Essay dan Artikel

 LOMBA ANNIDA-ONLINE “Saya Punya MIMPI SEJUTA DOLAR”

Yatim pun Berhak Bermimpi

“Apapun yang Anda lakukan, atau ingin Anda lakukan, mulailah. Keberanian memiliki kecerdasan, kekuatan, dan keajaiban di dalamnya. (Goethe)”

            Banyak yang berpikir seorang yatim tidaklah mampu untuk berusaha apapun. Ayah meninggal, yang tergambar pastilah kehidupan yang menyedihkan dan tidak menentu. Mungkin banyak yatim yang berpikir bisa tidak saya melanjutkan sekolah? Mungkin banyak pula yang berpikir mending saya kerja saja. Toh garmen-garmen di kota maupun kabupaten sekarang makin marak. Hal-hal semacam ini makin menguatkan pikiran para yatim untuk berpikir lebih jauh ketika dia akan menempuh suatu pendidikan. Namun bukankah bermimpi itu gratis? Tidak ada larangan ataupun undang-undang yang mengatur dan melarang bahwa bermimpi itu dilarang untuk seorang yatim. Lalu apa yang ditakutkan seorang yatim?

Terinspirasi dari pepatah luar biasa yang dikemukakan Goethe, beranilah untuk bermimpi. Dari sebuah mimpi mengandung sebuah sugesti yang mampu menggerakan aksi diri. Karena hal tersebut saya berani menyatakan, saya bisa kuliah. Meskipun di tingkat akhir masa-masa pasca UAN, belum terbayang sekalipun saya bisa masuk kuliah di Universitas yang saya idamkan sejak kecil, UPI. Namun ternyata impian bukan hanya sekadar impian. Pada tahun 2012 nanti, saya yakin akan mimpi saya untuk mengenakan toga dan berdiri paling depan untuk mewakili teman-teman wisudawan lainnya.

UPI, adalah impian saya sejak kecil. Universitas Pendidikan yang sering diceritakan Bapak. Di saat itu pula saya bermimpi, saya akan menjadi bagian dari UPI dan ikut belajar di sana. Terbukti meskipun biaya pada waktu itu tidak ada, tapi Sang pemilik skenario Allah swt memberikan kado terindahnya melalui keluarga di sekolah. Dengan sebuah tulisan yang mendapat penghargaan, ternyata kado yang diberikan jauh daripada tulisan tersebut. Hanya karena mimpi.

Namun sebuah mimpi tidaklah cukup berhenti. Saat sebuah impian tercapai, impian lain pun dinyatakan. Tahun 2012, tahun dimana aku akan lulus dari Universitas tercinta. Banyak yang bertanya, apa impianmu setelah lulus? Kembali teringat dengan impian masa kecil. Selalu ketika mendengar nama Jerman, entah mengapa selalu ada keinginan untuk pergi ke sana. Keinginan untuk belajar dan merasakan kondisi empat musim, terutama musim semi. Keinginan untuk singgah dan merasakan pendidikan di sana. Banyak orang yang bercerita pendidikan di sana murah. Budaya disiplinnya tinggi. Kembali aku bermimpi, kapan Indonesia bisa seperti itu? Namun saya yakin Indonesia bisa.

Lalu apa cukup dengan bermimpi? Saya yakin tidak. Harus ada aksi yang nyata yang bisa dilakukan. Saya yakin, masuk Universitas pendidikan bukan semata-mata karena skenario Allah swt. Namun pastilah ada sebuah amanah yang bisa dan harus saya tunaikan di dalamnya. Berkaitan dengan profesi keilmuan, pendidkikan adalah salah satu untuk mengubah peradaban. Pendidikan adalah salah satu untuk mewujudkan kondisi yang lebih baik. Oleh karena itu dengan tegas bila ditanya, apa kamu mempunyai mimpi? Ya, mimpi yang luar biasa besar.

