue-Putu-Berbentuk-Tumpeng-2

Taburan Kue Dodongkal :
• ½ butir kelapa parut, parut memanjang beri garam dan vanili bubuk serta kukus 10 menit

Cara membuat tepung beras yang diolah setengah matang :
1. Takar tepung beras sebanyak yang diperlukan ciprati air sampai berbutir sambil terus diaduk sampai rata, banyaknya air tergantung kelembaban tepung beras.
2. Bungkus dengan kain atau langsung di kukus, kukus selama 15 menit.
3. Setelah dikukus angkat dan tebarkan diatas tampah agar tidak menggumpal sampai penampakannya seperti nasi berbutir lalu dinginkan kira-kira 12 jam/semalaman.
4. Setelah dingin ayak dengan saringan, tepung beras setengah matang pun siap diolah.

Cara Membuat:
1. Siapkan dandang/kukusan beri daun pandan pada air kukusan biar wangi.
2. Campurkan ½ butir kelapa parut dengan tepung beras, beri air garam sedikit demi sedikit, aduk hingga lembab dan berbutir.
3. Siapkan wadah beri beberapa lembar daun pandan, kemudian sendokan gula merah, tepung beras secara berselang seling sampai habis lalu kukus. Untuk lapisan gula merah jangan terlalu tebal cukup tipis saja sedangkan lapisan tepung beras lebih tebal.
4. Kukus selama 15-20 menit sampai matang dan semua bahan menyatu
5. Kue dodongkal siap disajukan dengan kelapa parut.

Selamat mencoba 😀
#SatuHariSatuKaryaIIDN

#TemaKuliner

 

 

Resep Kerecek Kambing Ala Mama

27395116_10210234907738413_746121472_n

Resep ini sebenarnya sudah pernah saya tulis di akun cookpad saya sendiri, yaitu https://cookpad.com/id/resep/2669121-kerecek-kambing-ala-mama.

Daripada daging sapi, saya memang lebih menyukai daging kambing yang rasanya lebih gurih ini. Setiap qurban, daging kambing lah yang jadi incaran. Mama selalu membuat kerecek kambing yang sedap. Tidak dengan bumbu yang aneh-aneh, tapi rasanya sedap dan bikin ketagihan. Mama pun dapat resep ini warisan dari nenek. Kuncinya kata mama, dimasak dengan api yang kecil dan penambahan air yang sedikit-sedikit. Berikut resep kerecek kambing ala mama:

Bahan-bahan:

1/2 kg daging kambing (potong ukuran sesuai Selera). Karena di sini untuk daging kaming halal biasa saya beli yang non tulang, saya potong dengan ukuran dadu sedang

2 buah cabe merah iris

2 siung bawang merah, (Saya ganti bawang bombay ungu, berhubung harga bawang merah yang lumayan mahal di sini dan susah ditemukan)

1 siung bawang putih

1 buah Jahe iris tipis

secukupnya Asam jawa (seukuran biji kacang)

1 gandu gula merah (iris)

1 buah tomat diiris

3 sdm garam

Air secukupnya

Langkah

1. Daging kambing dicuci bersih

2. Masukkan daging kambing dan semua bumbu yang sudah diiris ke dalam wajan. Jangan dulu ditambah air, masak jerang dengan api kecil hingga keluar minyak-minyak dari dagingnya dan air dalam dagingnya habis. Aduk sebentar. Tambahkan air. Masak dengan api kecil agar bumbu menyerap

3. Tambahkan air lagi jika daging belum empuk. Setelah air sebelumnya hampir habis

4. Masukkan gula dan garam. Biarkan airnya macak-macak

5. Kerecek kambing siap dinikmati

Inilah reserp kerecek kambing ala mama. Mengapa mama tidak menumis dulu bumbunya dan langsung menjerang bumbu mentah dengan daging kambing langsung? Karena daging kambing mengandung banyak lemak dan minyak, suka kerasa pusing kalau kita harus menambahkan lagi minyak. Itung-itung mengurangi kolesterol 😀 Selain itu karena rasa daging ini yang agak asam, penambahan asam pun harus disesuaikan supaya masakan kita tidak terlalu masam. Bagi saya resep ini membuat selera makan bertambah, dan ingin nambah terus. Apalagi kita menyantapnya dengan asinan timun. Oishii 😀 

Hiroshima, 29 Januari 2018

#SatuHariSatuKaryaIIDN

#TemaMakanan