Perlukah Salat Sunah Rawatib Saat Haji dan Umrah?

Bahasan ini memerlukan pengetahuan agama yang mumpuni. Ada sebagian yang berpendapat sebaiknya kita memperbanyak thawaf sunnah saat ibadah haji dan umrah. Namun ada juga yang menyatakan tetap salat sunah dianjurkan. Karena kita tahu pahala salat di masjidil haram ini begitu besar.

Beberapa referensi sebagai pengetahuan mengenai masalah ini, bisa kita simak di ceramah ustadz dan penjelasan beberapa situs keagamaan seperti https://islamqa.info/id/answers/34869/kekeliruan-saat-masuk-masjidil-haram

Sehingga dari sini kita sadar, masih banyak ilmu agama yang perlu kita kaji dan pelajari. Karena masih banyak hal yang belum kita ketahui.

Madinah dan Kenangannya

Setelah melaksanakan haji wada’, itu artinya kami akan segera melakukan perpisahan dengan kota Mekkah. Sekitar tengah hari rombongan HIS bergegas untuk meninggalkan Mekkah. Dengan menggunakan bus kami akan menempuh perjalanan kurang lebih 7 jam ke kota nabi, tempat hijrah nabi, yaitu Madinah almunawwaroh alias kota yang bercahaya. Di perjalanan kami mendapat kabar duka. Salah satu jama’ah rombongan bus lainnya harus berpulang. Beliau adalah Hiroshi san, seorang muallaf Jepang. Selama interaksi di tenda ikhwan, suami bilang kondisi kesehatan beliau memang sedang tidak fit. Namun semangatnya untuk menunaikan ibadah ini begitu tinggi. In sya Allah husnul khatimah Ya rabb…

Ada sejumlah prosedur yang kami ikuti untuk meninggalkan Mekkah ini. Seperti pengecekan di pintu keluar, dll. Alhamdulillah kami sampai di Madinah sekitar waktu isya. Saya memilih untuk beristirahat dulu di hotel, sementara suami langsung bersama rombongan bapak-bapak ke masjid. Semua rombongan HIS baik itu yang transit Filipina, yang menggunakan Ettihad, ataupun rombongan saya yang transit di Colombo Srilanka, ditempatkan di satu hotel yang sama yaitu Riadh Alzahra Hotel. Letak hotel ini tidak jauh dari Masjid Nabawi, yaitu di belakang perpustakaan King Abdul Azis. Hanya sekitar 3-5 menit kami bisa masuk ke masjid melalui pintu no. 7 atau 8.

Madinah ini adalah kota yang hijau, banyak pohon kurma terdapat di mana-mana. Sehingga konon harga kurma di sini lebih murah dibandingkan di Mekkah. Dan yang paling membuat saya menangis, terharu, dan bahagia adalah saat akan memasuki raudoh untuk mengunjungi makam nabi Muhammad saw. Hati ini sedih dan membayangkan seandainya diri ini bisa berada di zaman nabi dan para sahabat,  belajar agama langsung, menanyai masalah keagamaan secara langgsung, dll. Tidak bisa tergambarkan bagaimana terenyuhnya hati ini. Kenangan selama di Madinah ini, saya tuliskan di beberapa postingan, seperti:

Menjadi Lidah Arab Selama di Mekkah, Kembali Meng-Indonesia di Madinah

Madinah dan Pengalaman Masuk Taman Surga Raudhoh

Sightseeing di Madinah: Masjid Kuba, Kebun Kurma, Masjid Qiblatain, dan Jabal Uhud

Masya Allah, sama rindunya dengan Mekkah. Madinah ini menyimpan banyak kenangan. Dan dari suami berdasarkan salah satu riwayat hadits, akhirnya saya tahu, kota Madinah ini adalah salah satu kota yang tidak akan bisa dimasuki dajjal juga. Semoga kita diberikan kesempatan untuk bisa kembali ke tempat ini. aamiin,