Banyak mimpi yang ingin dicapai pada tahun tersebut. Lulus dengan nilai maksimal dan memberikan kepuasan untuk Ibu, almarhum Bapak, keluarga, dan guru-guru yang senantiasa mendukung. Lulus dengan ilmu yang bermanfaat dan siap diamalkan, sehingga dapat memberikan keberkahan kepada orang lain. Mimpi untuk mewujudkan Indonesia agar lebih baik lagi melalui bidang pendidikan. Mimpi untuk pergi menimba ilmu di Jerman. Saya yakin mimpi yang ditulis dan ditekadkan hari ini, pelan-pelan akan dicoret satu per satu karena sudah terwujud. Bila orang bertanya lagi siapa kamu berani bermimpi macam-macam? Dengan tegas akan kujawab pula, “Ya saya yatim. Yatim pun berhak bermimpi.”

Muharram: Momentum Refleksi untuk Metamorfosis Diri

            Mungkin masih teringat di benak kita mengenai peristiwa yang mengharuskan Rasulullah saw. Berserta para sahabat untuk pindah dari Mekkah ke Madinah. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan hijrah, dan merupakan cikal bakal dikenalnya istilah tahun baru islam (hijriah) yang diabadikan oleh Umar bin Khatab RA. Sehingga sampai saat ini, bila kalender hijriah telah menunjukkan tanggal 1 Muharram, maka tandanya pergantian tahun baru islam pun akan segera berlangsung.

Peristiwa sejarah ini pun tidak berarti sekadar pergantian tahun. Namun di dalamnya memiliki sebuah makna penting yang sudah seharusnya sebagai muslim kita dapat menyadarinya. Dulu mungkin momentum Muharram yang identik dengan kata hijrah,  memperlihatkan makna hijrah yang berarti berpindah tempat. Namun pada hakekatnya hijrah yang dilangsungkan Rasulullah waktu itu merupakan suatu keputusan yang diambil agar dakwah islam tetap dapat berlangsung. Dengan kata lain hijrah tersebut dimaksudkan untuk hasil yang lebih baik lagi. Karena kita tahu berdasarkan shirah-shirah yang ada, disebutkan bahwa pada masa itu Mekkah sudah tidak aman lagi.

Lalu bila kita korelasikan dengan makna hijrah di zaman sekarang, apakah berarti di setiap tanggal 1 Muharram ini kita sebagai bangsa Indonesia harus berbondong-bondong pindah tempat dari Indonesia ke Negara lain? Tidak demikian halnya ketika akan memaknai momen hijrah dalam tahun baru 1 Muharram ini. Coba kita renungkan salah satu lagu yang dipopulerkan oleh Mbak Asma Nadia berikut:

Telah kuputuskan untuk slalu taat

Hanya satu kepada Allah

Bukan pada dunia

Yang membuatku lupa

Dan terjerat nafsu durjana

Sungguh aku ingin masuk surga

Jadinya kuingin insyaf saja

 

Salatku jadi rajin

Nyontek pun kutinggalkan

Mengkaji qur’an kegemaranku

Lalu doi ku lari

Semua kawanku pergi

Setidaknya dari syair lagu tersebut, kita dapat mengambil makna bahwa hijrah tidak harus berpindah tempat. Namun kita dapat memaknainya dengan berubah ke arah yang lebih baik lagi. Layaknya perubahan ulat menjadi kupu-kupu yang sering disebut sebagai metamorfosis. Begitupun dengan konsekuensi hijrah yang diambil. Lagi-lagi dari lagu tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa hijrah mengandung banyak konsekuensi. Kita dituntut untuk berkorban dalam segala hal. Sebut saja ketika kita memutuskan untuk menjadi seorang muslim yang kaffah dari yang tadinya hobi pacaran dan nagkring nggak karuan, ketika memutuskan untuk hijrah bermetamorfosis diri pastilah akan dijauhi teman-teman yang tidak suka dengan hal tersebut. Sehingga memang, hijrah dari sebuah kemunkaran menuju kebaikan menuntut pengorbanan kita dalam segala hal. Seperti halnya Rasulullah dan para sahabat waktu itu, pengorbanan baik tenaga, harta, dan pikiran.

