Cerpen

TELEPORTER KEY

Oleh: Novianti Islahiah

Bandung, 20 September 2011 Langit di September siang ini menampakkan wajah muram. Seolah menantang setiap insan yang memberanikan diri ke luar. Bagi yang kalah telak, insan itu akan memilih berdiam diri di rumah, dengan melakukan hibernasi berselimutkan kain tebal. Namun bagi sosok yang menyukai tantangan, dia akan memberanikan diri ke luar. Meskipun harus menantang hujan ataupun badai. Diantara sosok yang berani tadi terlihat seorang gadis kecil dengan ekor kuda di rambutnya. Kalau diterka, mungkin usianya berkisar kelas 6 SD. Tapi siapa sangka gadis kecil itu adalah siswa SMA kelas 1. Ya, mungkin karena badannya yang terlampau kecil. Kurus kering menahan rasa lapar dan capai. Gadis berekor kuda itu tinggal bersama ibu yang cukup umur dan dua saudara perempuannya. Mereka berempat tinggal di sebuah gubuk kecil, dengan pemandangan sekitar berupa rumah megah. Siapa sangka, di sekitar kompleks itu ada tempat kumuh yang cukup ironis jadinya bila kita memandang ke arahnya. Sudah sekitar seminggu ini hujan memang tidaak henti-henti turun. Berarti sudah hampir satu minggu ini pula Ibu selalu merengek manja meminta selimut dan jaket hangat. Pasalnya selimut yang ada sudah tidak alayak pakai. Jaket yang sering dipakai bolong di sana sini, kadar kehangatan berkurang. Bagi Alika, gadis dengan rambut ekor kuda tadi, mana tega melihat kondisi ibunya kedinginan seperti itu. Ayah? Sudah sepuluh tahun ayahnya meninggal. Terpaksa Alika lah yang menanggung kewajiban untuk menfkahi keluarganya dengan menjadi seorang pemulung. Ibunya sudah terlampau tua. Kalau harus bekerja mengais-ngais sampah takutnya kecapaian. Dua saudaranya yang lain masih sangat kecil. Pagi ini dengan penuh semangat Alika berangkat. Kepalanya tertutup kresek hitam untuk sekadar menutupi dari rasa pusing akibat air hujan yang pasti mengguyur rambutnya. Digendongnya tas lusuh yang senantiasa menemaninya sejak SD itu. Kegiatan ini rutin dilakukannya. Biasa usai salat subuh langsung berangkat mencari sampah botol plastik. Baru Alika berangkat ke sekolah. “Bu, Alika berangkat dulu. Doakan ya, mudah-mudahan hari ini banyak botol yang bisa dijual. Doakan juga mudah-mudahan di sekolah Alika tetap jadi juara.”Alika mencium punggung tangan ibunya. “Tanpa diminta pun Ibu pasti mendoakan, Lik.” Dielusnya kepala Alika. Alika pun pergi dengan langkah yang penuh semangat.

***

Akhirnya sampai juga Alika di tempat tujuan. Masih terlihat sepi memang. Karena kebanyakan pemulung yang lain baru keluar sekitar jam enam pagi. Itulah yang membuat Alika terinspirasi untuk berangkat lebih pagi lagi. Hari ini harapan Alika untuk mendapatkan banyak botol sangat besar. Selimut dan jaket untuk ibu sudah terbayang di benaknya. Dikaisnya tumpukan sampah yang cukup menjijikan tadi. Daerah Pondok Hijau memang bukan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sampah. Tapi entah mengapa, sampah di sini memang selalu menggunung layaknya gunung sampah. Namun bagi para pemulung ini adalah harta yang luar biasa berharga. Dikaisnya tumpukan sampah yang cukup banyak. Biasanya botol-botol minuman itu menyelip di sana sini. Dengan bantuan sebuah pengaduk, dibalikkannya gundukan tadi. Alika melihat seberkas sinar yang cukup terang di balik gundukan tadi. Rasa kaget seketika menyeruak diri Alika. “Ya Allah, apa itu?” Alika beranjak menghampiri. Seolah lupa dengan tongkat pengais dan tas lusuh yang dipakai, Alika seolah terhipnotis. “Teleporter…”Sesaat setelah mengucapkan kata-kata tadi, Alika seolah tertarik secara paksa ke dalamnya. Sekelilingnya terasa hampa. Tapi sinar yang begitu terang sangat kentara.