Info Haji dari KMII Jepang

Mudahnya pergi haji dari Jepang, ternyata belum terlalu diketahui banyak orang terutama warga Indonesia yang sedang bermukim di Jepang sana. Padahal ternyata info haji dari Jepang ini difasilitasi dengan sangat baik. Mulai dari travel penyelenggara yang menyediakan informasi secara lengkap via media sosial, web, ataupun kita bisa mengontak langsung via email ataupun telpon. Dan ternyata KMII (Keluarga Masyarakat Islam Indonesia) di Jepang, yang berpusat di Shinagawa, Tokyo turut serta berbagi info tentang haji dari Jepang ini. Kita bisa membuka web nya di http://www.kmii-jepang.net/haji/faq-haji/ atau ada info secara lengkap di fb KMII-Jepang. Silakan untuk selalu memantau informasi dari media-media tersebut. 🙂

Camii Mosque: Beautiful Mosque with Turkish Culture in Japan

Bismillahirrahmanirrahiim…

53352587_2330104383875538_2819830129302175744_n

Interior ruangan bagian atap masjid. Dok: Rahmi Rahmatillah

Sepertinya di tanah air, sedang rame-ramenya pemberitaan artis terkenal yang menikah di masjid Camii (東京ジャーミイ), Jepang. Nah, di postingan kali ini saya akan berbagi tentang gambaran masjid Camii ini. Masjid Camii ini terletak di Shibuya, Tokyo. Masjid terbesar di Jepang, dengan bangunan unik nan cantik ala gaya arsitek Turki. Alamat masjid ini di 1-19 Oyama-cho, Shibuya-ku, Tokyo 151-0065, JAPAN.

af51162f-b8d5-4b65-aef8-b733d0950476

Dok: Rahmi Rahmatillah

Waktu itu kami mengunjungi masjid ini saat ke Tokyo di musim panas tahun  2017 lalu. Konon pada awal berdirinya masjid ini bergabung dengan sekolah yang berdekatan dengan masjid ini yaitu pada tahun 1938 oleh para imigran Baskhir dan Tatar asal Rusia yang datang ke Jepang. Jika kita lihat gaya arsiteknya, memang khas Turki. Ornamen yang cantik dan indah dan beberapa hiasan kaligrafinya.

53152882_383559499107523_3806445758564007936_n

Di dalam masjid. Dok: Rahmi Rahmatillah

52893689_588648528265907_7660225295135277056_n52884277_638340453284489_8815845198845181952_n

53761169_538136643345371_1825310656409108480_n

Di pintu masuk ke ruang souvenir. Dok: Rahmi Rahmatillah

Saat kami ke sini, kami naik JR Lokal Chiyoda line dari stasiun Shibuya (setelah melihat hachiko) untuk kemudian berhenti di stasiun Yoyogi-uehara. Dari stasiun kami berjalan sekitar 5 menit untuk sampai ke masjid. Untuk area wudhu kami harus turun ke lantai bawah, yang dari luar penampakannya tidak seperti arah toilet. Dan untuk perempuan, tempat salatnya di lantai atas. Dilarang makan, minum, dan tidur di masjid ini. Ada hal menarik lainnya yaitu disediakannya pakaian tertutup, dan kain untuk penutup sebagaimana hijab yang harus digunakan pengunjung yang belum berbusana sesuai aturan islam.

52956293_412768952625037_8885050182979289088_n

Masjid Camii dari Seberang Jalan. Dok: Rahmi Rahmatillah

53160411_300345627293544_3710852040096743424_n

Baju yang harus dikenakan pengunjung bila berbusana minim. Dok: Rahmi Rahmatillah

53397856_361810197998739_3595785970701565952_n

Tangga ke bawahnya menuju toilet. Dok: Rahmi Rahmatillah

53323518_609811802815436_9092238778273103872_n

Tempat donasi dan kain penutup kepala. Dok: Rahmi Rahmatillah

Lalu berdekatan dengan masjid, ada tempat souvenir dan ruangan seperti perapian dengan bendera Turki dan Jepang yang dipasang berdampingan. Bahkan disediakan kumpulan doa dalam bahasa Inggris, Arab, Turki dan Jepang. Dan ada kartu pos cantik ala masjid Camii di tempat souvenir ini. Alhamdulillah, semoga bisa kembali ke tempat ini lagi nantinya.