Oleh karena itu, hijrah dan dakwah sejatinya memiliki hubungan yang sangat kuat. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Tirmidzi, Rasulullah saw bersabda: “Apabila umatku sudah mengagung-agungkan kehidupan dunia (menjadikan materi, jabatan, dan kedudukan sebagai tujuan perjuangannya), maka akan diangkat/dicabut keagungan ajaran Islam. Dan apabila umatku sudah meninggalkan kegiatan amar ma’ruf nahi munkar (meninggalkan kegiatan dakwah dalam berbagai aspek kehidupan), maka umatku akan terhalang untuk mendapatkan keberkahan wahyu (keberkahan dari Allah swt)”.

Dalam hadis riwayat Imam Bazzar, Rasulullah saw memberikan dua alternatif bagi kita semua. Pertama, aktif dalam kegiatan dakwah yang akan menghasilkan kehidupan yang sejahtera lahiriah maupun batiniah di bawah kendali kepemimpinan orang-orang yang bertakwa. Kedua, jika meninggalkannya, maka yang menjadi pemimpin yang mengendalikan kehidupan adalah orang-orang yang jahat, serta doa kaum Muslimin (yang pasif) tidak akan pernah dikabulkan oleh Allah swt.

Dari dua hadits tersebut dapat kita simpulkan bahwa hijrah di dalamnya mengandung misi dakwah. Dan dakwah yang dilakukan pun harus memiliki sebuah perencanaan yang matang. Karena sebuah pepatah yang diungkapkan Ali bin Abi Thalib ra dikatakan bahwa kebaikan yang tidak teroganisasi akan terkalahkan oleh kejahatan yang terorganisasi. Sehingga diperlukan minimal dua kekuatan agar kita dapat melangsungkan dakwah dengan baik.

Pertama, kekuatan ruhiyah. Kekuatan ini dapat dilihat dari kekuatan akidah dan ibadah kita. Seseorang yang sudah memutuskan hijrah dan berdakwah, ketika akan menyebarkan syiar dakwah nya kepada orang lain akan lebih mempan ketika dia mencontohkannya langsung dari pribadinya. Jadi tidak hanya sekadar berbicara. Dengan kekuatan ruhiyah yang luar biasa, akan berkorelasi positif terhadap tindakan yang dilakukan.

Kedua, kekuatan ekonomi. kita lebih sering melihat peminta-minta itu beragama islam. Atau yang akan membangun mesjid meminta uang di jalanan. Bila dilihat mungkin banyak yang berpikir, “Koko rang islam pada miskin ya?” Hal ini menjadi sebuah tantangan bagi kita. Di momen tahun baru ini lah momen yang sangat tepat untuk merubah hal tersebut. Sebagai seorang muslim, kita seharusnya menyadari lebih baik berusaha dengan tangan sendiri (bekerja) dibandingkan dengan meminta-minta. Sehingga seharusnya kita dapat memikirkan bagaimana caranya menciptakan lapangan pekerjaan, bukan hanya mencari pekerjaan. Hal ini pun dicontohkan Rasulullah sebagai seorang pedagang.

Sehingga seorang muslim pun akan memiliki pribadi yang utuh untuk bermetamorfosis ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu, kesadaran dalam memaknai momen tahun baru hijriah dengan cara hijrah dan dakwah saja tidak cukup. Diperlukan aksi nyata untuk memaknainya. Dan tahun baru hijriah inilah momentum yang tepat, momentum refleksi untuk metamorfosis diri. Wallahu’alam Bishawab.

 *Diikutsertakan dalam lomba Gebyar Muharram

Pembelajaran Agama dan Moralitas: Redefinisi Konsep Abstrak menjadi Bentuk Konkrit