***

Bandung, 20 September 2927 Alika sampai di sebuah kota yang baginya begitu asing. Baru saja tadi dia mengais sampah, sekarang di sekelilingnya berdiri gedung-gedung yang sangat megah. Di atas langit berseliweran pesawat-pesawat yang begitu asing baginya. Pakaian orang-orang nya begitu keren. Seperti yang biasa lihat di film astro boy. Di samping gedung tinggi tadi terlihat seperti kafe yang luar biasa. Untuk makan orang-orang tidak perlu menggunakan tangan untuk meyuap, dan mulut untuk mengunyah. Tinggal hisapkan mencium cairan seperti ekstrak dari makanan, orang-orang merasa kenyang. Yang lebih mengagetkan, orang-orang tidak menggunakan handphone untuk berkomunikasi. Di tangannya hanya tergenggam micro memory, yang bukan berfungsi sebagai alat komunikasi saja. Tapi sebagai pendeteksi mimpi, kriminalitas, dan teleportasi. Makanya pemandangan yang sekarang dilihatnya begitu mengagumkan. Tidak aad kemacetan. “Mungkin ini mimpi.” Gumam Alika sesaat sebelum seseorang menyadarkannya. “Hai, what’s up, Sis? Gadis cantik dengan topi wol merah menyadarkan Alika dari lamunannya. “Aku…Hm, aku Alika.” Alika menyodorkan tangannya. “Entah Kau percaya atau tidak, sewaktu aku pergi mencari botol minum, aku tersedot oleh sebuah sinar yang…Entahlah.” Alika sulit menjelaskan. “Aha, biar kutebak. Teleporter Key maksudmu?” Gadis bertopi wol tadi tersenyum manis. “Yah. Bisakah Kau jelaskan sesuatu? Dan ini dimana?” Alika kembali ketakutan. “Ok. Tapi lebih baik kita singgah ke kubah itu.” Entah terhipnotis atau bagaimana, Alika mengikuti gadis tadi yang dia ketahui bernama Jeni. Alika merasa Jeni cukup bisa dipercayai. Melihat sorot matanya yang tidak main-main, Alika percaya Jeni adalah orang baik. “Kau mungkin melihat dari tadi. Teknologi yang terlihat tadi begitu canggih. Itu baru sebagian. Intinya sekarang adalah zaman serba canggih. Sekarang, hari ini adalah tanggal 20 September 2927.” “Astaghfirullah” Alika pucat pasi terkaget. Hampir satu abad dia melewati waktu, dan sampai di zaman ini. “Mungkin kamu kaget. Teleporter key yang tadi aku ceritakan akhir-akhir ini memang sengaja diaktifkan dan memanggil beberapa orang terpilih untuk menuntaskan kasus yang cukup pelik kami hadapi sekarang. Teleporter yang kami gunakan sekarang adalah teleporter tercanggih. Dengan melawan prinsip ketidakpastian Heisenberg dan mengatur tata ulang konfigurasi atom, akhirnya para ilmuwan mampu menciptakan teleport yang super canggih. Manusia pun bisa ditransfer ke tempat yang diinginkan, tanpa kekurangan bagian tubuhnya.” “Ya Allah, aku cukup pusing dengan penjelasan tadi. Lalu maksudnya, kenapa harus aku? Lalu bagaimana caranya aku kembali ke zamanku? Aku masih memiliki mimpi untuk membeli selimut dan jaket untuk Ibu. Berarti, aku terdampar ke sini. Lalu Ibu bagaimana?” Kembali Jeni hanya tersenyum. “Kamu berarti termasuk salah seorang yang terpilih. Dan untuk putaran waktu yang ada, kamu tidak usah khawatir. Meskipun yang kamu rasakan di sini adalah seharian. Tapi sebenarnya waktu yang berlangsung di zamanmu hanya beberapa menit. Dan masalah kembali laagi ke zamanmu, tidak ada yang mustahil. Meskipun kami hidup di zaman serba canggih, kami masih sadar dan percaya dengan agama dan Tuhan. Maka jika kamu ada di sini dan terpilih, berarti tidak semata-mata kebetulan. Tapi Allah memang sengaja mengirimmu untuk menuntaskan masalah yang ada.” “Lalu apa masalah pelik yang terjadi itu?”

***

Berdasarkan penjelasan dari jeni. Tahun 2927 ini, entah mengapa seperti terjadi kekacauan sistem. Seolah ada yang sengaja menciptakan situasi dan kondisi seperti itu. Beberapa bulan ke belakang, lahan pertanian yang pemerintah miliki seperti terkena hama yang begitu susah untuk dikalahkan. Mungkin di zaman Alika hama seperti tikus atau wereng sudah biasa. Terlihat. Tapi pasalnya adalah tanpa ada hama apapun, setiap yang mereka tanam baik di ladang ataupun tanah tidak pernah menghasilkan produk apapun. Akhirnya banyak para petani modern untuk mengakhiri pekerjaannya. Banyak pula anak-anak dan pelajar diminta untuk tidak mengambil keahlian di bidang tersebut. Sekilas mungkin tidak masalah, karena mereka bisa menikmati makan dan minum berupa ekstrak yang dapat dihisap. Namun kadangkala ketika orang-orang sudah merindukan untuk mengunyah dan memakan makanan normal, akan sulit ditahan. Banyak yang mengamuk, menghancurkan gedung, dan sebagainya. Para ilmuwan pun telah diturunkan untuk mengatasi masalah tersebut. “Entahlah, para ilmuwan sudah menyerah. Mereka berpikir mungkin ilmuwan zaman dahulu akan lebih mengetahui hal ini. Maklum, ilmuwan di zaman sekarang sudah lama tidak bergelut dengan riset langsung. Kebanyakan dari mereka melakukan riset digital. Semacam riset dengan menggunakan teknologi virtual.” Tutur jeni panjang. “Kalau begitu, bagaimana kalau kita langsung melihat kondisinya?” Tanpa basa basi Alika mengajak Jeni.