52918142_818296438503414_4042254843392294912_n

Masih di ruang souvenir. Dok: Rahmi Rahmatillah

53192456_372773709985330_734663690808197120_n

Bendera Jepang-Turki. Dok: Rahmi Rahmatillah

53531860_291199024908717_705245402508558336_n

Ruang perapian ala Turki di ruang souvenir. Dok: Rahmi Rahmatillah

Menjelajah Yufuin Floral Village: The England Atmosphere Hidden in Japan

Bismillahirrahmanirrahiim…

Kali ini saya ingin berbagi kisah perjalanan ke salah satu tempat keren di daerah Yufuin, Oita. Ya, sebelum saya pulang ke Indonesia saya menjelajah daerah Kyushu menggunakan Kyushu JR Pass untuk bisa pergi ke beberapa tempat di area Kyushu dengan biaya transportasi lebih murah. Dan kali ini, saya ingin bercerita tentang Yufuin Floral Village. Sebuah desa dengan atmosfer bernuansa Inggris. Ketika berada di sini, kita berasa masuk di negeri dongeng Inggris seperti Peter Rabbit, Kiki’s bakery, dll.

W7X394dx

Yufuin Floral Village

Di manakah letaknya tempat cantik ini?

Letaknya yaitu di 湯布院町川上1503-3 (Yufuin machi) Buka dari Senin-Minggu dari jam 09.30-17.30 JST. Tepatnya Yufuin ini di daerah Oita.

Bagaimana Caranya Menuju ke Sana?

Dari Fukuoka (Hakata eki) kita harus menggunakan kereta ke arah Oita. Saat itu agar lebih murah, adik menyarankan untuk membeli JR Kyushu Rail Pass. Caranya mudah, tinggal beli di eki. Khusus untuk pelajar dan para pemegang visa turis, Sehingga saat itu saya dan adik serta mama, bisa membeli JR Kyushu rail pass ini.

Sementara untuk Afnan belum perlu karena masih berusia 2 tahun. Jika mempunyai tiket ini, kita bisa menggunakannya sepuasnya di area Kyushu selama 3 atau 5 hari, tergantung pilihan tiket kita saat membeli. Kami memutuskan untuk memilih tipe yang 3 hari, karena kemungkinan bisa berjalan-jalan sebelum pulang di 3 hari tersebut. Dan kami hanya memilih jenis tiket untuk Kyushu bagian utara saja seharga JPY 8500 atau sekitar Rp 900.000 an. Karena akan digunakan ke Mojiko, Yufuin, Huis Ten Bosch, dan di daerah sekitaran Fukuoka.

DSCF3396

Kursi di Kereta Sonic yang Harus Kami Putar Arahnya

Setelah membeli tiket tersebut, kami tinggal naik kereta. Saat itu dari Kyushukodaimae eki, stasiun terdekat dari universitas dan apato adik, kami menggunakan kereta lokal ke Kokura, dan jenis keretanya mirip sonic yang cepat. Di Kokura, kami harus membalikkan arah kursi sendiri. Baru setelah itu perjalanan panjang hingga ke Oita. Di Beppu, Oita kami berpindah ke kereta yang lebih kecil yaitu kereta lokal ke Yufuin. Sepanjang perjalanan, suasana pedesaan banyak kami temui. Banyak stasiun kecil juga yang terlihat kuno, namun antik. Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya kami sampai di Yufuin. Ternyata ada kereta antik mahal yang bisa kita gunakan juga ke Yufuin ini. Namun memang harus bayar lagi, karena tidak termasuk di tiket JR Kyushu rail pass.

Dan inilah Yufuin…

X5QenMclbd_zboBd5Tt9jQhZdqNd-RLv

Cantik

Unik

Antik…

Yuk, yang ada rencana ke Jepang. Singgah di Yufuin ini…

 

 

Perjalanan Singkat ke Baitullah: Anugerah dan Kontemplasi Kehidupan

Bismillahirrahmanirrahiim….