Oleh: Novianti Islahiah

Mencari orang pintar itu mudah. Tapi mencari orang jujur itu jauh lebih sulit

            Zaman sekarang, banyak orang yang merasa takut ataupun tidak nyaman saat bepergian di malam hari, terutama menggunakan angkutan umum. Sebut saja misalnya saat pulang dari terminal Leuwi panjang, untuk menuju kampus UPI di malam hari. Jika tidak menggunakan mobil pribadi, pilihannya adalah menggunakan taksi ataupun angkot alias angkutan umum. Kondisi ketakutan tersebut menuntut kita menjadi orang yang selalu curiga terhadap orang lain, bahkan terhadap orang baik sekalipun. Perasaan curiga bahwa si A adalah seorang pencopet, pencuri, ataupun jenis penjahat lainnya. Kasus yang lain adalah jika kita melihat berita di televisi, pelaku kejahatan seperti tindak pidana korupsi, suap, dan lain sebagainya tidak jarang mereka adalah orang-orang dengan predikat keilmuan yang kompeten di bidangnya, yaitu seseorang yang berpendidikan atau yang pintar secara kognitif di bidangnya.Belum lagi ditambah dengan persoalan tawuran pelajar antar sekolah, pergaulan bebas, narkoba, kasus mencontek masal, dan tingkat bunuh diri pelajar yang cukup banyak. Bukankan para pelajar berstatus sebagai seseorang yang tengah menempuh pendidikan? Bukankah seorang hakim ataupun penjabat yang tersandung kasus korupsi atau suap pun telah mengalami proses pendidikan ini? Lalu mengapa hal di atas dapat terjadi? Apakah sistem pendidikan di Indonesia yang salah?

Secara tegas, fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 bab II pasal 3 adalah Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, sehat, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan pendidikan di Indonesia menurut undang-undang sebelumnya adalah untuk membangun kualitas manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan selalu dapat meningkatkan kebudayaan dengan-Nya sebagai warga negara yang berjiwa Pancasila mempunyai semangat dan kesadaran yang tinggi, berbudi pekerti yang luhur, dan berkepribadian yang kuat, cerdas, terampil, dapat mengembangkan dan menyuburkan sikap demokrasi, dapat memelihara hubungan yang baik antara sesama manusia dan lingkunannya, sehat jasmani, mampu mengembangkan daya estetik, berkesanggupan untuk membangun diri dan masyarakatnya.Begitupun dengan tujuan pendidikan menurut Ketetapan MPR (TAP MPR), di dalamnya selalu termuat tujuan pendidikan yang sejalan dengan pasal satu dalam dasar negara kita, yaitu ketuhanan yang maha esa. Secara tidak langsung, hal ini mengindikasikan bahwa tujuan pendidikan yang sangat utama adalah membentuk kepribadian bangsa yang berkarakter dengan menekankan sisi afektif terutama spiritual questionsnya. Karena bila pendidikan hanya berorientasi untuk mencerdaskan saja, tanpa diimbangi dengan pemupukan moral dan agama, generasi belajar yang ada adalah seperti yang dikemukakan sebelumnya, yaitu cerdas pikiran tapi tidak cerdas secara moral.

Namun masalahnya, pembelajaran dengan pemupukan nilai agama dianggap sepele, hanya sampingan aja. Siswa pun merasa acuh tak acuh dengan pembelajaran agama ataupun moral. Karena kebanyakan cara mengajarkannya hanya teori belaka. Ujung-ujungnya jika ditanya mengenai materi, siswa sangat jago. Namun tetap saja tawuran dan pergaulan bebas merajalela. Setelah dewasa dan sukses memegang jabatan strategis, korupsi dan suap pun dilakukan.

Bukan itu yang sebenarnya diharapkan dalam proses pendidikan. Pendidikan harus memiliki landasan dan pegangan yang jelas. Yaitu penyelenggaraan pendidikan seyogyanya harus memadukan nilai-nilai keilmuan dengan keagamaan. Misalnya ketika seorang guru menjelaskan suatu materi. Guru bukan hanya sekedar bisa menguasai dan menyampaikan materi. Namun seorang guru lebih dari itu. Dia harus mampu mengajarkan aspek lainnya, seperti diselipkan nasihat dan juga penjelasan mengapa penting mempelajari materi ini. Tidak terbatas hanya di pelajaran agama saja. Misalnya di pelajaran sains, seorang guru dapat menyelipkan hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan. Penyadaran diri siswa sebagai seorang makhluk yang diciptakan oleh Tuhan, akan menjadikan siswa menjaga tingkah laku dan sikapnya dalam keseharian. Karena siswa merasa diamati meskipun orang lain tidak mengetahui. Oleh karena itu pengemasan pembelajaran nilai agama dan moral pun harus diperhatikan. Pelajaran yang dianggap siswa kurang menyenangkan, harus dibuat semenarik mungkin agar tidak terkesan bersifat teoritis saja. Misalnya manfaatkan sarana komik edukasi yang notabene komik disukai siswa ataupun dengan media lainnya.