***

“Sudah kuduga.” Gumam Alika. “Maksudnya?” Jeni terheran-heran. “Tanah ini berkurang kesuburannya. Keasaman tanah ini cukup sangat besar. Tapi, mana mungkin kalian tidak mengetahui tentang hal ini?” “Perpustakaan sempat terbakar. Koleksi buku dari abad 21 banyak yang hilang dan terbakar. Sementara pada tahun berikutnya terjadi kekacauan sistem digital. Jadi bagaimana caranya supaya kondisi tanah ini bisa kembali?”Jeni bertanya lanjut. “Kita harus menetralkannya dengan menambahkan basa seperti kapur. Apakah di kementrian kalian memiliki kapur dolomit yang mengandung CaCO3?” “Ah iya. Di Akademik ada beberapa potong kapur yang biasa digunakan jika ingin menulis.” Jeni tersenyum. “Kalau begitu akan aku ambil.” Segera Jeni berlari menuju akademik yang dimaksud. Alika berpikir untung sekali dia belajar pernah belajar materi tadi. Dia bisa dengan segera mengetahui kondisi tanah tadi melalui bunga Hydrangea yang dia temukan tumbuh di tanah tadi. Warna bunga yang dia lihat adalah sangat biru. Yang mengindikasikan tanah ini begitu asam. Maka tingkat kesuburannya pun berkurang. Namun yang masih mengganjal baginya adalah, tingkat keasaman tanah ini seperti ada yang sengaja membuatnya. Namun untuk keperluan apa? Jeni kembali dengan membawa banyak kapur di tangannya. Atas petunjuk Alika, ditaburkannya kapur tadi. Setelah menggali banyak informasi dari Jeni, Alika yakin memang ada sengaja yang membuat kondisi tanah seperti itu. Keyakinan Alika menjurus pada seseorang yang mencalonkan diri sebagai pengatur kebijakan, mungkin di zaman kita disebut presiden. Akhirnya atas beberapa dugaan dan kecurigaan yang menjurus pada orang tersebut, memang terbukti orang itu yang menjadikan kawasan pertanian tidak subur. Dengan maksud pengalihan lahan pertanian menjadi kawasan teknologi digital kembali. Hal itu bertentangan dengan hukum yang berlaku saat itu. Karena tindakannya sudah keterlaluan. Mengubah lahan-lahan untuk tujuan pribadi dengan alasan yang tidak rasional. Apalagi mengubah citra Negara Indonesia yang merupakan Negara agraris. Makanya Mr. John, begitu panggilannya, dicabut hak dipilhnya. Dan statusnya sekarang berubah menjadi tahanan Negara.

***

“ Terimakasih banyak. Berkat bantuanmu, akhirnya kawasan pertanian bisa kembali seperti semula. Dan kamu bisa menemukan siapa penyebabnya. Tapi yang aku heran, mengapa kamu langsung yakin Mr. John adalah dalang dari semua itu?” Belum sempat Alika menjelaskan, teleporter key bekerja kembali. Alika seakan tersedot masuk ke dalam cahaya yang terang lagi. “Alhamdulillah, akhirnya aku sampai kembali di zaman ini. Zaman yang bagiku penuh kenikmatan.” Di sekitarnya terlihat banyak gundukan sampah. Teleporter yang terbuka tadi kembali menutup. Biarlah rahasia mengapa dia bisa menebak dalang kejahatan dia simpan. Namun yang jelas baginya, dia yakin ilmu pengetahuan sangat bermanfaat. Sesuatu yang mungkin dianggap sebagai khayalan saat ini, bisa jadi kenyataan esok hari. Namun siapa sangka, prinsip teleporter sebenarnya sudah ada jauh sebelum para ilmuwan menemukan. Alika teringat cerita Nabi Sulaiman dan ratu Bilqis yang selalu diceritakan Ibunya. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” [An-Naml : 40]. “Ibu…Hm, memang Ibu adalah ibu yang luar biasa.” Dengan penuh semangat kembali Alika mengumpulkan botol itu. Dia teringat jaket dan selimut harapan ibunya. Ah, andai ada teknologi canggih yang bisa dia ciptakan untuk membuat penghangat di gubuknya. Namun Alika yakin teknologi itu pasti ada. Namun kekuatan cinta dan kasih saying keluarganya akan senantiasa menghangatkan gubuk mungilnya itu. Pasti.

***

Biodata Nama : Novianti Islahiah No. HP : 085722758996/ 085795868285 Sekolah : Universitas Pendidikan Indonesia e-mail : avenasativa_2927@yahoo.co.id Diikutsertakan dalam lomba cerpen sains UI 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s