Mama saya sering bercerita tidak pernah merasa cemburu dengan kisah perjalanan orang-orang yang pergi ke Eropa, jalan-jalan ke Jepang, atau menghabiskan uang di Amerika. Tapi mama selalu merasa cemburu jika ada yang baru pulang dari tanah haram. Sebegitu cintakkah orang-orang pada Rabb-Nya, sehingga mama saya sampai merasa seperti itu? Bahkan banyak para tukang dagang yang penghasilannya pas-pasan, seperti mati-matian menyisihkan uangnya hanya agar bisa menyempurnakan rukun islamnya. Mengapa? Selalu saya bertanya seperti itu, sampai saya akhirnya tersadar.

IMG_9366

Di halaman masjid Nabawi. Dok: pribadi

Ternyata memang benar. Perjalanan ke baitullah, yang saya dan suami rasakan di tahun 2018 lalu, singkat namun selalu terkenang. Bahkan diri ini selalu berdoa agar bisa kembali ke sana, memperbaiki setiap niatan yang kurang, memperbaiki setiap rangkaian manasik yang masih fasik. Ya Rabb, 20 hari di Tanah haram ternyata sangat sebentar. Hamba menyesal karena masih belum bisa menghindari rasa keluh kesah, amarah, dan gundah. Masih banyak hal duniawi yang memalingkan diri, di saat seharusnya khusuk beribadah nafsi.

Semoga ada kesempatan lagi untuk diri ini kembali menjadi tamu-Mu, Ya Rabb. Sampai saat itu tiba, in sya Allah setiap hal yang pernah saya jalani di sana akan menjadi kontemplasi diri untuk terus berishlah memperbaiki diri. Hamba sangat bersyukur di tahun 2018, penuh anugerah dan nikmat yang Karuniakan.

Kisah yang sempat saya bagikan bersama Mba Nurin Ainistikmalia di #CollaborativeBlogging semoga bermanfaat untuk semuanya yang membaca dan mencari info terkait haji. Berikut daftar tulisan terkait kisah saya selama collaborative blogging:

1. Prosedur Berangkat Haji dari Jepang: Apa yang harus Dipersiapkan?

2. Mengurus Vaksin Meningitis dan Influenza untuk Berhaji dari Jepang: Ribet Gak?

3. Galau Takut Haid Saat Pergi Haji dari Jepang, Pil Haid Perlukah?

4. Satu Kisah di Masjidil Haram: Saat Menanti Ismail Gate

5. Berumrah dan Haji dari Jepang, Selalu Terkenang

6. Akibat Tersasar, Akhirnya Bekunjung ke Perpustakaan di Masjidil Haram

7. Satu Kisah di Masjidil Haram: Masmuki?

8. Prosesi Haji: Mina, Arafah, Muzdalifah

9. Menjadi Lidah Arab Selama di Mekkah, Kembali Meng-Indonesia di Madinah

10. Refleksi Haji: Meneladani Pengorbanan Seorang Ibu

11. Mengenang Perjuangan Rasul: Berkunjung ke Gua Hira, Jabal Nur, dan Jabal Rahmah

12. Tempat Belanja di Mekkah dan Madinah

13. Madinah dan Pengalaman Masuk Taman Surga Raudhoh

14. Sightseeing di Madinah: Masjid Kuba, Kebun Kurma, Masjid Qiblatain, dan Jabal Uhud

Yuk, kita intip tulisan penutup Mba Nurin di sini.

Sampai berjumpa di kisah lainnya 🙂

Pengalaman Mengurus Visa dan Transit di Colombo, Sri Lanka

Bismillahirrahmanirrahiim…

Sri Lanka, Colombo? Membayangkan untuk menginjak negara ini saja tidak pernah. Tapi Qodarullah, alhamdulillah saat tahun 2018 lalu saya dan suami berkesempatan menginjakkan kaki ke negara mutiara samudera Hindia ini. Negara yang berdekatan dengan India ini memang memiliki daya pesona tersendiri, terutama untuk turis dari Amerika dan Eropa. Ada banyak bangunan bergaya Eropa yang bisa kita temui di sana. Karena memang negara ini dulunya dijajah oleh beberapa negara Eropa.