Sehingga peran guru di sini sangatlah penting. Bukan hanya sebagai pengajar yang cukup menyampaikan materi di kelas. Guru harus bisa menjadi agen penyelamat dan sahabat siswa. Pendidikan harmoni dikenal untuk menekankan aspek ini. Cinta damai, saling mengasihi, dan nilai moral lainnya. Begitupun dengan pendidikan holistik, yaitu pendidikan dengan mencakup segala keseluruhan (whole) patut diajarkan. Penanaman inti pendidikan holistik ini patut dikenalkan sejak usia dini. Terlebih dikenal pula istilah pendidikan karakter yaitu totalitas kepribadian atau muara dari kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor, yang sebenarnya ketiga istilah ini mendukung tercapainya tujuan pendidikan yang telah dicanangkan. Tinggal bagaimana mengimplementasikannya sehingga konsep pendidikan yang begitu luar biasa tidak hanya sekadar hal abstrak saja, tapi terwujud dalam sebuah tindakan.

Oleh karena itu, suatu pendidikan dengan penanaman nilai agama dan moral tidak akan berhasil jika tidak ada kerjasama antara siswa dan guru. Akhirnya pepatah yang mengatakan “guru ikhlas mengajar, siswa ikhlas diajar” bisa dijadikan usaha penyadaran dalam melakukan suatu proses pendidikan. Guru menanamkan pentingnya agama dan nilai moral, siswa pun bekerja sama untuk bisa menerimanya. Tidak untuk menyampingkan pelajaran tersebut dibandingkan dengan pelajaran umum agar tidak lagi ada pernyataan bahwa bangsa Indonesia banyak yang tidak jujur, itu salah gurunya. Bahwa banyak kasus korupsi dan suap, itu salah pendidikan yang telah dipelajarinya. Sehingga agama/ moralitas pendidikan Indonesia yang dibutuhkan bangsa dikembalikan pada penyadaran diri pribadi sebagai makhluk tuhan yang merasa diawasi dimanapun. Agar istilah mencari orang pintar itu mudah, tapi mencari orang jujur itu jauh lebih sulit tidak ada lagi.

*Diikutsertakan dalam lomba writing and fotography contest UPI 2011

 

