Puisi

Bianglala Panah Surga

Kutahu tak ada jelaga dari emas
Tapi kuingin menaburnya di depan-Mu
Hingga kau kabulkan semua pintaku
Dan kudapat membeli-Mu
Kirimkan aku panah dari surga
Biar…biar tertancap di dada
Daripada kulihat bianglala berputar
Dan berhenti saat kubuka mata
Buatkan aku bianglala

Yang kuat bagai jelai
Yang indah bagai berlian
Yang bisa kunaiki setiap saat
Berputar tak kendali
Tak berhenti
Walau kutahu
Waktu untukku
Tidak cukup
Tapi izinkan
Jantungku berdetak mendengar
Putaran bianglala kedua

 Sukabumi, 31 Oktober 2008        

Sore hari saat memandang lukisan langit-Mu

Setangkai Umur Padi

Masaku telah beranjak
Lamat-lamat dari kikir menuju pikir
Aku tak habis pikir
Bila kontrak duniaku habis
Dan di nirwana nanti
Kau tagih sewaku
Ketika terdiam
Hidup
Di dunia-Mu

Aku tak habis pikir
Ketika Izrail menuaiku dengan kasar
Ketika Dia bertamu
Tanpa lagu tapi
Hanya diam terbisu
Aku tak habis pikir
Mengapa Kau tuai terlebih dahulu
Induk padiku yang hebat
Sementara
Tikus keparat
Hanya tertawa terbahak

Aku tak habis pikir
Mengapa aku yakin
Bertamu bertemu
Menatap-Mu
Sementara aku
Hanyalah padi
Yang tidak wangi
Tak ubah seperti
Lazuardi yang tak
Berseri
Yang tak kalah jijik
Dari
Air
Mani

 

Sukabumi, 1 November 2008

Mengingatmu lewat pusara merah 

Balam Kabut Kemala

Dari tadi kakek berkata
lentera jangan dinyalakan terus-menerus
Takut, sang raksasa kan kembali datang menjemput
Inginkan kabut semburat di hati

Kemala tak mau lagi cerah
Padahal sedari tadi sudah diasah
Sinarmu pudar tak terpancar
Layaknya bunga mekar, dan layu kemudian

Mala, k’napa jadi begini?
Tak da iblis atau syaitan yang merasuki diri
Tapi layumu pun semakin nyata
Batu kemala indah kini sirna
Terhalang sebuah balam kabut kemala

 

Sukabumi, 29 April 2008

Puisi ini ditulis untuk mengingat seorang teman yang membuat semburat cahaya menjadi batu tak berwarna

Tak Tahu

Tak Tahu

Ini di mana
Pijakanku Lepas tak bertautan
Gulana yang ada terus minta dibaca
adakah yang mampu menjawab
Adakah yang mampu tersenyum dengan tenang dihadapan Izrail
Aku tak tahu

Tempatku sangat sempit
tak ada udara ataupun ruang kosong
apakah nafas ini masih ada
atau hanya sekadar canda
atau kebohongan belaka

Beri tahu aku
jawab semua pertanyaanku
jangan-jangan bukan hanya aku
kau pun tak tahu

Sukabumi, 5 September 2008

Di saat semua sendiri

Tidak ada yang berarti selain rasa ingin tahu

Jejak Kecil Kala Gerimis

Dari tadi awan terlihat mendung
Seperti ada emosi tertahan yang ingin diluapkan
Atau mungkin awan yang sudah mulai bosan
Melihat makhluk Tuhan yang bermain tak keruan

Hati ini merasa miris
Gerimis hari ini sangat menakutkan
Mampu menusuk tulang rusuk
Mampu mendirikan bulu kuduk
Apa semua laku manusia harus ditahan
Sedangkan alam menginginkan manusia senantiasa
Menbuat jejak amal
Meneruskan jejak perjuangan
Meski hujan atau badai
Dari jejak kecillah awal keberhasilan

Sukabumi, 6 November 2008

Jangan jadikan hujan sebagai penghalang dalam meraih keberhasilan

 

Pampat Gurit Sungai

Kapan lagi gelatik menari

Dengan ujung jari lentik

Ketika sangkar mulai membungkam

Daya upaya telah hilang

Menyaksikan kelelahan kehidupan

Setelah sekian lama terbang

Mengibaskan mimpi dan harapan

Namun akhirnya bungkam

Karena sebuah tembakan

Kapan lagi gelatik akan bercermin

Melihat rupa yang tercermin

Di beningnya sungai malam

Pada malam yang semakin kelam

Yang ada hanyalah kelelahan

Meski dia tahu

Sayapnya mampu terangkat dan terkibas

Namun sekali lagi

Dia tidak ingin terjerembam

Karena baginya biarkan mimpi terbang

Mengalir

Bersama

Sungai Harapan

Saat melaju dengan kereta tak berkuda di Sukabumi sore hari…tanggalnya lupa.

Suatu Hari di Partere  

Dari puncak bukit kami datang

Dengan senyum manis terkembang

Wajah penat berbalut peluh pekat

Warnai rupa yang tak berupa lagi

Sesekali keluh mengaduh

Isyarat iba akan sang pejalan kaki

Yang terasa lecet tak berperi

Niat tulus untuk sang penguasa

Dengan sedikit asa kami mengiba

Di gedung keramat nan suci

Bertemu orang nomor satu di universitas ini

Tolong…

Beri kami keringanan

Untuk menempuh pendidikan

Bumi Siliwangi, 2 Agustus 2008

 

Untuk Tuan Ansor

Anda bukan bapak saya

Tapi anda lebih baik daripada saudara bapak

Amda membuat mimpi saya jadi nyata

Meski kadang rasa khawatir terus melanda

 

Saya selalu yakin

Anda orang baik

Yang mampu mengurus keluarga

Tapi terus bisa menolong insan sesama

 

Detik ini saya takut

Anda lupa dengan janji

Takut…

Kehilangan bapak

Takut…

Anda dicerca

 Pondok Q-Ta, 15 Januari 2009

 

 

 


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s