Saat kita berkunjung ke Sri Lanka, akan banyak kita temui vihara dan Masjid. Pemandangan di ibukota sangat mirip Jakarta tempo dulu. Ada banyak bajaj. Agama terbesar di sini memang budha, dan ada juga yang beragama islam. Orang-orang di sini sangat mirip dengan orang India. Bahasa yang digunakan pun ada bahasa tamil, simhala, dan beberapa mengerti bahasa Inggris. Nah, mata uangnya adalah rupee sri lanka. Tapi beberapa produk dijual dalam dollar juga loh.

Saat berhaji kemarin dari Jepang, alhamdulillah kami diberikan kesempatan untuk singgah dan keluar dari bandara Sri Lanka. Sehingga bisa menelusuri berbagai ikon di kota Colombo ini. Rombongan HIS Japan yang kami pilih adalah rombongan yang menggunakan Sri Lanka airlines. Lalu bagaimana prosedur untuk bisa mendapatkan visa Sri Lanka? Jawabannya sangat mudah.

Mengurus Visa Sri Lanka

Visa Sri lanka diurus serba online. Kita tinggal masuk ke alamat web ini https://www.eta.gov.lk/slvisa/visainfo/center.jsp?locale=en_US

6809123748_b04b456994

Sumber: ETA

Yang harus kita perhatikan adalah jenis visanya. Visa transit yang 0 dollar hanya bisa digunakan untuk transit di bandara, tanpa keluar dari bandara. Lama tidak mengurus visanya? Jawabannya tidak. Setelah semua form kita isi, akan ada email masuk sebagai tanda bukti kita sudah mengurus visa. NANTI tinggal kita bawa saat melewati imigrasi di Sri Lanka.

Sekadar cerita. Saat itu saya dan suami tidak tahu kalau visa transit tidak bisa digunakan untuk keluar bandara. Setelah mengurusnya kami baru tahu, seharusnya jenis visa yang kami pilih adalah visa multiple entry. karena kami akan menginap di hotel Colombo yang sudah disediakan pihak HIS. Kami berusaha untuk mengurusnya kembali namun tidak bisa. Karena 1 nomor paspor untuk pengurusan visa, tidak bisa digunakan lagi. Namun alhamdulillah saat di imigrasi kami lolos. Begitupun saat pulang menuju Jepang. Alhamdulillah lancar. Namun ada beberapa anggota rombongan yang tidak diizinkan keluar bandara, sehingga terpaksa menginap di dalam bandara.

Bagaimana Cara Menukar Uang ke Rupee Srilanka?

Awalnya saya dan suami tidak berencana menukar uang. NAMUN kami pikir akhirnya perlu. Pesawat dari Colombo baru akan terbang sekitar sore. Sedangkan kami meninggalkan hotel sebelum makan siang. Sehingga perlu uang dalam bentuk RS jika sewaktu-waktu kami akan jajan. Dan saya sudah mengincar kelapa muda yang ada di pinggir jalan. Secara di Jepang agak susah kalau mau minum kelapa muda asli.

Kami tukar uang di pintu keluar bandara. Akan ada banyak money changer di bandara Internasional Bandaranaike ini. Jadi jangan khawatir. Dan kurs nya pun lumayan kok.

Kami Menginap di Sini…

Saat di Colombo, kami menginap di Grand Oriental Hotel (GOH) foto paling atas, saat transit menuju Jeddah. Hotel dengan gaya tua desain Eropa ini terletak di pusat kota. Dekat dengan kantor polisi dan pelabuhan. Juga dekat dengan masjid merah Colombo. Masya Allah. Pulangnya kami menginap di hotel Ramada Katunayake, Colombo. Bisa dibilang biaya hidup di negara ini masih tergolong murah.

Ini Dia Beberapa Tempat yang Kami Kunjungi…

Bank Cina, Sri Lanka Customs Head Quarters, Masjid Merah (Jami-Ul-Alfar), Kuil Hindu Merah Meriah, dan menikmati kelapa muda sampai 2 kali loh 😀

Negara ini memang sangat tenang dan sepi…