Termodinamika dan Potret Pemuda Saat Ini

Termodinamika dan Potret Pemuda Saat Ini

Oleh: Novianti Islahiah

Selintas, jika kita mendengar kata termodinamika, di benak kita langsung tergambar ilmu kimia dan fisika dengan segudang rumus-rumus yang mampu membuat mumet kepala. Ternyata di balik kemumetan rumus tersebut, ada sebuah fenomena menarik antara hukum tersebut dengan gambaran nyata dalam kehidupan kita. Hal ini berkaitan dengan hukum ke dua termodinamika yang intinya mengatakan bahwasanya entropi alam semesta ini cenderung meningkat.
Sebagian orang yang mungkin belum pernah mendengar kata entropi ini bingung. Sebenarnya entropi sendiri itu apa?
Entropi dapat kita artikan sebagai tingkat ketidakteraturan atau tingkat kekacauan suatu hal. Bila kita kaji lebih dalam, pernyataan mengenai ketidakteraturan yang cenderung meningkat ini sebanding dengan kekacauan para pemuda saat ini.
Pemuda, sebuah kata yang sering kita dengar. Karena tak dinafikan, kemerdekaan Negara Indonesia tidak lepas dari peranannya. Sebuah perjuangan yang terukir jelas, yang tak bisa dipungkiri sejak revolusi didengungkan hingga detik kehidupan saat ini. Perjuangan yang menimbulkan suatu perubahan. Perubahan yang mungkin berorientasi pada kemajuan masa depan atau untuk suatu kebangkitan yang fundamental, layaknya singa yang baru bangun dari tidur.
Bila kita ibaratkan, pemuda adalah sebuah pohon yang lengkap mulai dari akar, batang, daun maupun buahnya. Di mana semua bagian-bagiannya itu benar-benar harus dioptimalkan sehingga mampu menghasilkan produk yang unggul, mampu diunggulkan untuk menghasilkan sesuatu kebanggaan. Pemuda itu orang yang memang sangat dibutuhkan. Tenaganya yang masih sangat kuat, diharapkan mampu mengubah negeri kelam menuju mentari yang cerah. Pemikirannya yang masih segar mampu memunculkan ide dan inovasi yang luar biasa cemerlang.
Hanya saja peranan pemuda itu seperti terselimuti dengan fakta-fakta yang terjadi di masa kini. Oknum-oknum yang tergolong masih belia ini berkedok muka manis dengan melakukan serangkaian kegiatan yang mencoreng nama pemuda sendiri. Penjambretan, penganiayaan, pemerkosaan, bahkan sampai berani memutilasi. Gilanya, mereka masih tenang dan merasa tidak bersalah. Mereka hanya berkata,”Gaul, Man.” Bahkan ada yang berkata, “Lu jadul kalau lu gak ikutan kayak kita.” Na’udzubillahimindzalik.
Banyak pergeseran nilai terjadi. Generasi muda terpengaruh film-film porno, adegan kekerasan, sinetron kacangan, sampai film hantu siluman. Semula nilai pemuda sebagai estafet penerus bangsa, malah menjadi seorang bandit sampah masyarakat. Ironis, sangat kontras dengan harapan yang terpupuk pada pemuda umumnya.
Jelaslah bahwa hukum termodinamika ini bukan hanya untuk menggambarkan keadaan zat. Tapi para pemuda pun memiliki kecenderungan entropi untuk terus meningkat ini. Kekacauan yang semakin meningkat, yang merupakan salah satu tanda semakin dekatnya hari kiamat.
Ada sebuah kisah menarik yang terjadi di salah satu universitas di Bandung. Seorang pemuda yang notabene harus mampu menjalankan peranannya, malah mengingkari kodratnya. Sebut saja homoseks. Gilanya mereka hanya berdalih, itu adalah takdir. Dan luar biasa gila, cita-cita terbesarnya adalah ingin datang ke pesta homo terbesar yang sering diadakan rutin setahun sekali. Cita-cita mulia yang seharusnya untuk pengabdian agama, bangsa dan negara pun pupus oleh cita-cita yang aneh bin error.
Lalu bagaimana kita seharusnya sebagai pemuda masa kini?
Pemuda masa kini bukanlah pemuda yang terlebur karena berbaur. Tapi mereka mampu menjadi pemain yang diandalkan dalam setiap kegiatan. Renungi bagaimana kisah para ashabul kahfi. Pereka sosok pemuda yang luar biasa. Bagaimana kita mengkaji pengabdian Ali bin Abi Thalib. Keikhlasan, keberanian, dan yang luar biasa ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Dan masih banyak kisah yang lainnya. Potret pemuda saat ini berbanding terbalik dengan kisah pemuda zaman Rasulullah saw. Pemuda saat ini lemah, melankolis, mudah menyerah, materialis, hedonis, tidak kreatif, individualis, dan masih banyak sifat-sifat yang lainnya.
Namun, tak dapat dipungkiri tidak semua pemuda saat ini seperti itu. Masih ada pemuda yang konsisten dan istiqamah dalam beribadah dan muamalah. Pemuda ini dapat kita identikkan dengan hukum ke tiga termodinamika. Bahwa zat murni entropinya adalah nol. Yang artinya tingkat kekacauannya itu cenderung tidak ada. Jiwanya stabil, keadaan ini disebut fitrah. Keadaan orang yang terlahir dengan keadaan suci.
Dari hukum termodinamika tersebut, ternyata ada segudang ibrah yang bisa kita kaji. Lalu ingin mengikuti hokum termodinamika manakah kita? Termodinamika dua atau tiga? Itu kembali kepada pribadi masing-masing. Inginkah kita menjadi pemuda andalan, ataukah jadi pemuda yang dibenci orang? Wallahua’lam Bisshawaab.

2 pemikiran pada “Essay dan Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s